October 25, 2020

Filosofi Kopi 2: Ben & Jody (2017)

Luar biasa apa yang dilakukan Angga Dwimas Sasongko beserta segenap tim dengan Filosofi Kopi. Tatkala film pertama hanya mengumpulkan sekitar 229 ribu penonton, perjalanan tak lantas berhenti. Alih-alih menyatakan gagal, merk Filosofi Kopi dikembangkan lebih jauh. Berangkat dari dongeng pendek karya Dewi “Dee” Lestari, sekarang kita mendapati dibukanya gerai kopi, prekuel berupa web series Ben & Jody, serta sandiwara radio selaku jembatan penghubung film pertama dengan kedua. Hasilnya nyata. Tiket pemutaran hari pertama Filosofi Kopi 2: Ben & Jody ludes di banyak sekali kota. Ikut berkembang pula kisahnya, dari pemaknaan hidup dalam cerpen Dee menuju soal cinta, sahabat, keluarga, hingga kompleksitas dunia bisnis. 

Berbagai tema diangkat oleh trio penulis naskah Jenny Jusuf, M. Irfan Ramly dan Angga Dwimas Sasongko, termasuk seputar betapa hidup diisi kedatangan dan kepergian, suatu tema yang setia hadir sepanjang durasi, pun berperan memberi momen paling emosional dan intisari konklusinya. Tapi semua berawal kala dua tahun sehabis memutuskan mengendarai kombi berkeliling Indonesia menyuguhkan kopi terbaik, Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto) menemui jalan buntu. Mulai ditinggal karyawan, pemasukan tak seberapa, hingga kegamangan jawaban merasa tanpa tujuan jadi beberapa sebab. Poin terakhir sejatinya mengundang kejanggalan.  
Ben meragukan “destinasi” hidup berkeliling menjual kopi, menyebut keduanya perlu meninggalkan zona nyaman. Artinya, semua kasus dipicu pencarian jawaban karakternya atas tujuan. Namun filmnya lalai memperlihatkan jawaban kecuali “menemukan dirinya”, serupa film pertama, mengesankan stagnansi yang sebaiknya tak dimiliki sekuel selaku proses berkelanjutan. Takkan jadi duduk kasus bila filmnya tegas memposisikan diri sebagai kisah “kepulangan” yang sejatinya turut membentuk resolusi di akhir, sayangnya banyak hal-hal lain ikut campur aduk. Sedangkan dikala Jody berkata bahwa bisnisnya tidak berjalan, kita tak melihat kesulitan finansial dalam Filosofi Kopi. Ditunjang alasan dipaksakan itu, filmnya membawa Ben dan Jody berusaha membuka kembali kedai filosofi kopi, kali ini dibantu investasi dari Tarra (Luna Maya), juga barista gres berjulukan Brie (Nadine Alexandra). Benturan dua eksklusif berbeda (Ben si idealis total dan Jody si pebisnis tulen) jadi ujian seiring kasus eksklusif yang turut menghampiri.

Melalui film kedua, Filosofi Kopi tak lagi banyak berfilosofi soal hidup dengan kopi. Tentu kalimat quotable bermakna macam “Setiap hal yang punya rasa selalu punya nyawa” tetap menghiasi, namun serupa judul awalnya yakni Ben & Jody (“Filosofi Kopi” ditambahkan sebagai penegas brand), bromance dua tokoh utama makin dikedepankan. Dinamika persahabatan Ben dan Jody masih digambarkan lewat saling ejek dibarengi rentetan kalimat seenaknya yang mengalir bebas dari lisan mereka. Rio Dewanto dan Chicco Jerikho tampil bersenjatakan chemistry meyakinkan. Chicco menciptakan keras kepalanya Ben tak menyebalkan berkat gaya asyik, sementara Rio menjaga biar Jody tidak ditenggelamkan tingkah polah sang sahabat. Di samping keduanya, ada Luna Maya yang solid kala melakoni porsi emosional, juga Nadine Alexandra dengan kekokohan tersembunyi di balik diamnya Brie. 
Persahabatan sejati dibangun oleh pertengkaran yang menyatukan. Naskahnya disusun menurut prinsip itu, tetapi sewaktu film pertama (memenangkan Piala Citra) punya pedoman konflik mulus, Ben & Jody menjadikannya obligasi, melemparkan benturan beruntun yang daripada menyatu, baga keping-keping terpisah yang berlebih kuantitasnya. Terlampau seringnya perpindahan lokasi di mana acap kali satu kawasan hadir sambil kemudian dengan cepat makin menyulitkan pergerakan alur rapi. Pun naskahnya mempunyai kesalahan fundamental berbentuk sebuah kebetulan sebagai kejutan sekaligus titik balik perjalanan karakternya. Sebab kebetulan yaitu cara paling tak elegan (kalau enggan disebut malas) guna menggerakkan cerita, terlebih bila merupakan fase vital pengembangan karakter. 

Andai bukan lantaran pengadeganan Angga, sulit mendapatkan kelemahan tuturan drama di atas. Sang sutradara diberkahi sensitivitas merangkai momen dramatis, yang daripada mengandalkan metode manipulatif berupa tangisan meraung ditemani musik bergelora, Angga justru “membisukan” suasana. Keheningan menyengat ini memunculkan nuansa intim yang meniru pengaruh emosi. Bagaimana para tokoh diposisikan sebagai insan yang sedang “merasakan” ketimbang mesin pengundang haru penonton termasuk salah satu kunci. Angga paham betul menyerupai apa kehilangan atau sakit hati, sehingga visualisasi momen punya ketepatan di tatanan rasa. Ditemani formasi lagu musisi indie penyegar telinga, Filosofi Kopi 2: Ben & Jody tetap perjalanan menyenangkan penuh hati, walau kini, kopi itu tak senikmat dulu.