November 30, 2020

Homestay (2018)

Homestay, selaku pembiasaan novel Jepang berjudul Colorful karya Eto Mori, adalah proyek ambisius berupa peleburan elemen fantasi, romansa, drama keluarga, thriller, dan misteri. Bahkan tone-nya terus berganti, antara sajian ringan menggemaskan khas percintaan dewasa Thailand dan suasana kelam dari info bunuh diri, disfungsi keluarga, hingga penelusuran makna kehidupan.

Kisahnya dibuka ketika protagonis tanpa nama kita (Teeradon Supapunpinyo) terbangun di kamar jenazah dalam badan dewasa berjulukan Min yang gres saja meninggal bunuh diri. Di tengah kebingungan tersebut, ia bertemu sosok misterius yang mengaku sebagai penjaganya. Pertemuan keduanya dibungkus oleh momen melawan gravitasi yang akan kita lihat beberapa kali lagi, sebagai bentuk unjuk gigi kualitas imbas visual filmnya dan kepiawaian sutradara Parkpoom Wongpoom (Shutter, Alone, 4bia) menangani adegan bergaya.

Sang penjaga—yang nantinya muncul dalam wujud berbeda-beda termasuk cameo Laila Boonyasak sebagai suster nakal—memberi protagonis kita kiprah untuk mencari alasan Min bunuh diri. Dia diberi waktu 100 hari. Jika berhasil, ia menerima kesempatan kedua untuk hidup, namun kalau gagal, ia bakal tewas secara permanen dan kehilangan kesempatan reinkarnasi. Investigasi “Min palsu”, yang dibalut tempo lampat sehingga durasi Homestay membengkak hingga 131 menit—membawa beberapa pemahaman. Min yaitu dewasa tertutup, hidup di bawah tekanan, selalu menyendiri dan berdiam diri.

Keluarga Min pun jauh dari harmonis. Ayahnya (Roj Kwantham) berhenti mengajar untuk menjalankan bisnis MLM menjual suplemen, Ibunya (Suquan Bulakul) tinggal di kota lain lantaran tuntutan pekerjaan, sementara sang kakak, Menn (Natthasit Kotimanuswanich), tampak begitu membencinya. Asumsi pun timbul, bahwa Min menentukan mengakhiri hidupnya lantaran tidak tahan menghadapi kondisi keluarganya.

Walau bergerak lambat, pemeriksaan terhadap motivasi Min bisa membuat misteri menarik berkat kemampuan naskahnya, yang digarap lima penulis (Thodsapon Thiptinnakorn, Jirassaya Wongsutin, Abhichoke Chandrasen, Eakasit Thairaat, Parkpoom Wongpoom), untuk secara cermat memilah, kapan harus melempar pertanyaan, kapan harus menjawab, atau setidaknya menebar petunjuk. Beberapa twist sempat hadir, yang walau tak sulit ditebak, efektif menambah dinamika.

Kemudian diperkenalkanlah Pi (diperankan Cherprang Areekul, kapten BNK48), gadis cerdas anggota tim Olimpiade sains yang  juga peer tutor bagi Min. “Min palsu” jatuh cinta pada Pi dan dari situlah ia memutuskan bertransformasi. Dia buang gaya rambut dan berpakaian emo, menciptakan Min yang lebih ceria, bersemangat, dan penuh warna. Pi pun terpikat pada Min yang baru, membuka jalan bagi Homestay berpindah sejenak menuju fase bernuansa ringan sebagai dongeng cinta dewasa menggemaskan yang berhasil memancing senyum. Kuatnya chemistry kedua aktor utama juga berkontribusi memproduksi romantika bernyawa.

Sampai Homestay kembali melempar penonton menuju keseriusan, yang kali ini lebih kelam dibanding sebelumnya, pula mengoyak perasaan. Serupa protagonisnya, pada titik ini kita dibawa menjalani kehidupan kolam neraka milik Min, kemudian pelan-pelan memahami, bahkan bisa jadi mencicipi hal yang sama dengan dewasa malang tersebut. Bukan tidak mungkin pula anda dibentuk berandai-andai, apakah bakal mengambil tindakan menyerupai Min apabila ditempatkan di kondisi yang sama.

Sayangnya di situlah puncak rasa Homestay, alasannya yaitu konklusi yang menyusul kemudian, hadir terburu-buru juga dengan penuturan sedikit kacau. Alhasil dampak emosional yang semestinya dipunyai, bahkan jadi “gong” bagi momen epilog film semacam ini, tak sanggup ditemukan. Pesannya bermakna, namun persepsinya soal info bunuh diri terkesan dangkal bahkan cenderung kurang sensitif. Homestay mampu membuat penonton memahami pesan wacana “mensyukuri hidup” yang diusung, tapi tak hingga ikut merasakannya.