November 23, 2020

Fall In Love At First Kiss (2019)

Lupakan “Jatuh cinta pada pandangan pertama”. Seperti sudah kita tahu dari judulnya, tokoh utama kita, Yuan Xiang Qin (Yun Lin alias Jelly Lin), jatuh cinta pada ciuman pertama, yang bahwasanya terjadi tidak sengaja. Di hari pertama sekolah, ia dan Jiang Zhi Shu (Talu Wang) bertabrakan. Zhi Shu menangkap Xiang Qin, menariknya semoga tak terjatuh, kemudian bibir mereka bertemu. Secepat dan semudah itu. Tapi tidak demikian dengan jalan yang Xiang Qin tempuh semoga hati keduanya bisa bertemu.

Sebab mereka amat berseberangan. Xiang Qin tergabung dalam kelas F yang berisi murid-murid biang onar bernilai jeblok di mana membersihkan sarang lebah jadi rutinitas sehari-hari, sedangkan Zhi Shu yaitu jenius dengan IQ 200 yang bahkan tampak menonjol di antara siswa-siswi kelas A. Ketika Zhi Shu berasal dari keluarga kaya pemilik perusahaan ternama, wajah Xiang Qin menghiasi informasi televisi sehabis rumah reyotnya roboh.

Begitu tergila-gila, Xiang Qin mengoleksi semua benda yang memajang wajah Zhi Shu. Kegilaan itu bukan menjangkit ia seorang. Seluruh siswi di sekolah bersikap serupa, semakin mengecilkan peluangnya merebut hati si laki-laki idaman. Hingga suatu hari, mitra usang sang ayah mengajak mereka tinggal di rumahnya hingga semua persoalan selesai. Bisa ditebak, mitra usang tersebut yaitu ayah Zhi Shu. Ya, keduanya sekarang tinggal satu atap.

Fall in Love at First Kiss bukan romansa di mana aksara utamanya terpikat pada lawan jenis populer, hanya untuk jadinya menyadari, sosok yang nrimo mencintainya (dan juga ia cintai) yaitu seorang biasa yang selalu ada di dekatnya. Seorang murid dari kelas F (Kenji Chen) selalu mengejar Xiang Qin, tapi elemen itu hanya berperan menambah kadar humor. Fall in Love at First Kiss yaitu sepenuhnya kisah mengenai iman diri, berusaha keras mendapat cinta meski ditentang seluruh dunia.

Mungkin beberapa pihak bakal beropini kandungan kisah film ini merupakan kemunduran representasi terhadap  wanita di layar lebar. Tapi anggapan itu terasa ibarat sebuah penggambangan. Sebab apa yang Xiang Qin lakukan yaitu mengejar impian, dan tidak persoalan jikalau mimpi itu berbentuk cinta kepada lawan jenis. Lagipula beliau tak hingga menyia-nyiakan hidup kemudian berakhir sebagai budak cinta tanpa nyawa. Xiang Qin bahkan termotivasi memperbaiki diri, berguru keras demi meningkatkan nilai ujian, hingga jadinya meraih pekerjaan yang diinginkan.

Masalah bahwasanya dari film ini justru dipicu sikap Zhi Shu. Dia merupakan laki-laki cuek yang enggan mengatakan perasaan sesungguhnya, sehingga tak jarang ia tampak seolah begitu membenci Xiang Qin. Tapi perbuatannya seringkali terlalu kejam, hingga mengancam peluang tercurahnya pertolongan penonton bagi cinta mereka. Untunglah ada Yun Lin lewat kepiawaian menampilkan keluguan dan kekonyolan (wajar, mengingat ia mengawali karir lewat The Mermaid-nya Stephen Chow), mengakibatkan Xiang Qin aksara likeable. Cuma penonton tanpa hati yang berharap Xiang Qin gagal, apalagi sehabis melihat tangisan sang gadis.

Karena hanya melihat poster tanpa menyaksikan trailer, saya terkejut mendapati fakta bahwa Fall in Love at First Kiss rupanya sebuah komedi absurd. Penggambaran situasi sekolah serta penokohan dominan karakternya dikemas amat komikal. Pemilihan gaya itu sanggup dipahami, lantaran filmnya sendiri merupakan penyesuaian manga Itazura na Kiss karya mendiang Kaoru Tada, yang sebelumnya sudah menjadi materi penyesuaian bagi 8 judul serial televisi dari 4 negara (Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Thailand), 25 episode anime, dan 3 film layar lebar. Wajar dikala sutradara Yu Shan Chen (Our Times) ingin mempertahankan gaya tersebut, termasuk visual penuh warna cerah yang memanjakan mata.

Tidak semua humornya bekerja efektif, lantaran duo penulis naskahnya, Chi-Jou Huang dan Yung-Ting Tseng (Our Times), menentukan mengedepankan kuantitas ketimbang kualitas, mendorong saya berharap filmnya mau beristirahat sejenak dalam upayanya memancing tawa dan menambah fokus di paparan drama untuk membangun rasa. Menekan kadar humor bukan saja mempunyai kegunaan memberi penonton waktu mengambil napas, pula memberi alurnya ruang  mempresentasikan kebersamaan dua tokoh utama.

Akhirnya tersisa setumpuk aspek yang berpeluang menyetir emosi namun urung terjadi jawaban minimnya eksplorasi. Contohnya dikala ibu Zhi Shu (Christy Chung) berkata bahwa sehabis kehadiran Xiang Qin di rumah, puteranya mulai berubah. Perubahan yang tak pernah benar-benar penonton saksikan (ingat, konteks pernyataan sang ibu yaitu Zhi Shu di rumah, bukan di luar). Pun Fall in Love at First Kiss tak bisa total memaksimalkan wangsit menempatkan dua tokoh utama di satu rumah tatkala interaksi keduanya di sana terhitung minim.

Tapi seiring waktu bergulir, filmnya mulai membayar lunas hal-hal yang terbuang percuma. Akhirnya kita disuguhi beberapa interaksi Xiang Qin dan Zhi Shu. Hadir sedikit terlambat, namun efeknya tidak main-main. Berkebalikan dengan humornya, momen romantis dua protagonis memang rendah soal kuantitas, tapi berkualitas tinggi berkat sensibilitas sang sutradara memainkan suasana sarat asmara. Puncaknya yaitu 5-10 menit terakhir yang menciptakan kelemahan filmnya (juga kesalahan Zhi Shu) termaafkan sekaligus bisa melelehkan hati.