November 24, 2020

Good Boys (2019)

Good Boys adalah sebenar-benarnya coming-of-age, di mana abjad bocahnya berpetualang merambah teritori absurd ibarat seksualitas, perasaan pada lawan jenis, cita-cita, sampai yang paling kompleks, perceraian orang tua. Jelas bukan tema baru, namun debut penyutradaraan Gene Stupnitsky ini mempertahankan satu elemen yang belakangan kerap dikesampingkan sajian coming-of-age (yang dicap “berkualitas”) khususnya dari sinema arus alternatif, yakni kepolosan.

Kepolosan sering dikesampingkan atas nama realisme. Good Boys membantah anggapan tersebut. Menjelang usia remaja awal, bawah umur bukan berkontemplasi soal esensi hidup, melainkan belakang layar menyebabkan abjad gim sebagai materi masturbasi dan memendam rasa ke sahabat sebaya ibarat Max (Jacob Tremblay), ingin dianggap keren ibarat Thor (Brady Noon), atau kebingungan menyikapi perceraian orang renta layaknya Lucas (Keith L. Williams).

Ketiganya yakni sahabat yang menamakan diri sebagai “Bean Bag Boys”. Duduk di kursi kelas enam SD, mereka mulai memasuki fase tumbuhnya ketertarikan untuk melanggar norma dan perintah orang tua, tapi terjebak dilema ketika pendidikan perihal moralitas masih mengakar berpengaruh di kepala. Alhasil, tatkala Max hendak menghadiri kissing party yang diadakan Soren (Izaac Wang) si bocah populer, semoga bisa mencium gadis pujaannya, Brixlee (Millie Davis), ketiganya justru terjebak petualangan penuh masalah.

Naskah buatan Gene Stupnitsky bersama Lee Eisenberg (keduanya pernah berduet menulis 15 episode The Office) melahirkan observasi mengenai pendewasaan secara cerdik, tatakala menandakan bahwa kedalaman penelusuran tidak melulu wajib disajikan serius. Humor-humornya beberapa kali menyentuh ranah dewasa, khususnya yang berbau seksual, tapi dijabarkan melalui kacamata anak, sehingga ketimbang jorok, kesan yang muncul yakni kepolosan.

Apa respon bawah umur bila menemukan peralatan BDSM, boneka seks, atau narkoba? Bagaimana pula jika—serupa anak pada umumnya—dengan kenaifannya, tokoh-tokoh film ini bersikap kolam orang dewasa? Kelucuan pun berhasil konsisten dihadirkan, apalagi naskahnya mempunyai kreativitas tinggi dalam memproduksi komedi dari hal-hal yang amat akrab dengan keseharian. Kecerdikan humornya bukan cuma ada di perihal seksualitas. Salah satu favorit aku yakni sosok Annabelle (tentu anda tahu abjad yang diperankan Lina Renna terinspirasi dari mana), abang wanita Thor yang gemar muncul tiba-tiba sambil berbicara dengan nada mengerikan.

Stupnitsky membawa Good Boys melaju dalam kecepatan serta energi tinggi, penuh letupan hasil cekcok tiga protagonis, yang acap kali justru menjadi bumerang, tanggapan monotonitas tempo. Hampir selalu berlangsung tinggi, terkadang humornya meleset dari target. Tapi di sisi lain, inilah wajah realisme versi Good Boys. Sebab, anak kecil mana yang bertengkar dengan lembut bersama sahabat-sahabatnya?

Good Boys takkan sebaik ini kalau tidak didukung kehebatan tiga pemeran ciliknya menjalin chemistry. Apa pun kenakalan dan kesalahan yang diperbuat tidak mengurangi simpati aku pada ketiganya, sebab trio Tremblay-Noon-Williams bisa meyakinkan bahwa semuanya didorong keluguan dan kesetiakawanan. Berkat solidnya para bintang film menghidupkan persahabatan karakternya, konklusi yang ditawarkan pun bisa menyentuh hati, ketika sekali lagi Good Boys melukiskan realita (kali ini terkait kekerabatan pertemanan seiring pendewasaan) tanpa kehilangan jiwa anak-anaknya.