November 27, 2020

It Chapter Two (2019)

Bujet berlipat ganda, jajaran bintang bertambah, penggunaan CGI meningkat, sampai meluasnya skala kisah dalam durasi mendekati tiga jam (170 menit). Sutradara Andy Muschietti (Mama, It) bersama penulis naskah Gary Dauberman (Annabelle: Creation, It, The Nun) memperlakukan It Chapter Two layaknya even blockbuster ketimbang sekuel horor biasa. Hasilnya tak semengerikan film pertama, namun terang menutup pertarungan epik puluhan tahun antara The Losers’ Club melawan Pennywise dengan layak.

Pertarungan itu terjadi bukan cuma terjadi secara langsung, lantaran 27 tahun selepas peristiwa di Derry, ketujuh pendekar kita tidak pernah berhenti bergulat dengan efek psikis teror Pennywise (Bill Skarsgård). Mike (Isaiah Mustafa) bertahan di Derry demi mengantisipasi kembalinya si badut monster, tinggal di perpustakaan, Nampak karam dalam obsesi. Begitu ketakutannya jadi kenyataan, Mike memanggil keenam sahabat masa kecilnya, meminta mereka kembali guna memenuhi janji.

Bill (James McAvoy) sang pemimpin regu yaitu penulis novel ternama yang kerap dikritisi akhir ending buruknya, yang mungkin disulut ketidaktuntasan konflik 27 tahun lalu. Beverly (Jessica Chastain) terjebak di janji nikah abusive, Ben (Jay Ryan) si tambun sekarang jadi seorang arsitek bertubuh atletis yang masih memendam cinta lamanya, Richie (Bill Hader) sukses sebagai pelawak stand-up, Eddie (James Ransone) masih seorang paranoid, sedangkan Stanley (Andy Bean) tak kuasa menghadapi ketakutan, kemudian menentukan bunuh diri daripada kembali pulang.

Ketimbang melemahkan, pertambahan usia para protagonist justru digunakan menguatkan esensi kisah It perihal pertarungan melawan monster, di mana sosok monster itu bukan saja makhluk pembunuh beraneka wujud, pula manifestasi konflik internal. Bahkan Pennywise sendiri kerap dijadikan cerminan problem sosial kala ia membunuh pasangan gay korban persekusi maupun teror terhadap The Losers’ Club yang menyentil soal perundungan.

Demi membuat subteks tersebut, Gary Dauberman tak melupakan dua faktor penting: emosi dan karakter. Selain “melawan ketakutan”, It Chapter Two turut mengangkat tema “memori”. Bahwa individu cenderung mengubur ingatan jelek tapi menyimpan kenangan indah, dan bagaimana kenangan indah itu berperan besar dalam perjuangan mengalahkan monster-monster di atas. Ending-nya cukup menyentuh berkat keberhasilan memainkan tema tersebut.

Terkait karakter, Dauberman memastikan tiap anggota The Losers’ Club memperoleh porsi seimbang. Bahkan walau fokus utama terletak pada versi dewasa, kita tetap menghabiskan cukup banyak waktu mengunjungi lagi masa kecil The Losers’ Club. Positifnya, kita berkesempatan memahami gejolak batin masing-masing. Menangani enam tokoh utama bukan hal mudah, namun Dauberman bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Berkatnya, akting jajaran ensemble cast-nya juga tidak tersia-siakan, biarpun secara mengejutkan, gelar MVP tak jatuh ke tangan James McAvoy atau Jessica Chastain, melainkan Bill Hader.

The funniest people are the saddest ones”, demikian kata Confucius. Kesan serupa berhasil Hader hidupkan. Dia berjasa menyegarkan suasana lewat bermacam-macam kelakar menggelitik (menegaskan status filmnya bukan sebagai “fun ride” alih-alih “dreading horror”), tapi Hader pun mengakibatkan Richie abjad paling sendu, melankolis, dan dipenuhi ironi.

Membagi rata porsi keenam abjad berdampak pada pembengkakan durasi, yang bertanggung jawab melahirkan second act repetitive, dikala The Losers’ Club berpencar dan satu per satu mesti menghadapi teror Pennywise. Pada poin ini, It Chapter Two membuat eksplorasi abjad sebagai sampul, sebagai alasan menghantarkan jump scare sesering mungkin. Alhasil, dampaknya melemah dibanding film pertama, namun berkat kecakapan Andy Muschietti, biarpun ketegangan kurang memuncak, setidaknya anda takkan mati bosan.

Sang sutradara masih piawai mengkreasi gambar-gambar menyeramkan (hujan balon di adegan pembuka sampai formasi penampakan Pennywise) selain tentunya, kreativitas tinggi dalam memvisualisasikan teror. Peristiwa ikonik macam “tarian Pennywise” di film pertama mungkin gagal diciptakan, tetapi It Chapter Two punya variasi teror yang jauh lebih bermacam-macam jika disandingkan dengan kompatriotnya sesama horor.

It Chapter Two juga menyerupai proses Muschietti berlatih menangani agresi berbalut CGI sebelum menggarap The Flash (direncanakan rilis 2021). Itulah kenapa filmnya terasa lebih berorientasi membangun wahana agresi ketimbang teror mengerikan. Beruntung, CGI-nya solid. Tanpa itu, klimaksnya mungkin akan terjatuh ke ranah kekonyolan. Membahas klimaks, kemenangan terbesar film Muschietti dibandingkan versi miniserinya yaitu keputusan mempertahankan wujud badut Pennywise.

Berkat itu, klimaksnya mempunyai dinamika, alasannya yaitu pertunjukan performa Bill Skarsgård, yang kembali tampil luar biasa menghidupkan bermacam-macam wajah menyeramkan si badut iblis, terang jauh lebih bernyawa ketimbang serangan monster laba-laba raksasa tanpa kepribadian. Pun keberanian naskahnya menampilkan Ritual of Chüd layaknya versi novel garapan Stephen King patut diapresiasi. Di satu sisi, konklusinya mungkin terkesan antiklimaks bagi sebagian penonton, tapi di sisi lain esensi “pertempuran mental” The Losers’ Club melawan Pennywise bisa digambarkan.