November 24, 2020

Ghost Writer (2019)

Apa yang lebih susah dari menciptakan komedi lucu? Membuat komedi lucu bertema unik seraya membangun humor sepanjang film menurut tema tersebut. Debut penyutradaraan layar lebar Bene Dion Rajagukguk—sebelumnya menulis naskah dwilogi Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!, Stip & Pensil, Suzzanna: Bernapas dalam Kubur—ini bisa melakukan kiprah berat tersebut.

Sesungguhnya, dalam lingkup perfilman, konsep pertemanan atau romansa dua dunia jauh dari kesan baru. Baik vampir, monster, alien, zombie, hingga hantu, semua pernah menjalani hubungan dengan abjad manusia. Tapi Ghost Writer menyimpan kesejukan tersendiri berkat premisnya: What if your ghost writer is a real ghost?

Alkisah, Naya (Tatjana Saphira) yaitu penulis yang tengah melalui masa sulit, meski membiayai hidupnya dan sang adik, Darto (Endy Arfian) selepas meninggalnya kedua orang tua. Pasca kesuksesan karya perdananya, dia belum juga menerbitkan novel baru. Alasannya, dia enggan menjual idealisme, menolak pendekatan opera sabun sebagaimana ditawarkan penerbitnya. Naya memang idealis bergengsi tinggi. Walau terhimpit urusan finansial, dia menolak pertolongan kekasihnya, Vino (Deva Mahenra) dan ngotot memasukkan Darto ke sekolah bergengsi.

Itulah mengapa dia tak pikir dua kali kala menemukan rumah besar berharga murah. Sebaliknya, Darto curiga harga murah tersebut dikarenakan rumah itu angker. Naya bersikap skeptis menanggapi ketakutan Darto, namun sehabis dia mengambil buku harian di loteng kemudian berniat menjadikannya sebuah novel, peristiwa-peristiwa mistis mulai menimpanya. Rupanya buku itu milik hantu berjulukan Galih (Ge Pamungkas) yang meninggal bunuh diri di sana. Nasib tragis Galih menarik atensi penerbit, tapi si hantu menolak rencana mengangkat dongeng hidupnya ke dalam novel.

Meski sempat takut, perlahan Naya mulai erat dengan Galih, berusaha meminta persetujuannya, bahkan menawari posisi sebagai ghost writer. Serupa konsep Death Note Naya bisa melihat dan menyentuh Galih selama dia memegang buku harian tersebut. Hubungan keduanya menggemaskan, penuh kecanggungan menggelitik berkat kebijaksanaan naskah garapan Bene bersama Nonny Boenawan dalam mengimajinasikan interaksi kasual antara sosok hidup dan mati.

Penampilan dua pemain film utama juga banyak membantu, menghantarkan humor lewat gaya yang mencerminkan kondisi masing-masing karakter. Jika Tatjana begitu hidup, penuh semangat serta antusiasme, dan terkadang tidak tahu malu, Ge memaksimalkan metode deadpan. Kata-kata selalu meluncur dari lisan Naya, dan seringkali ucapan anehnya menciptakan Galih kehabisan kata. Kekontrasan-kekontrasan itu melengkapi dinamika kedua tokoh utama. Di luar lingkup Naya-Galih, naskahnya tetap konsisten melempar dagelan bertema hantu dan kematian. Contohnya melalui Abdul (Muhadkly Acho) dan Iwan (Arie Kriting), dua karyawan di kantor daerah Naya menerbitkan novelnya, yang tidak pernah jemu berdebat wacana mistis.

Selain penulisan cerdik, penyutradaraan Bene turut berjasa menambah kadar kelucuan. Mengawali karir sebagai komika mengambarkan pemahaman Bene soal timing, yang nampak betul dalam caranya menyusun anutan adegan. Belum seluruhnya mulus, tapi secara umum, Bene tahu bagaimana semoga ketika suatu adegan berakhir, ada rasa ingin tau tertinggal di benak penonton. Kita dipancing bertanya, “Kelucuan apa yang sedang menanti?”, sebelum melontarkan tanggapan yang dibungkus ketepatan timing. Sayang, kebolehan serupa urung ditemukan kala dia mengarahkan situasi horor, yang lebih banyak didominasi hadir medioker.

Kekurangan paling aktual dalam Ghost Writer sejatinya merupakan elemen yang kerap ditemukan pada produksi Starvision kebanyakan: Filmnya tampak murah. Misalnya riasan hantu yang kerap kurang merata. Benar bahwa Galih yaitu hantu jenaka, tapi sumber kejenakaan itu tak seharusnya bersumber dari tata rias buruk. Berikutnya terkait transisi bernafsu antara adegan, sebuah penyakit yang bahkan gagal dihindari film-film kelas satu milik Starvision, semisal Cek Toko Sebelah.

Ghost Writer bermula ketika Ernest Prakasa (bertindak selaku produser di sini) membaca sinopsis buatan Nonny Boenawan, penerima kelas penulisan skenario yang dia adakan. Ernest pribadi terpikat. Wajar saja, alasannya yaitu pandangan gres Nonny memang brilian. Dan begitu sinopsis tadi menjelma film, terbukti betapa teknis murah tetap tak kuasa membendung kreativitas kaya.