December 3, 2020

Frozen 2 (2019)

Sekuel dari film animasi terlaris kedua sepanjang masa ini menegaskan bahwa di periode keemasan modernnya, pendekatan yang Walt Disney terapkan di animasi yaitu penggabungan kekhasan fantasi negeri dongeng mereka dengan high concept dengan gelora emosi ala Pixar. Kembali ditulis oleh Jennifer Lee, yang juga masih menyutradarai bersama Chris Buck, Frozen 2 mengeksplorasi mitologi yang cukup kompleks apalagi bagi penonton anak, sambil tetap mengaduk-aduk rasa dalam dongeng berdaya imajinasi tinggi.

Cinta, memori, dan alam. Tiga elemen tersebut diceritakan saling terkait. Cinta menyimpan memori, alam pun demikian. Manusia mesti menyayangi alam yang sejatinya dipenuhi cinta. Kurang lebih begitu. Cukup sulit menjabarkan itu ke anak, lantaran bagi orang pandai balig cukup akal pun, pemaparan mitologi Frozen 2 takkan bisa dicerna segampang itu. Naskahnya memang amat ambisius, hingga kerap kelabakan sendiri menyusun keping-kepingnya, walau kemampuan Jennifer Lee memperluas mitologi sambil mengaitkannya dengan beberapa poin dongeng dari film pertama patut dipuji.

Tiga tahun selepas film pertama, Elsa (Idina Menzel) bisa membawa perdamaian sebagai Ratu Arendelle, memerintah ditemani adiknya, Anna (Kristen Bell), yang kekerabatan romansanya dengan Kristoff (Jonathan Groff) pelan-pelan mulai beranjak ke jenjang lebih serius, setidaknya dari sisi sang pria. Semua bahagia, hingga Elsa mulai mendengar bunyi aneh memanggilnya dari Utara. Suara yang menggiring Elsa, Anna, Kristoff, Sven, dan Olaf (Josh Gad) mengarungi petualangan guna mencari tahu asal-usul kekuatan sihir es Elsa.

Sepanjang perjalanan, peristiwa-peristiwa magis ditemui, dan rentetan keajaiban itulah yang agak kesulitn dirangkai oleh Jennifer Lee. Apa? Mengapa? Bagaimana? Tiga pertanyaan tersebut kerap mencuat dan tak selalu berhasil dijabarkan dengan rapi. Hal lain yang banyak mengisi perjalanan filmnya yaitu adegan musikal. Saya mendengar keluhan bahwa Frozen 2 terlalu sering bernyanyi, tapi bukan itu kasusnya. Silahkan hitung. Jumlah sekuen musikal film pertama dan kedua sama-sama delapan buah. Hanya saja, penempatannya, terlebih di awal, cukup berdekatan sehingga terkesan penuh sesak.

Tapi itu tidak jadi soal, lantaran ini film musikal. Selama tiap lagu membantu penelusuran dongeng dan eksplorasi karakter, sah-sah saja mau sebanyak apa pun. Dan Frozen 2 berhasil melaksanakan itu. Benar bahwa selain Into the Unknown (dengan cerdik sekelumit nadanya terus diputar selaku bab penting dongeng sehingga simpel melekat di ingatan) lagu-lagunya belum sekuat film pertama, namun itu dikarenakan mengejar kualitas “kelas dewa” pendahulunya yaitu kemustahilan.

Tapi ketertinggalan tersebut bisa dibayar lunas oleh pengadeganan indah nan kreatif. Lost in the Woods yang kolam parodi video klip pop romantis masa 80-90an, kejenakaan When I Am Older, lalu tentunya Into the Unknown dan Show Yourself selaku titik puncak presentasi visual dengan sedikit napas surealisme, yang mewakili proses Elsa selangkah demi selangkah bertransformasi dari Ratu sakti menjadi “ethereal, magical, superior being”. Penurunan kualitas cuma terjadi pada The Next Right Thing, sebuah balada klise dengan visualisasi yang nampak kerdil dibanding para kompatriotnya.

Mengulik lebih jauh departemen visualnya, di luar adegan musikal, kualitas animasi Frozen 2 begitu baik, pun sempat menyentuh ranah photorealistic. Paling memikat yaitu bagaimana animasi film ini menghidupkan air. Entah gulungan ombak raksasa atau ratusan gelembung yang melayang dari balik lantai kapal. Silahkan cari animasi lain yang bisa mengkreasi air, yang notabene bukan elemen yang simpel dianimasi, senyata film ini.

Selain soundtrack, scoring garapan Cristophe Beck pun menghadirkan keindahan lain yang seolah mewakili harmoni alam, yang begitu indahnya, hingga bisa mengaduk-aduk perasaan. Sementara terkait Elsa, Frozen 2 ibarat kulminasi pesan empowerment yang dibawa karakternya. Berulang kali, saya dan banyak penonton bersorak merayakan perempuan tangguh satu ini beraksi kolam superhero. Dari sosok bermasalah yang ditakuti, Ratu, pahlawan super, hingga karenanya menjadi seorang Dewi. Tidak ada alasan untuk tidak menyayangi Elsa.

Sejak awal, Frozen sudah mengusung pesan empowerment, termasuk kala mendobrak formula prince charming di film pertama. Tapi tuturannya seimbang, tidak serta merta memukul rata dengan melukiskan semua laki-laki secara negatif. Kedua gender saling menyokong. Contoh terbaik yaitu dikala Kristoff menolong Anna dari kejaran sekelompok raksasa. Dia hanya berkata “I’m here. What do you need?”. Dari kalimat singkat itu, bukan agresi heroik Kristoff yang ditonjolkan, melainkan bagaimana ia hanya laki-laki sederhana yang siap sedia mendukung cintanya.

Semakin jauh kisah berjalan, Frozen 2 semakin terkesan kelam, tapi gelak tawa serta teriakan sebagai lisan rasa gemas tetap berhasil diproduksi. Olaf masih abjad pendukung yang dicintai penonton, dan kali ini, seekor kadal api menggemaskan ikut berpartisipasi mencuri hati. Bicara mengenai karakter, menarik disimak bahwa Frozen 2 tidak punya antagonis, dan memang tidak membutuhkannya. Ini bukan kisah kebaikan melawan kejahatan. Ini perihal perjuangan menemukan harmoni antara internal insan dengan semesta.