November 27, 2020

Ikut Saya Ke Neraka (2019)

Ikut Aku ke Neraka adalah film di mana Sara Wijayanto muncul dalam kapasitas glorified cameo sebagai psikiater yang memberikan kepada bawahannya bahwa salah satu pasien yang mereka tangani mungkin bukan mengalami gangguan jiwa melainkan diganggu makhluk halus, sementara Ence Bagus memerankan dokter kandungan yang melontarkan dagelan di tengah proses persalinan. Tidak mengejutkan bila masih tersimpan banyak kengawuran lain.

Merupakan kali kedua Azhar Kinoi Lubis menyutradarai horor pasca Kafir: Bersekutu dengan Setan yang menyiratkan potensi meski eksekusinya jauh dari maksimal, Ikut Aku ke Neraka memang tontonan ngawur dan acak. Termasuk judulnya, yang mengingatkan pada Drag Me to Hell. Ketika film garapan Sam Raimi tersebut memang secara literal menampilkan perjuangan hantu menarik korbannya ke neraka, judul film ini tak ubahnya clickbait.

Film dibuka dengan menunjukkan Sari (Cut Mini) di rumah sakit jiwa, kemudian melompat untuk mengajak kita bertemu gadis cilik yang bisa berinteraksi dengan hantu. Gadis itu tak lain ialah protagonis kita, Lita (Clara Bernadeth) yang sekarang sedang hamil tua. Hanya lewat beberapa menit awal saja, penuturan awut-awutan dari naskah buatan Fajar Umbara (Comic 8, Mata Batin, Sabrina) seketika sanggup dideteksi.

Kebahagiaan Lita dan sang suami, Rama (Rendy Kjaernett) harus sirna akhir teror sesosok hantu, yang terjadi sesudah Lita mengoperasi tanda lahir di punggungnya. Malang bagi Lita, Rama tak mempercayai ceritanya. Kemudian kisah bergerak menuju…..well,  sebenarnya untuk berpuluh-puluh menit ke depan, kisahnnya jalan di tempat. Lita diteror, melapor pada Rama yang tak menggubris ceritanya. Begitu seterusnya.

Narasi semacam itu bisa menarik bila berhasil mempermainkan perspektif penonton terkait kondisi psikis Lita. Tanpanya, hanya ada repetisi menyebalkan, alasannya ialah respon skeptis Rama mudah menghalangi alurnya bergerak maju. Keadaan membaik sesudah Rama mengakui kebenaran kisah sang istri, kemudian memanggil dukun berjulukan Adam (Teuku Rifnu Wikana), yang menjabarkan beberapa teori seputar alasan di balik teror si hantu. Teori yang alih-alih menjawab, justru menyulut pertanyaan lain, yang memberikan kebingungan Fajar membangun hukum mistisismenya sendiri.

Naskahnya bertambah remuk bila kita membahas soal diksi. Banyak kalimat, sebutlah, “Mari akhiri malapetaka ini”, “Dia ialah entitas independen”, dan lain sebagainya, takkan kita temukan dalam dialog kasual di realita. Semakin terdengar asing dikala penghantaran lemah para pemain turut berkontribusi.

Sekali waktu, kita diajak mengunjungi Sari yang tiap malam juga mendapat teror di bangsalnya. Tidak perlu merekrut nama sekaliber Cut Mini untuk tugas sekecil Sari, tapi Ikut Aku Ke Neraka adalah film yang memasang Sara Wijayanto sebagai psikiater dan Ence Bagus sebagai dokter kandungan. Keputusan menggunakan Cut Mini terang lebih bisa dipahami. Setidaknya sang aktris bisa jadi penampil terbaik, dikala jajaran cast lain tidak terlalu berkesan (Teuku Rifnu Wikana, Clara Bernadeth), atau justru bermain kaku (Rendy Kjaernett).

Beruntung, departemen penyutradaraan sedikit lebih baik. Azhar Kinoi Lubis masih sanggup menciptakan segelintir jump scare yang cukup efektif meningkatkan intensitas, biarpun metode kemunculan hantunya miskin kreativitas, dan masih terjebak dalam pemakaian tata bunyi berisik. Elemen soild lain ialah tata artistik dan visual, namun pada titik ini, nuansa vintage dari dekorasi serta pewarnaan tak lagi Istimewa akhir terlalu sering dieksploitasi pasca kesuksesan Pengabdi Setan (oleh horor produksi Rapi Films).

Ikut Aku ke Neraka ditutup oleh konklusi kelam yang gagal menusuk perasaan akhir ketidakmampuan memancing kepedulian terhadap jajaran karakternya. Seolah belum cukup, pemandangan konyol yang menggabungkan penulisan terbelakang dan akting buruk, menyusul beberapa detik kemudian selaku mid-credits scene.