November 28, 2020

Heretiks (2018)

You shall burn unless you choose a different path. Our path”, demikian ungkap Suster Kepala (Clare Higgins) kepada protagonis dalam Heretiks, Persephone (Hannah Arterton). Kalimat tersebut bagai berasal dari kisah thought-provoking seputar religiusitas. Memprovokasi lewat tuturan serius memang intensi film ini. Sayangnya, keputusan itu diambil tanpa menyadari beberapa inkompetensi fatal, menyerupai pengarahan konyol dan penulisan dangkal.

Berlatar kurun ke-17, kita berkenalan dengan Persephone, perempuan muda yang ditangkap atas tuduhan praktek ilmu sihir. Hukuman mati menanti, tapi sebelum itu terjadi, beberapa suster menyelamatkannya, mengatakan kesempatan kedua untuk hidup sebagai pelayan Tuhan. Persephone dibawa menuju biara tua, di mana ia bersama wanita-wanita “pendosa” lain tinggal di bawah aturan luar biasa ketat. Apabila melanggar, sanksi fisik atau kurungan telah menanti.

Tersimpan kisah provokatif soal “iman ” menanti untuk dituturkan, sehabis kita mengetahui bahwa para suster di biara itu tidak sesuci kelihatannya. Namun penulisan Conal Parmer (The Seasoning House) dan Paul Hyett (The Seasoning House, Howl) mematikan potensi drama tersebut, kala naskahnya justru membangun plot lewat repetisi hukuman-hukuman yang diterima karakternya. Karakter menciptakan kesalahan, dihukum, menciptakan kesalahan lagi, dieksekusi lagi, begitu seterusnya.

Eksplorasi tema serta abjad sepenuhnya ditinggalkan. Banyak tokoh-tokoh gres memasuki “panggung”, namun tiada yang cukup berkesan untuk setidaknya menciptakan kita bisa mencocokkan sebuah nama dan pemiliknya. Bahkan protagonisnya pun one-dimensional. Latar belakang tragis Persephone, tuduhan sebagai jago nujum, maupun kemampuan Istimewa yang konon ia miliki, tidak memberi imbas konkret terhadap plot.

Horor sebetulnya berasal dari demam asing nan mematikan yang diderita penghuni biara. Sekali terjangkit, cita-cita hidup memudar, dan mereka hanya tinggal menanti ajal, kemudian tewas secara mengenaskan. Sementara di dikala bersamaan, Persephone kerap melihat sosok perempuan misterius. Situasi yang menjadi jalan Heretiks mempresentasikan jump scare, yang sayangnya hadir minim daya kejut, biarpun filmnya bisa membangun atmosfer mencekik lewat sudut-sudut gelap biara. Penyebabnya tak lain penyutradaraan lemah Paul Hyett, yang acap kali menciptakan aku kesulitan membedakan film ini dengan horor-horor lokal murahan yang menghantui bioskop kita nyaris tiap minggu.

Beruntung, Heretiks masih sanggup merebut atensi, tepatnya ketika filmnya bersedia meninggalkan keseriusan demi gaya b-movie menyenangkan penuh kematian brutal. Bergalon-galon darah tumpah, bola mata dicongkel, kepala dipenggal, ialah contoh-contoh pemandangan yang sukses melambungkan daya pikat Heretiks, meski di beberapa kesempatan, penggunaan shaky cam berlebih sempat merusak intensitas. Pasca momen simpulan kurang pandai nan canggung menutup kisahnya, aku cuma bisa berandai-andai, bagaimana jikalau penulis naskah beserta sutradara semenjak awal menyadari inkompetensi mereka wacana meramu suguhan serius, dan menentukan total merayakan kekonyolan khas film kelas b (atau sekalian menciptakan nunsploitation?). Rasanya Heretiks bakal jauh lebih mengasyikkan.