October 29, 2020

Film Stars Don’t Die In Liverpool (2017)

Gloria Grahame meninggal dunia hampir 37 tahun lalu. Pertama, ia tidak tutup usia di Liverpool. Kedua, apakah ia benar-benar tiada? Saya bukan bicara soal teori konspirasi, melainkan legacy. Bahwa bintang layar lebar, khususnya dari masa keemasan Hollywood, akan selalu hidup berkat warisan yang ditinggalkan. Marilyn Monroe dan rok yang tertiup angin, James Dean dengan perangai sampaumur pemberontak, sementara di mata Peter Turner, Gloria yaitu superstar yang singgah sejenak dalam kehidupan serta rumahnya yang sederhana, sebagaimana digambarkan pembiasaan memoir berjudul sama buatan Turner ini. 

Gloria diperankan Annette Bening dalam replikasi bunyi meyakinkan yang urung jatuh menjadi imitasi murahan. Bening memberi nyawa bagi pergulatan batin sang aktris, yang semenjak perfilman memasuki era suara, kehilangan popularitas. Dia coba bertahan sebagai pemain teater sembari tinggal di apartemen kecil, yang juga daerah kali pertama bertemu dengan Peter (Jamie Bell). Peter juga seorang aktor, meski sebatas di beberapa pertunjukan kecil. Dia tahu Gloria yaitu aktris film. Namun bahwa Gloria pernah begitu dipuja bahkan menang Oscar urung Peter ketahui. 
Toh jadinya ia tidak peduli. Dikaguminya pesona si aktris senior di layar lebar kala menyaksikan Naked Alibi (1954). Gloria turut berada di sana, tapi penonton lain tak sadar jikalau perempuan bau tanah di dingklik penonton dan Marianna yang menarik hati ketika menyanyikan Ace in the Hole merupakan orang yang sama. Untuk publik luas, Gloria Grahame kekal sebagai sosok perempuan sensual. Itu testamen yang beliau tinggalkan bagi kultur populer. Sedangkan Gloria di masa bau tanah dengan penyakit menggerogoti terekam di memori Peter. Gloria di fase terlemah, namun paling jujur, apa adanya tanpa keglamoran, sekedar insan yang tengah jatuh cinta.

Berpusat pada penyakit Gloria selain romansa beda generasi, sejatinya Film Stars Don’t Die in Liverpool mengandung bekal dasar suatu disease porn, tapi sutradara Paul McGuigan menolak mengedepankan melodrama. Progresi alur tersusun atas pembicaraan bernuansa kontemplatif, mewakili melankoli Peter mengenang perjalanan cintanya bersama Gloria. Namun ketika Matt Greenhalgh bisa menuliskan dialog-dialog kaya warna dalam skenario, sebutlah sewaktu Gloria mendeskripsikan persalinan sebagai “small aliens pop out from between your legs“, pengadeganan McGuigan terlampau dingin, hambar, miskin rasa di dominan bagian. 
Pengecualian layak diberikan untuk dua momen: ending dan sebuah “twist” wacana hubungan kedua tokoh utama. Shot terakhir yang dibumbui bunyi proyektor film selaku penegasan keabadian Gloria di layar perak tersaji indah. McGuigan, yang angkat nama lewat film-film menyerupai Lucky Number Slevin dan Push, memang gemar pamer gaya, tak terkecuali di drama “kecil” ini. Twist yang saya sebut pun berkaitan dekat dengan keengganan McGuigan menggunakan narasi linear. Dia ingin bergaya. Gerak alur maju-mundur antara masa sekarang dan masa kemudian yang hadir silih berganti pun dipilih. 

Sayangnya, tanpa dibarengi kemampuan bercerita mumpuni, muncul akhir fatal. Lompatan antar-fase terjalin kurang rapi. Alhasil, dinamika atau guratan emosi justru jarang mencuat, alasannya yaitu perhatian kita cenderung tercurah untuk menyusun keping-keping kisah yang tampil tak berurutan. Paul McGuigan mengajak otak penonton bekerja, ketika Film Stars Don’t Die in Liverpool semestinya memicu hati kita. Setidaknya Annette Bening selalu menyedot atensi laksana magnet berkekuatan tinggi.