October 31, 2020

Game Night (2018)

Game Night yaitu film yang lucu. Game Night adalah film yang gila. Game Night yaitu film yang penuh kejutan. Game Night yaitu film yang penuh kejutan absurd nan lucu. Berapa komedi high profile Hollywood bisa memenuhi deskripsi di atas? Tidak banyak. Pada kala modern—di mana komedi arus utama kerap terlalu malas sementara perwakilan ranah indie yang dielu-elukan terkadang sibuk melontarkan kritik hingga lupa melucu—The Hangover (2009) dan Horrible Bosses (2011) masuk kriteria tersebut. Secara (tidak) kebetulan, duo sutradara Game Night, John Francis Daley dan Jonathan Goldstein, yaitu orang-orang di balik terciptanya naskah film yang disebut belakangan.

Max (Jason Bateman) dan Annie (Rachel McAdams) merupakan pasangan suami istri penggila permainan. Keduanya selalu menyikapi permainan secara serius layaknya kompetisi, termasuk ketika menggelar game night yang dilakukan tiap final ahad bersama beberapa sahabat. Tapi malam permainan kali ini berbeda. Brooks (Kyle Chandler), saudara kandung Max yang lebih tampan juga kaya—superioritas itu menciptakan Max tertekan hingga kualitas spermanya menurun—tengah berkunjung kemudian mengusulkan untuk meningkatkan tantangan permainan. Rupanya ada perusahaan yang mengatakan jasa permainan tugas interaktif bertema misteri.
Saya selalu bersemangat dan sedikit intens kala memainkan cluedo, jadi saya tak sulit membayangkan antusiasme para tokohnya ketika permainan serupa (seolah) dibawa ke dunia nyata. Begitu antusias, mereka tidak menyadari ketika penculikan sungguhan terjadi di depan mata, menduga itu bab dari skenario semata. Filmnya sendiri butuh waktu guna merambat naik, tapi sekalinya menghentak Game Night enggan menginjak pedal rem dan saya pun enggan malam permainan ini cepat berakhir.

Balutan komedi hitamnya digelar total tanpa menahan diri, sehingga cipratan darah maupun maut brutal pun membentuk situasi menggelitik. Salah satu insiden berdarah yaitu ketika Annie tidak sengaja menembak tangan Max. Berbekal peralatan seadanya—namun berharga mahal—yang dia beli di minimarket, Annie berusaha merawat luka sang suami. Komedi medioker hanya bakal menggunakan ekspresi kesakitan dan jijik aktornya. Game Night, berbekal kreativitas pembuatnya, turut memanfaatkan bunyi decit mainan. Saya takkan mengungkap detail, pada dasarnya film ini memadukan bermacam-macam elemen untuk memancing kelucuan, termasuk tata suara, baik bersumber dari properti atau pemain.
Komedi verbal, lawakan bertabur referensi, slapstick, visual gag, silahkan pilih. Film ini punya semuanya. Daley dan Goldstein cerdik menempatkan timing pula menentukan shot penguat komedi. Mereka tahu kapan kesunyian mendadak selaku punchline mesti muncul, juga sudut kamera menyerupai apa untuk membungkus kesunyian tersebut. Saya sibuk menghadapi serbuan tawa hingga tidak sempat menduga twist yang tiba-tiba menyergap. Game Night memang penuh kejutan, baik terkait alur, comic timing, sikap huruf yang menghasilkan situasi lucu nan ndeso tak terduga, hingga unsur-unsur kreatif lain termasuk balutan agresi yang di luar dugaan tampil seru. Bahkan Liam Neeson takkan mampu men-tackle pesawat serapi Max dan Annie.

Jason Bateman dan Rachel McAdams menjalin chemistry solid, saling mengisi, saling menimpali lelucon.  Bateman lucu, tapi menyaksikan McAdams, sebagai sosok yang sepanjang karirnya lebih jarang berperan dalam kekonyolan komedi, justru lebih menyenangkan dan menyegarkan. Menari-nari sembari memainkan pistol, memamerkan keterkejutan dengan level “telepon genggam ketinggalan” ketika menyaksikan seseorang tewas dengan butal tersedot jet pesawat, McAdams terang tampak bersenang-senang. Begitu juga saya.