November 26, 2020

Jaff 2019 – Abracadabra

Pesulap berjulukan Lukman (Reza Rahadian) tetapkan pensiun. Di pertunjukkan terakhirnya, ia bertaruh, jika triknya gagal, maka ia takkan melaksanakan sulap lagi. Sebuah alasan semata, alasannya di situ, Lukman memang berniat gagal. Triknya yaitu menghilangkan bocah dalam kotak. Alih-alih kotak khusus, ia menggunakan kotak kayu biasa peninggalan sang ayah, seorang pesulap tersohor yang hilang pasca pensiun. Tapi, ketika dibuka, kotak itu kosong. Kekosongan yang juga terasa di hati saya selama menonton Abracadabra.

Berikutnya, orang-orang lain ikut hilang alasannya kotak tersebut, dan Lukman melaksanakan perjalanan guna mengembalikan mereka, sembari mencari tahu diam-diam di balik kotak kayu bertuliskan “Abracadabra” itu. Perjalanan yang melibatkan kejar-kejaran dengan trio polisi konyol (Butet Kertaradjasa, Ence Bagus, Imam Darto) sampai kemunculan perempuan berpenampilan mewah (Salvita Decorte) yang kolam berasal dari masa tatkala kabaret Moulin Rouge mencapai puncak kejayaan.

Faozan Rizal (Habibie & Ainun, Say I Love You), selaku sutradara sekaligus penulis naskah, menyebabkan film ini taman bermain. Sejak menit-menit awal ketika Lukman mengadakan pertunjukan sementara pesulap-pesulap lain—termasuk Paul Agusta dengan dandanan ala drag queen dan Ismail Basbeth yang dapat melayang—ikut menonton, absurditas sudah terbangun. Ini bukan dunia di mana insan berperilaku ibarat realita, kultur dan teknologi bagai berasal dari dongeng, pun nalar tidak bekerja “sebagaimana mestinya”.

Kreativitas pandangan gres liar Faozan Rizal dalam membangun dunia memang menarik, sama menariknya dengan bagaimana sang sutradara, yang lebih dikenal sebagai sinematografer, menyebabkan Abracadabra salah satu suguhan visual paling unik serta memanjakan mata dalam perfilman Indonesia. Terkesan quirky dan banyak dihiasi warna pastel, tidak salah bila ingatan eksklusif tertuju pada karya-karya Wes Anderson, khususnya The Grand Budapest Hotel (2014).

Ragam warna pembungkus latar termasuk kantor polisi berwarna merah muda di tiap sudut, mise-en-scène yang memperhatikan betul presisi penempatan objek termasuk pemain drama secara detail, pesawat dan kendaraan beroda empat mainan yang berjalan di atas sebuah peta untuk menggambarkan perjalanan Lukman, kostum-kostum ala pertunjukan panggung megah, membuat pemandangan pemuas mata, yang memperlihatkan apa jadinya jika perkawinan empat departemen, yaitu penyutradaraan, sinematografi, tata kostum, dan art direction, berlangsung mulus.

Hampir tiap shot bisa di-capture sebagai wallpaper, untuk kemudian diamati terkait luar biasanya Faozan dan tim memperhatikan detail. Visualnya memang menghipnotis. Tapi ibarat orang dihipnotis, hati terasa hampa. Ceritanya karam dalam eksperimentasi gambar dan gaya. Padahal sejatinya, kisah Abracadabra sederhana saja. Tentang perjalanan karakternya memahami, mempercayai, kemudian balasannya menerima.

Dikisahkan, kotak milik Lukman terbuat dari kayu Yggdrasil, pohon dari mitologi Norse, yang menghubungkan sembilan dunia. Silahkan cari tahu beberapa kisah soal Yggdrasil dan mitologi Norse secara umum, termasuk perihal konsep waktu yang tidak linear dalam mitologi itu. Anda akan dapat memecahkan garis besar teki-teki Abracadabra. Tapi adanya makna tersirat dan metafora tidak berbanding lurus dengan kualitas penceritaan. Terpenting yaitu pengemasannya. Dan di sini, rasa dalam drama kehidupan Lukman lenyap. Bernasib sama yaitu kualitas akting Reza Rahadian.

Jangan salah, Reza tidak pernah buruk. Hanya saja, kesan Istimewa yang kerap mengiringi kemunculannya urung nampak. Dia tak kuasa memperbaiki penokohan membosankan Lukman, seorang laki-laki gloomy di antara dunia sarat keceriaan. Abracadabra mengandung dua sisi yang tak pernah dapat melebur. Tuturan komersil ringan bersenjatakan lawakan receh yang cukup efektif memancing tawa berbenturan dengan kontemplasi kelam. Ketimbang saling mengisi, pertemuan keduanya melahirkan inkonsistensi. Film ini kental imbas Wes Anderson, dan sulit tidak berharap Faozan mau sepenuhnya menempuh jalur komedik ibarat Anderson.

Proses batin protagonisnya gagal dieksplorasi, sehingga ketika balasannya ia mencapai destinasi, transformasi internalnya kurang meyakinkan. Sungguh saya ingin menyukai Abracadabra, khususnya alasannya totalitas para pembuatnya melahirkan parade visual luar biasa patut diacungi jempol. Tapi patut disadari bahwa urgensi di industri perfilman kita yaitu soal perbikan penulisan naskah, bukan gambar cantik.