December 3, 2020

Habibie & Ainun 3 (2019)

Di realita, romantika Habibie dan Ainun akan terus infinit dan menyentuh hati, tapi sehabis tujuh tahun kemudian Habibie & Ainun jadi fenomena ketika mencatatkan sekitar 4,6 juta penonton, kemudian disusul empat tahun kemudian oleh pengultusan dengan pendekatan blockbuster bernama Rudy Habibie, harus diakui bahwa di layar lebar, kesakralan kisah cinta ini mulai terkikis. Habibie & Ainun 3 menegaskan itu lewat paparan drama yang kembali digarap mewah, diisi akting-akting kuat, namun dilemahkan oleh ketiadaan jiwa.

Jika Rudy Habibie berfokus pada, well, Rudy Habibie (Reza Rahadian), maka film ketiga ini, yang awalnya berjudul Ainun, menceritakan lebih jauh soal kehidupan Hasri Ainun Besari (Maudy Ayunda) sebelum bersatu dengan pasangan sehidup sematinya. Alurnya dibuka ketika suatu malam, di program kumpul keluarga, Habibie menceritakan sosok mendiang sang istri kepada cucu-cucunya. Teguh Widodo, Orlando Bassi, dan Aktris Handradjasa selaku tim tata rias berhasil memperbaiki kekurangan fatal film pertama terkait menuakan para pemain drama kala secara meyakinkan menyulap Reza menjadi Habibie di usia senja. Sebagai bentuk kepercayaan diri, Reza sempat dibentuk membuka pecinya, sekilas menunjukkan uban serta rambut yang telah menipis.

Tentu performa sang pemain drama turut membantu, di mana melalui detail gestur tangan juga mimik wajah, kerentaan karakternya bisa ditampakkan oleh Reza. Tapi sebaik apa pun aktingnya, Reza tetap tak kuasa menolong CGI buruk, kala latarnya mundur ke era 1950an. Habibie dewasa dihidupkan menggunakan teknologi de-aging menggelikan, yang gagal membuat sinkronisasi antara wajah dengan gerak leher Reza. Bukan cuma terlalu mulus (in a weird way), wajahnya ibarat melayang. Beruntung ini film ihwal Ainun, sehingga kita takkan sering melihat hasil menyedihkan tersebut.

Ainun bercita-cita menjadi dokter meski sebagai wanita, impian itu kerap dianggap remeh. Bahkan begitu diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, diskriminasi gender terus dirasakan, baik dari olok-olok mahasiswa pria, maupun pandangan sebelah mata sang dosen, Pak Husodo (Arswendi Bening Swara). Kaprikornus apakah naskah buatan Ifan Ismail (The Gift, Ayat-Ayat Cinta 2, Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta) mengusung pesan female empowerment? Benar bahwa filmnya menyimpan sederet momen perlawanan gambling terhadap seksisme, namun sejatinya, ini hanyalah quasi-empowerment.

Contohnya sewaktu Arlis (Aghniny Haque), teman Ainun yang populer berani melawan penindasan bahkan memukul senior, mengucapkan kalimat “Ini urusan laki-laki”, ketika teman dekatnya, Soelarto (Kevin Ardilova), hendak terlibat baku hantam dengan Ahmad (Jefri Nichol), mahasiswa Fakultas Hukum yang berusaha merebut hati Ainun. Sejak kapan dongeng empowerment mengasosiasikan perkelahian sebagai “urusan laki-laki”?

Setelahnya, Habibie & Ainun 3 mengambil sudut pandang menarik terkait tujuannya menguatkan percintaan pasangan legendarisnya. Filmnya mengetengahkan bagaimana mereka bisa langgeng, alasannya masing-masing bisa berguru dari pengalaman dan kesalahan masa lalu, khususnya hubungan Ainun dengan Ahmad. Bahkan huruf Habibie di sini hanya sebatas pendukung. Setidaknya penonton bisa dibentuk memahami itu, meski dilakukan menggunakan cara gampang, yakni memberi Ahmad karakterisasi yang benar-benar berlawanan dengan Habibie.

Dia lebih agresif, hebat merayu wanita, gemar berkelahi, selalu mengalihkan pembicaraan sewaktu Ainun menanyakan soal rencana masa depannya, dan ingin keluar dari Indonesia. Tidak diragukan lagi, Jefri yakni jagonya perihal memerankan tokoh berkepribadian ibarat itu, dengan tenaga yang menjadi salah satu dinamo utama pencetus filmnya. Setelah Bebas, ini merupakan kali kedua Jefri dan Reza bermain di satu judul tapi tidak membuatkan adegan bersama. Saya berharap suatu hari bisa menyaksikan keduanya bertatap muka di layar.

Seperti Rudy Habibie, Hanung Bramantyo kembali menjadi sutradara. Bermodal pengalaman hampir dua dekade, Hanung yakni sutradara yang hafal betul formula tontonan arus utama semoga bisa dinikmati penonton sebanyak mungkin. Bagaimana kamera harus diposisikan supaya gambar nyaman dilihat, bagaimana dongeng mengalir supaya simpel diikuti, atau kapan musik mesti muncul dan karam demi mendramatisasi peristiwa. Mungkin Hanung sudah melaksanakan itu secara otomatis. Tapi otomatisasi itu pula yang membuat film ini kolam tanpa jiwa. Habibie & Ainun 3 seperti dibentuk menurut rumus-rumus niscaya ketimbang suatu permainan rasa.

Bakal semakin kosong andai filmnya tak mempunyai Maudy Ayunda dengan segala sensibilitasnya yang mampu membedakan mana “kelembutan” dan mana “kelemahan”, juga Arswendi Bening Swara yang di balik perilaku galak serta kata-kata pedasnya, juga menyimpan keteduhan dalam bertutur kata. Habibie & Ainun 3 merupakan film yang digarap secara kompeten, layak tonton, tetapi urung mengulangi pencapaian film pertama, apalagi menangkap elemen terpenting dari kisah yang diangkat, yaitu “rasa”.