November 26, 2020

Happy Death Day 2U (2019)

Jika sehabis Happy Death Day 2U Jessica Rothe masih belum juga memperoleh tugas signifikan di film berskala besar, artinya para pelaku industri di Hollywood memang bodoh, atau sang biro makan honor buta. Karakter yang Rothe perankan boleh terperangkap dalam bulat waktu repetitif, namun tidak dengan penampilannya. Dia terus menampilkan bermacam-macam varian jenaka supaya Tree tetap menjadi sosok yang menyenangkan diikuti.

Demikian pula filmnya. Saya sempat khawatir bila perjuangan menjelaskan bulat waktu lewat penambahan unsur fiksi-ilmiah justru bakal menciptakan filmnya memaksakan diri melebarkan mitologi. Sebuah penyakit yang lumrah menjangkit seri slasher. Tapi rupanya, sutradara Christopher Landon (Paranormal Activity: The Marked Ones, Happy Death Day) yang mengambil alih penulisan naskah dari Scott Lobdell, berhasil memanfaatkannya selaku pembuka kanal untuk lebih banyak hiburan yang mengacungkan jari tengah kepada nalar serta keseriusan.

Belum sempat menikmati keberhasilan kabur dari bulat waktu, Tree terpaksa berada di situasi serupa, dikala sang pembunuh bertopeng bayi beraksi lagi. Kali ini, Carter (Israel Broussard) dan teman sekamarnya, Ryan (Phi Vu) turut diincar. Tree pun harus kembali mengulangi harinya untuk menggagalkan rencana pembunuhan tersebut, sembari mencari tahu penyebab terjadinya kondisi asing itu.

Sebagai cara menjelaskan bulat waktunya, Landon menambah elemen fiksi-ilmiah, kali ini termasuk alternate universe. Presentasinya cukup berantakan, pun penonton butuh meluangkan perjuangan ekstra guna mencerna seluruh peristiwa, yang sehabis tiap keping puzzle terkumpul, sebetulnya bisa membentuk satu kesatuan kisah yang saling melengkapi, selama anda tidak mengharapkan paparan ilmiah cerdas.

Lagipula, mematuhi nalar memang bukan fokus Happy Death Day 2U. Filmnya membenamkan diri ke dalam ketidaklogisan supaya penonton bisa terhibur menyaksikan Tree yang sekali lagi harus mati berulang kali. Ketika film pertamanya bermasalah dengan repetisi tatkala tiap bulat waktu terasa serupa satu sama lain, sekuelnya selalu muncul dengan hal kreatif, lucu, dan over-the-top. Semakin konyol cara Tree meregang nyawa, semakin mengasyikkan.

Sebagai sutradara, Landon masih piawai menciptakan montase dinamis nan menggelitik yang juga merupakan highlight pendahulunya. Kalau Confident-nya Demi Lovato menemani perjuangan Tree mencari identitas pembunuh di film pertama, kini giliran Hard Times milik Paramore melatari montasenya, yang lebih berani menumpahkan darah dan sadisme tanpa sedikitpun kehilangan sentuhan komedi yang kuantitasnya ditingkatkan di sini.

Tentu akhirnya takkan sebaik itu andai tak ada Jessica Rothe, yang mampu menciptakan kita tertawa (dan pastinya jatuh cinta) lewat segala cara, dari penyampaian kalimat bernada sarkasme, tatapan yang akan membuatmu merasa layaknya orang paling ndeso sedunia, hingga teriakan histerikal yang memancing rasa penasaran, “Apa jadinya kalau sang aktris berperan dalam film komedi-romantis?”. Menyaksikan penampilan Rothe, melakoni tugas komedik seolah tampak begitu mudah.

Walau selepas melewati titik tengah mulai melemah sebagaimana kondisi Tree pasca tewas belasan kali, Happy Death Day 2U tak pernah kekurangan daya untuk menggaet atensi, yang bisa dilakukan berkat keengganan tampil realistis. Alhasil, alurnya bebas melangkah ke mana saja, menekan kemungkinan munculnya rasa bosan akhir arah yang gampang ditebak. Bahkan film ini mempunyai hati, melalui aspek drama bagus yang menghasilkan epilog tepat bagi perjalanan protagonisnya. Dan sehabis mid-credits scene-nya, seri Happy Death Day bisa bergerak menuju teritori gres yang lebih besar dan gila.