November 30, 2020

Fast & Furious Present: Hobbs & Shaw (2019)

Kita tahu, semenjak Fast Five, The Fast and the Furious nyaris sepenuhnya meninggalkan akar balap mobilnya untuk mengambil rute blockbuster berskala besar seputar perjuangan menyelamatkan dunia. Tapi apa yang mesti dilkukan semoga Fast & Furious Presents: Hobbs & Shaw (atau disingkat “Hobbs & Shaw”) selaku spin-off agar tampil beda dibanding seri utama? Jawabannya sederhana: tukar porsi antara stunt mobil absurd dengan sabung jotos. Bukan masalah, alasannya ialah publik mengasosiasikan brand “The Fast and the Furious” dengan dua hal, yakni tema keluarga dan setidaknya ada satu-dua set piece aksi over-the-top yang menyertakan mobil. Film ini punya keduanya.

Ditulis oleh Chris Morgan sang penulis langganan bersama Drew Pearce (Iron Man 3, Hotel Artemis), plotnya serupa dengan judul-judul sebelumnya. Ada virus berbahaya, teroris yang ingin menguasainya, dan para satria harus mencegahnya. Pemerintah meminta proteksi Luke Hobbs (Dwayne Johnson) dan Deckard Shaw (Jason Statham), tapi meski keduanya disebut sebagai “pelacak terbaik” misi kali ini takkan semudah itu.

Pertama, lantaran mereka tidak akur, selalu bertengkar, melontarkan hinaan, dan saling mengkhianati (khususnya Shaw). Kedua, virus tersebut ada dalam badan Hattie (Vanessa Kirby), distributor MI6 sekaligus adik Deckard (Ya Tuhan, ada berapa bersaudara bahwasanya di keluarga Shaw?!), yang dituduh berkhianat. Ketiga, lawan mereka ialah “Black Superman”.

Begitulah Brixton (Idris Elba) menyebut dirinya. Dia memang kolam Superman. Berkat teknologi cyber-genetic yang ditanam dalam tubuhnya, Brixton mempunyai kekuatan fisik di atas insan normal. Bahkan matanya dipersenjatai teknologi untuk mengkalkulasi serangan musuh. Terdengar gila? Tunggu hingga anda melihat motornya. Motor otomatis yang sanggup bergerak sendiri serta bisa berubah bentuk layaknya robot dari Transformers. Itulah yang saya ingin selalu temukan di seri The Fast and the Furious. Semakin menjauhi realita, semakin baik.

Kelemahan justru hadir dari humornya. Sebagai buddy movie, Hobbs & Shaw memang butuh banyak celetukan menggelitik. Johnson dan Statham (plus beberapa cameo mengejutkan) berusaha keras tampil lucu, namun apa daya, materinya memang kurang kuat. Kelakar komedik bukan saja soal menciptakan abjad melemparkan usikan abstrak sesering mungkin (yang mana film ini lakukan). Dibutuhkan pembangunan, kecermatan menentukan kata, pula harus memperhatikan timing juga berapa usang momen itu berlangsung (yang mana tidak film ini lakukan). Setidaknya beberapa tawa tetap bisa diproduksi, salah satunya lewat sebuah humor referensial mengenai salah satu film Jason Statham (tebak film apa).

Beruntung, humor bagi film ini sifatnya sebatas pernak-pernik. Suguhan utamanya tetaplah aksi, dan elemen tersebut tidak mengecewakan. Selain punya Dwayne Johnson dan Jason Statham sebagai duet simpulan hidup pemain film utama, David Leitch (John Wick, Atomic Blonde, Deadpool 2) pun duduk di dingklik sutradara, sehingga tidak mengejutkan ketika Hobbs & Shaw jadi yang terbaik dalam seri The Fast and the Furious perihal koreografi laga.

Sekitar 75% aksinya berupa perkelahian tangan kosong, termasuk epic tag team penuh gerak lambat di bawah guyuran hujan selaku klimaks. Leitch memastikan, penonton bisa melihat terperinci insiden di layar. Siapa melawan siapa, gerakan apa yang karakternya lakukan, hingga di mana pukulan dan tendangan (atau senjata darurat apa pun) mendarat.

Perbedaan gaya bertarung Johnson dan Statham juga berhasil Leitch tekankan. Jika Johnson cenderung berangasan dan berisik (kadang mengingatkan akan masa kejayaannya di atas ring sebagai The Rock), maka Statham lebih taktis. Dan di antara kedua alpha male itu, ternyata Vanessa Kirby tak kalah bersinar. Selain menjalin chemistry kuat nan berwarna dengan Johnson-Statham, sang aktris menyebabkan Hattie sosok femme fatale berbahaya yang bukan sebatas suplemen di tengah parade testosteron.

Kaya akan sabung jotos, bukan berarti Hobbs & Shaw tanpa stunt kendaraan beroda empat gila. Seperti sudah trailer-nya ungkap, salah satu bab film ini bakal mengambil daerah di Samoa, yang merupakan kampung halaman Hobbs (satu lagi benang merah ke tema keluarga). Di situlah kita bisa menyaksikan agresi seru yang melanggar semua aturan fisika sekaligus pembuktian jikalau Leitch pun bisa menangani spectacle over-the-top. Walau sayang, kemunculannya di trailer mengurangi daya kejut adegan itu.