October 20, 2020

I, Daniel Blake (2016)

I, Daniel Blake. Terdengar ibarat sebuah statement. Kenyataannya sang titular character memang dua kali melontarkan pernyataan menjelang akhir. Filmnya pun sama, melontarkan pernyataan seputar kebobrokan welfare system Inggris yang ketimbang menyejahterakan justru menyulitkan masyarakat kelas pekerja. “Sistem ini mempermainkan rakyat! Pemerintah mempermainkan rakyat!” Begitu kiranya sutradara Ken Loach bersama Paul Laverty selaku penulis naskah hendak berteriak. Filmnya menyodorkan kesulitan-kesulitan yang penonton cuilan dunia mana pun pernah alami. Lalu kita mesti berbuat apa? Pada kala di mana insan dituntut lebih pandai menangani kasus yang makin pelik, I, Daniel Blake enggan memperlihatkan jalan keluar.

Layar gelap, dan hanya terdengar pembicaraan Daniel Blake (Dave Johns) dengan petugas Work Capability Assessment (WCA) berjulukan Amanda yang tengah menilai kelayakannya bekerja lagi pasca mengalami serangan jantung. Ketiadaan visual dimaksudkan mendorong penonton berkonsentrasi mendengar perbincangan yang terkesan lucu ketika Amanda bicara dengan nada kolam robot, sementara kekesalan Daniel memancingnya berkelakar, “We’re getting farther and farther away from me heart“. Wajar. Perintah Amanda memang tidak menyinggung soal jantung. Setidaknya ia tidak menjelaskan pada Daniel yang awam ihwal kesehatan mengapa itu berkaitan. Itu pangkal perselisihan Daniel (beserta pencari kerja lain) dengan pelayanan sistem tersebut.

Daniel memang cukup gampang terpancing amarah. Tatkala tetangganya, China (Kema Sikawze) lalai membuang sampah ia seketika menegur. Bersedia pula ia memarahi petugas Jobcentre Plus akibat enggan memberi toleransi atas keterlambatan Katie (Hayley Squires), ibu muda yang bersama dua anaknya gres pindah ke London sehabis dua tahun tinggal di penampungan tuna wisma Newcastle. Walau begitu, sikapnya memperlihatkan kepedulian. Dia pemarah, tapi bukan laki-laki renta penggerutu yang menolak kehidupan sosial dan mengutuk tiap sendi kehidupan. Terdapat kehangatan di penokohan ditambah sensibilitas performa Dave Johns yang memudahkan kita mendukung usaha Daniel. 

I, Daniel Blake mengetengahkan pertarungan rakyat kelas pekerja melawan sistem menyulitkan. Bukan demi keadilan sosial bersama melainkan semata-mata untuk makan sehari-sehari. Pertarungan yang kelihatannya tidak mungkin dimenangkan. Seolah hendak menguatkan sisi persatuan masyarakat, para tokoh utamanya pun dibentuk beragam, antar-generasi, antar-ras, antar-gender. Tanpa dipengaruhi perbedaan tersebut, mereka saling menolong, bahkan bisa jadi terikat secara emosional satu sama lain. Misalnya dikala Daniel membereskan rumah Katie bahkan mengembangkan mainan kayu untuk kedua anaknya. Pun seiring film berjalan, formasi insan non-pegawai Jobcentre Plus (kecuali Ann yang rela ditegur atasan alasannya menolong Daniel) kerap bersedia “mengulurkan tangan” meski sebatas hal kecil macam membantu Danie mengoperasikan komputer. 

Paul Laverty berilmu merangkai kata-kata lewat naskahya, baik berupa celotehan menggelitik abjad maupun tuturan dramatik deskripsi Daniel mengenai mendiang istrinya yang menyiratkan kondisi bipolar. “Where’ll we sail to tonight, Dan?” Tanya sang istri pada Daniel yang juga menjadi kalimat terindah sepanjang film. Sementara bagi Ken Loach, sehabis 50 tahun lebih berkarya, perihal bernarasi bukan lagi kesulitan. Alur melaju tidak terburu-buru tanpa perlu berlama-lama pula. Penyuntingan gambar Jonathan Morris yang menggunakan fade in/out di beberapa transisi mendukung tercipta pemikiran mulus. Sampai terjadi lompatan mendadak di 10 menit terakhir. Lompatan bernafsu yang melangkahi proses penting pengembangan abjad ibarat tengah kehabisan ide. 

Pilihan konklusinya menegaskan bahwa I, Daniel Blake hanya pertunjukan derita insan akhir sistem anyir yang ketimbang membela justru menghancurkan. Benar segalanya sempurna dan nyata, namun sekali lagi, kita semua sudah tahu. Sayangnya Loach  yang telah puluhan tahun mengolah tema serupa  berhenti di tataran menjabarkan, berujung membuat repetisi akan problem familiar. Benar film bisa jadi jendela realita (yang bisa dicapai I, Daniel Blake), tetapi sanggup juga lebih dari itu, memperlihatkan solusi. Dan sehabis sekian lama, alangkah baiknya daripada terus menerus memperlihatkan kesusahan, datang waktunya bagi suguhan populis memberi alternatif jalan keluar. Apa yang harus kami lakukan kini Mr. Loach?