November 29, 2020

Ip Man 4: The Finale (2019)

Sejak film perdananya pada 2008 kemudian hingga Ip Man 4: The Finale selaku penutup, Ip Man (Donnie Yen) kolam insan sempurna. Tidak terkalahkan dalam pertarungan, berhati mulia, sosoknya pun mendekati deus ex machina yang kehadirannya bagai jaminan terselesaikannya dilema apa saja. Tapi dalam film seri garapan Wilson Yip ini, elemen yang biasanya dianggap kekurangan tersebut malah disulap jadi keunggulan. Ip Man yaitu satria yang bisa membuat penonton bangun di belakangnya, alasannya perjuangannya selalu didasari kepedulian, baik kepada orang-orang terdekat yang ia cintai maupun para korban ketidakadilan.

Semenjak janjkematian sang istri yang selalu jadi alasan perjuangannya, Ip Man didiagnosis menderita kanker tenggorokan. Di tengah keterbatasan waktunya, Ip masih harus mengurusi putera keduanya, Ip Ching (Ye He), yang memberontak, dikeluarkan dari sekolah, dan melawan segala perintah sang ayah. Dia menolak bersekolah, ingin total menekuni martial arts. Ip Man menentang itu, kemudian menentukan mencarikan sekolah gres di San Francisco, Amerika Serikat, dengan pinjaman Bruce Lee (Danny Chan), muridnya yang mempopulerkan Wing Chun di sana.

Sejak menampilkan Mike Tyson di Ip Man 3, kita tahu seri ini sudah semakin gamblang menanggalkan sampul biografi untuk berkonsentrasi menyajikan laga-laga bela diri segila mungkin. Pola itu dilanjutkan, di mana film keempatnya bahkan berani menyentuh ranah fan service guna memuaskan ekspektasi penonton, dengan memberi porsi lebih besar kepada Bruce Lee. Danny Chan bisa mereproduksi aneka macam ciri sang legenda, mulai dari arogansi, teriakan khas, hingga gestur sewaktu beradu jurus, termasuk one inch punch yang terlihat meyakinkan.

Ditulis naskahnya oleh empat nama, termasuk Edmond Wong dan Tai-lee Chan yang terlibat semenjak film perdana, Ip Man 4: The Finale sejatinya mempunyai alur sarat simplifikasi, bahkan cenderung konyol yang mengingatkan akan film-film kelas b. Agar puteranya bisa bersekolah di San Francisco, Ip mesti menerima surat rekomendasi dari ketua Chinese Consolidated Benevolent Association (CCBA), Wan Zong Hua (Wu Yue). Wan bersedia, dengan syarat Ip bisa membuat Bruce menutup sekolah Wing Chun yang ia dirikan. Menurut Wan dan anggota CCBA lain, tidak seharusnya Bruce mengajarkan seni bela diri Cina kepada orang Amerika yang telah berlaku rasis terhadap mereka.

Menyusul berikutnya yaitu rangkaian konflik yang melibatkan dilema puteri Wan, Yonah (Vanda Margraf), di sekolah, yang memicu perseteruan CCBA dengan pihak imigrasi, hingga usaha Hartman Wu (Vanness Wu), anggota marinir sekaligus murid Bruce Lee, menerapkan Wing Chun sebagai kurikulum training yang memancing perselisihan dengan Barton Geddes (Scott Adkins), atasannya yang rasis.

Seluruh elemen di atas nantinya saling bersinggungan secara begitu menggelikan. Fokus naskahnya cuma mempertemukan satu petarung dengan petarung lain, melupakan benih dilema rumit seputar rasisme yang ditabur di awal. Masyarakat Amerika memang merendahkan masyarakat Cina, namun bukankah sakit hati Wan dan kawan-kawan berujung melahirkan perilaku serupa, termasuk dikala melarang Bruce mengajarkan Wing Chun? Tiada resolusi niscaya atas hal ini, meski Ip Man 4: The Finale jelas menggambarkan masyarakat Cina lebih terhormat ketimbang Amerika.

Di satu titik, tangan kiri Ip mengalami cedera. Mengetahui itu, di tengah pertarungan keduanya, Wan menentukan hanya menggunakan satu tangan. Sebaliknya, Barton malah sengaja mengeksploitasi kelemahan tersebut. Apalagi jajaran bintang film Baratnya menunjukkan performa menyedihkan layaknya pemain-pemain amatir dalam film-film pelajar. Hanya Scott Adkins yang sanggup meninggalkan kesan. Bukan lewat aktingnya tentu saja, melainkan fisik prima serta kemampuan bela diri luar biasa, yang mengakibatkan Barton salah satu musuh paling berbahaya di franchise ini, yang bisa membuat si master Wing Chun berdarah-darah.

Lain kisah kalau membicarakan adegan laga. Wilson Yip sudah khatam urusan mengkreasi baku hantam over-the-top beroktan tinggi yang bisa menangkap keseluruhan detail koreografi. Bahkan agresi saling dorong meja beling lingkaran saja membuat pemandangan menegangkan. Saya dibentuk menahan napas menyaksikannya, apalagi ketika musik bombastis gubahan Kenji Kawai yang telah menduduki posisi composer semenjak film pertama, memperkuat intensitas masing-masing adegan, ditambah lagi efek bunyi pukulan dan tendangan yang membuat dampak dari tiap serangan terasa nyata.

Ip Man 4: The Finale merupakan perpisahan yang layak terhadap tugas paling ikonik Donnie Yen, yang berbekal kharisma luar biasa, sanggup memancing gemuruh seisi studio hanya dengan menampakkan diri di tengah medan pertempuran. Yen tidak pernah kehilangan wibawa, sekalipun dikala mendapatkan pukulan. Satu kelebihan Donnie Yen yang jarang dimiliki bintang film laga lain yaitu aura hangat dan kelembutan yang mengakibatkan sosok Ip Man bukan hanya soal otot, tapi juga hati.