October 18, 2020

Insidious: The Last Key (2018)

Begitu film usai, saya mencicipi atmosfer berbeda dibanding tiga installment Insidious sebelumnya. Tidak ada desahan maupun tawa penanda rasa lega para penonton. Kelegaan sesudah dipaksa menahan nafas menghadapi terkaman teror membabi buta. Lampu bioskop menyala, ada yang membuka handphone, mengobrol, atau segera meninggalkan ruangan. Terdengar seorang penonton berkata, “biasa aja ya?”. Pernyataan itu menjelaskan perbedaan atmosfer di atas. Insidious: The Last Key memang bukan wahana roller coaster serupa pendahulunya. Mencapai seri keempat, perjuangan menempuh jalur gres bekerjsama wajar. 

Namun masuk akal bukan berarti tepat. Apa yang terasa di momen epilog sejatinya menyerupai dengan suasana ketika judul film terpampang. Dingin, datar, tanpa biola menyayat buatan Joseph Bishara yang selalu mencirikan Insidious. The Last Key ingin mencoba sesuatu yang beda dengan cara melucuti salah satu aspek ikonik franchise-nya. Untungnya, hanya salah satu. Sutradara Adam Robitel (The Taking of Deborah Logan) bagai telah lulus “James Wan’s School of Jump Scares“, sedangkan Leigh Whannell selaku penulis naskah semenjak film pertama tentu paham di mana poros dongeng seri ini terletak: Elise Rainier (Lin Shaye).
Alurnya membenamkan diri lebih jauh menyelami masa kecil Elise, ketika dia mulai menyadari bakatnya berkomunikasi dengan makhluk halus. Mengetahui itu, ayah Elise, Gerald (Josh Stewart), selalu bertindak kejam, memukuli Elise tiap kali dia berkata tengah melihat hantu. Pengalaman traumatis tersebut merupakan pangkal segala poin plot The Last Key. Whannell bukan pencerita handal. Sering keteteran menangani pendalaman dongeng di antara kewajiban menyusun alur penuh misteri serta twist layaknya benang kusut. Tapi paling tidak gagasan mengenai “kebencian dan rasa bersalah sebagai musuh utama” dapat tersampaikan dengan mulus.

Lain halnya terkait cara menyulut dan mengakhiri konflik. Whannell terlampau bergantung pada kebetulan-kebetulan hingga keputusan-keputusan abjad yang mengundang tanya. Malas, juga menggampangkan. Bahkan klimaksnya ditutup memakai deus ex machina. Momen ini sesungguhnya berpotensi menguras emosi sekaligus terlihat badass, serupa Chapter 3 tatkala kalimat “Come on, bitch!” terlontar dari lisan Elise. Sayang, kesan dadakan ditambah pengadeganan cartoonish Robitel menciptakan momen tersebut berujung konyol. 
Insidious: The Last Key tertolong oleh beberapa jump scare yang masih berakal mempermainkan ekspektasi, pun sempurna menempatkan gebrakan, daripada asal berisik. Beberapa yaitu penerapan ulang trik usang yang sulit disangkal memang efektif menciptakan penonton terperanjat. Belum lagi memikatnya tata rias pembungkus tampilan para hantu kala menyerupai biasa, visual setan Insidious cenderung menyentuh ranah fantasi yang imajinatif. Desain KeyFace selaku antagonis utama mungkin tak sesegar Lipstick-Face Demon atau Bride in Black, pula kalah menyeramkan, tapi terang jauh lebih kreatif ketimbang setumpuk horor generik di luar sana.

Film ini gelap. Bicara mengenai penyiksaan anak, tragedi, hingga stress berat yang mengajak kita menyusuri sisi terkelam Elise. Bahkan kalau pikiran pembangkang anda ikut terlibat, nuansa di paruh simpulan film secara subtil memancarkan aura “S&M”. Itu sebabnya, bumbu komedi yang mengandalkan polah konyol Specs (Leigh Whannell) dan Tucker (Angus Sampson) memancing inkonsistensi tone. Terlebih tingkat kelucuannya kurang stabil. Selipan humor keduanya di sela-sela teror merupakan contoh andalan seri Insidious, dan sewaktu formula suatu franchise tidak lagi mujarab tetapi perjuangan menempuh jalan gres justru merusak pondasi, datang waktunya menyelesaikan perjalanan sesegera mungkin, sebelum franchise ini terseret jauh menuju dunia gelap bersama Lipstick-Face Demon.