November 30, 2020

Hotel Mumbai (2018)

Memaparkan peristiwa penembakan dan pemboman terkoordinir di Mumbai pada 26-29 November 2008, Htel Mumbai dengan simpel menciptakan saya mengutuk para pelaku yang merenggut nyawa 166 manusia, hanya alasannya ialah satu kata: Kafir. Tapi itu bukan pencapaian besar. Selama sisi kemanusiaan kita terjaga, tak peduli seburuk apa filmnya, kebencian terhadap agresi terorisme tentu simpel tersulut.

Tugas yang lebih sulit ialah menciptakan penonton peduli terhadap karakernya serta merasa terikat dengan mereka, sesuatu yang kurang berhasil dilakukan Hotel Mumbai. Dampaknya, intensitas pun kerap terkikis. Ditulis naskahnya oleh John Collee (Happy Feet, Master and Commander: The Far Side of the World) dan sutradara Anthony Maras menurut dokumenter Surviving Mumbai (2009), film ini berusaha menyatukan terlalu banyak hal: Thriller, studi huruf termasuk para teroris, sampai cerita kepahlawanan karyawan Hotel Taj Mahal Palace yang menolak kabur demi melindungi tamu. “Tamu ialah dewa”. Demikian semboyan mereka.

Ada dua sisi protagonis di sini. Pertama Arjun (Dev Patel), karyawan hotel yang tengah menanti kelahiran buah hati keduanya, kedua ialah pasangan suami-istri, David (Armie Hammer) dan Zahra (Nazanin Boniadi), yang berkunjung bersama bayi mereka, serta sang pengasuh, Sally (Tilda Cobham-Hervey). Deskripsi singkat tersebut cocok sebagai langkah awal membangun penokohan mumpuni, namun sebelum tumbuh kedekatan di antara penonton dan tokoh-tokoh itu, serangan terlanjur terjadi.

Nilai emosional dan ketegangannya pun menurun, meski sepanjang serangan di Hotel Taj Mahal, film ini telah melaksanakan segalanya dengan tepat, termasuk kejelian Anthony Maras mengatur timing juga mise-en-scène (tiap kali ia memanfaatkan latar luas ibarat lobi, menempatkan korban di satu sisi sementara teroris rahasia mengintai di sisi lain, karenanya selalu mengagumkan), Hotel Mumbai tak pernah jadi presentasi menggugah. Tapi ini terang merupakan sajian disturbing dan memarahkan, khususnya sewaktu Maras tak ragu menggambarkan kebrutalan serangannya. Kita melihat formasi teroris sampah itu bahkan tidak bergeming menembaki perempuan renta yang terluka dan memohon biar diampuni, atau korban-korban tak berdaya lain.

Menariknya, Hotel Mumbai lebih sukses memotret pelaku ketimbang korbannya. Penyerangan di 12 titik ini didorong oleh ambisi berjihad. Alasannya adalah, sebagaimana kerap dinyatakan sang pemimpin (berasal dari Pakistan), kafir-kafir sudah menginvasi negeri mereka guna memancapkan kekuasaan kapitalisme, hidup makmur sementara para muslim lokal terjerat kemiskinan. Pada bab ini, naskahnya solid menuturkan betapa kacau alasan teroris-teroris tersebut.

Hotel Mumbai menunjukkan bagaimana kemiskinan dan kelaparan sanggup memancing amarah, iri dengki, dan tentunya kebodohan. Para teroris berusaha melenyapkan “kafir” yang dianggap tanpa rasa kemanusiaan dengan cara melaksanakan agresi keji tanpa rasa kemanusiaan. Sungguh tolol. Pertanyaan lain pun timbul, “Benarkah itu motif sesungguhnya?”. Atau sekadar rasa iri akhir ketidakmampuan menikmati kemewahan? Mereka terpana mendapati kemegahan hotel, menikmati masakan sisa selaki menghabisi ratusan nyawa, bahkan terungkap bahwa sang pemimpin menjanjikan sejumlah uang sebagai kompensasi keterlibatan mereka.

Elemen di atas jauh lebih berpengaruh ketimbang aspek thriller-nya, yang meski solid, pelan-pelan kehilangan momentum akhir durasi yang terlampau lama, juga beberapa penyuntingan buruk. Cerita keluarga David-Zahra kurang bekerja maksimal, namun cerita wacana pengorbanan karyawan hotel jadi yang saya paling sayangkan. Karena narasi epilog mengenai agresi heroik mereka begitu menyentuh, menciptakan saya berharap unsur itu lebih disorot, sementara Dev Patel menyajikan performa apik, menghembuskan hati yang sayangnya urung filmnya maksimalkan.