November 20, 2020

Gemini Man (2019)

Gemini Man membuat saya makin menghormati Ang Lee. Tidak banyak sutradara berstatus “auteur” menjajal blockbuster, gagal total, kemudian kembali untuk kedua kali. Hulk 16 tahun kemudian yakni bencana, kala Lee enggan menyerah pada hasrat membuat blockbuster kontemplatif ala arthouse. Dan di percobaan keduanya, Ang Lee berhasil. Bukan berarti ia mengorbankan ideologi. Justru ini bukti kematangan, ketika sineas bisa menyesuaikan diri sesuai kebutuhan.

Film ini terjebak dalam development hell selama hampir 20 tahun, diawali proses di bawah naungan Walt Disney, namun berujung penghapusan jawaban teknologi dianggap belum memadai. Teknologi tersebut diharapkan untuk memudakan wajah aktor, alasannya yakni di Gemini Man, ada dua Will Smith, di mana salah satunya merupakan versi sang pemain film di usia 20an.

Sang pemain film memerankan Henry Brogan, pembunuh bayaran yang dipekerjakan pemerintah untuk menghabisi nyawa para teroris berbahaya. Henry disebut sebagai pembunuh tanpa tanding. Bukan sebutan omong kosong, alasannya yakni ia sanggup menembak mati seseorang di dalam kereta yang sedang melacu dengan kecepatan maksimal. Tapi pilihan karir itu membuatnya kesepian, didera mimpi buruk, serta rasa bersalah telah merenggut 72 nyawa manusia. Henry tetapkan pensiun.

Tapi serupa protagonis film agresi lain, masa pensiun Henry takkan berlangsung mulus. Pemerintah mengirimkan seorang agen, Danny Zakarweski (Mary Elizabeth Winstead) guna memata-matainya. Bahkan sesudah Henry mengetahui rahasia di balik misi terakhirnya, pihak pemerintah mulai memburunya. Sampai Clay Varris (Clive Owen), kepala proyek GEMINI, mengutus kloning Henry yang berusia 30 tahun lebih muda, yang selama ini belakang layar ia rawat kolam anak sendiri.

Naskahnya—ditulis pertama kali oleh Darren Lemke (Shrek Forever After, Goosebumps) sebelum ditulis ulang oleh banyak nama termasuk David Benioff (Troy, X-Men Origins: Wolverine) dan Billy Ray (The Hunger Games, Captain Phillips, Overlord) , di mana ketiganya mendapat kredit penulisan—tampil sederhana, dibumbui drama soal kemelut batin melalui sederet dialog antar tokoh, yang jadi sarana Ang Lee menerapkan nuansa kontemplatif khasnya.

Kali ini penempatannya sempurna guna. Di tangan Ang Lee, dialog di tengah film agresi yang biasanya sekadar obligasi, jadi mengandung bobot. Henry mengaku tak bisa menatap sosoknya di cermin, tapi ironisnya, beliau malah bertatap muka dengan sosoknya sendiri secara nyata. Kalimat yang Henry lontarkan kepada versi mudanya di katakomba terdengar kolam luapan katarsis. Kelemahan naskah yang juga gagal diperbaiki Ang Lee yakni soal humor, yang menyerupai ditulis kemudian divisualisasikan oleh orang-orang kaku. Dingin, garing. Bahkan Benedict Wong pun tak kuasa menyelamatkannya.

Walau versi HFR (High Frame Rate) urung dirilis di Indonesia, permainan visual bergaya Ang Lee dan sinematografer Dion Beebe (Chicago, Memoirs of a Geisha, Mary Poppins Returns) masih terasa, baik yang (agak) substansial menyerupai lanskap-lanskap cantik, sampai yang patut dipertanyakan (penggunaan fisheye beberapa detik untuk menangkap gerakan kereta). Setidaknya, kerja sama mereka berhasil melahirkan barisan agresi seru.

Awalnya saya ragu. Perkelahian tangan kosong di paruh awal kala Gemini Man menerapkan teknik quick cuts layaknya suguhan laga medioker kebanyakan. Bahkan lebih buruk, jawaban buruknya detail kontinuitas pada potongan-potongan singkat baku hantamnya, yang membuat disorientasi. Sampai datang saatnya dua Will Smith beradu, dan sepeda motor pun disulap bukan saja sebagai sarana kebut-kebutan, pula senjata untuk menghajar seseorang. Klimaksnya pun sukses memaksimalkan konsep “double team”, melalui threesome memukau dibungkus pergerakan kamera dinamis, meski di beberapa titik, lemahnya CGI agak mengganggu.

Kualitas CGI Gemini Man memang inkonsisten, termasuk wacana wajah muda Will Smith, yang sepenuhnya hasil kreasi CGI, bukan teknologi de-aging sebagaimana mulai menjamur belakangan ini. Pencapaian terbaiknya yakni ketika Junior (begitu versi muda Henry dipanggil) terlibat perdebatan dengan Clay. Akting emosional Will Smith bisa tersaji sepenuhnya, tanpa berkurang dampaknya jawaban polesan digital. Tapi jelang film usai, ketika Ang Lee menggunakan close-up di siang bolong, efeknya mencapai titik nadir. Wajah Junior bagai abjad kartun. Ejekan Junior mengenai wajah Henry jadi terdengar menyerupai self-mocking. Beruntung kekurangan itu sanggup termaafkan, lantaran sebelumnya Gemini Man tampil memuaskan lewat banyak aksi yang memfasilitasi kharisma Smith, serta memberi kesempatan Mary Elizabeth Winstead semoga tidak berakhir sebagai embel-embel belaka.