October 25, 2020

Frantz (2016)

Frantz punya setting tahun 1919 alias setahun pasca Perang Dunia I berakhir, merupakan pembiasaan bebas dari naskah teater L’homme que j’ai tué karya Maurice Rostand pula versi Bahasa Inggrisnya yang masing-masing dipentaskan pada 1930 dan 1931, pula sebuah remake “tidak sengaja” untuk film rilisan 1932, Broken Lullaby   François Ozon tak menyadari eksistensi film karya Ernst Lubitsch itu kala membuat Frantz   yang dibentuk menurut dua pertunjukan tersebut. Singkatnya, film ini ialah dongeng dari masa lampau. Biar demikian, jarak puluhan tahun rupanya bukan jurang pemisah. Frantz justru mewakili kondisi mencemaskan kala xenophobia menguasai masyarakat dunia sekarang. 

Quedinburg, Jerman, 1919. Anna (Paula Beer) kehilangan tunangannya, Frantz (Anton von Lucke) di medan perang. Kini ia tinggal di rumah kedua orang bau tanah Frantz, gotong royong coba beranjak dari duka. Sampai tiba Adrien (Pierre Niney), mantan prajurit Prancis yang mengaku sebagai sobat Frantz dari Paris. Adrien rutin meninggalkan bunga di makam Frantz kemudian mengunjungi rumah keluarganya. Walau ayah Frantz, Doktor Hoffmeister (Ernst Stötzner) membenci dirinya   sebagaimana banyak orang bau tanah di Jerman yang merasa orang Prancis membunuh putera mereka di peperangan   tidak demikian dengan sang ibu, Magda (Marie Gruber) dan Anna yang menyambut Adrien ramah, mengundangnya ke rumah.
Sikap awal Hoffmeister, kemudian tindak protes rekan-rekannya di kafe kala mendapati sang Doktor mulai melunak pada Adrien, meski berkonteks Perang Dunia I, nyatanya begitu bersahabat di kondisi sosial masyarakat kini. Kedekatan berbuah ikatan rasa menyaksikan ragam bencana itu muncul, alasannya ialah menyerupai kita tahu, kebencian atas “antek asing” tengah menyerang seluruh dunia (berlandaskan agama di Indonesia, white supremacy di Amerika, dan lain-lain). Melalui naskahnya, Ozon dan Philippe Piazzo mengangkat sisi kemanusiaan berlandaskan kenangan serta korelasi para tokoh dengan Frantz. 

Membicarakan humanisme terkait peperangan otomatis mencuatkan rasa anti-war yang dalam film ini diposisikan lembut melatari perilaku karakter. Ozon tak lantang apalagi kasar menentang perang, tapi diajaknya penonton memahami, merenungkan perspektif lain. Contoh terbaik terletak pada monolog Doktor Hoffmeister mengenai ironi selebrasi kemenangan perang di antara setumpuk kematian. Bagi Ozon, tidak peduli meski terjadi ketika perang, janjkematian tetap kematian, menghadirkan kehilangan dan sedih bagi yang ditinggalkan, bukan elu-elu heroisme didasari semangat nasionalisme. Mewakili gagasan ini ialah kerapnya lukisan Le Suicidé karya Edouard Manet diperbincangkan. Oleh Manet, lukisan tersebut jadi luapan ekspresi bahwa janjkematian di karya seni tak melulu perihal pengorbanan atau heroisme. Kematian ialah kematian.
Itu pula tujuan dua momen saat Adrien mendengar warga Jerman menyanyikan Deutschlandlied, sementara Anna di Prancis terjebak di tengah semangat rakyat sekitar mengumandangkan La Marseillaise. Lagu kebangsaan ketika/pasca perang biasanya menghadirkan gemuruh rasa usaha kental nasionalisme. Namun di sini justru kecanggungan bercampur kepedihan yang terasa. Bayangkan anda menjadi Adriane, terluka tanggapan perang, mendengar bait “Germany above all, Above all in the world, atau sebagai Anna, mendapati “The roar of those ferocious soldiers. They’re coming right into your arms. To cut the throats of your sons, your women” dinyanyikan sehabis kekasih tercintanya meregang nyawa tanggapan desing peluru. Dan keduanya mengalami itu di daerah di mana mereka dipandang penuh kebencian tanggapan status kewarganegaraan. 

Turut bicara soal white lie membawa Frantz pada serangkaian kejutan mengenai belakang layar para tokoh, khususnya yang ditutupi oleh kebohongan mereka. Takkan jadi belakang layar mengejutkan apabila anda jeli memperhatikan gerak-gerik karakter. Namun toh menu twisty bukan tujuan utama François Ozon, melainkan drama seputar jiwa-jiwa yang mencari kedamaian, berusaha melangkah pergi dari kekangan sedih masa lalu. Frantz tersaji melankolis, bergaya visual hitam-putih yang sesekali jadi berwarna tatkala flashback, atau tepatnya ketika kebahagiaan hasil memori indah perihal sosok tercinta merasuki karakternya. Pula dongeng saling menguatkan antar insan guna menghilangkan pilu sampai tendensi bunuh diri yang dirangkai lembut nan elegan, sebagaimana sinematografer Pascal Marti perlahan menggerakkan kameranya.