November 28, 2020

Jaff 2019 – Bento Harassment

Kadang saya teringat masa sekolah dulu, ketika masih membawa bekal buatan ibu. Karena sudah belasan tahun berlalu, tentu saya tidak ingat niscaya tiap menunya, tapi secara alamiah, saya mengasosiasikan beberapa kuliner dengan tragedi tertentu. Dibuat berdasarkan sebuah esai berjudul sama, Bento Harassment bicara hal serupa, ketika bekal dari ibu merepresentasikan fase-fase hidup karakternya di sekolah.

Kaori (Ryoko Shinohara) mesti menjadi ibu tunggal selepas maut suaminya beberapa tahun lalu. Saat keluarga ini masih utuh, Kaori begitu akrab dengan kedua puterinya, bahkan berjanji akan membuat restoran bersama. Kini, si puteri sulung, Wakaba (Rena Matsui) tinggal terpisah walau bekerja di restoran yang sama dengan Kaori, sedangkan si bungsu, Futaba (Kyoko Yoshine), ialah dewasa pemberontak.

Kaori dan Futaba tinggal serumah, tapi jarang bicara. Futaba menutup pintu komunikasi mereka, melarang Kaori memasuki kamarnya, menentukan hanya bicara lewat chat bahkan ketika keduanya ada di satu ruangan. Bagi Futaba, Kaori kolam monster (dia menamai kontak Kaori sebagai “Ogre”), dan menuruti perintah ibu bukan suatu hal keren. Sempat putus asa, Kaori menerima ide terkait cara biar Futaba mengubah sikap.

Kaori berbagi charaben (character bento), yakni bekal yang disusun biar membentuk aksara populer, wajah manusia, hewan, atau binatang. Kaori tahu hal itu bertentangan dengan definisi “keren” dari Futaba. Dia berharap Futaba bakal merasa kesal dan alhasil terdorong untuk berubah. Begitu menarik desain Kaori, tiap jam makan siang, Futaba selalu dikerubuti teman-temannya yang penasaran, “Bento menyerupai apa lagi yang dibentuk ibumu?”. Bahkan sempat pula di bekal itu terselip pesan biar Futaba mau mencuci piring sesudah makan.

Kreativitas. Itulah pondasi Bento Harassment. Desain kreatif Kaori jadi hiburan tersendiri, bukan cuma bagi teman-teman sekelas Futaba, juga penonton. Dan Renpei Tsukamoto (One Missed Call 2, Wig, Reon) selaku sutradara sekaligus penulis naskah, memanfaatkan ragam kreasi Kaori guna membuat supaya secara natural, bekal-bekal itu sanggup mewakili fase-fase hidup Futaba. Dari persiapan ujian hingga ketika tumbuh getar-getar cinta di hati Futaba terhadap sobat masa kecilnya, Tatsuo (Kanta Sato), bekal sang ibu selalu menemani, melahirkan momen-momen tak terlupakan.

Humornya tidak kalah kreatif. Absurditas komedi khas film Negeri Sakura efektif menyegarkan suasana berkat pengadeganan menarik sang sutradara, pula kebolehan jajaran pemain, khususnya Ryoko Shinohara—yang gemar menatap licik ke arah kamera kolam tokoh sinetron tiap rencananya membuat Futaba kesal berakhir sukses.

Naskah buatan Renpei Tsukamoto tampil apik di beberapa sisi. Pesan wacana “cinta dalam makanan, kuliner penuh cinta, kuliner untuk cinta” tersampaikan dengan mulus. Kita tahu kelak Futaba akan luluh, namun bukan berarti perubahan itu sanggup disajikan seenaknya. Tsukamoto memastikan ada gradasi dalam transformasi Futaba. Bahkan selepas terungkapnya satu elemen mengejutkan, Futaba masih meragu. Sebuah kewajaran. Remaja pemberontak yang ingin terlihat keren tampaknya niscaya punya gengsi luar biasa besar, yang acap kali menahannya bersikap jujur sesuai kata hati.

Satu poin yang agak mengganggu ialah dongeng sampingan mengenai Okano (Ryuta Sato), ayah tunggal yang selepas maut istrinya, kerepotan mengurus anak seorang diri. Sampai alhasil Okano menemukan blog di mana Kaori mempublikasikan charaben buatannya, kemudian terinspirasi untuk melaksanakan hal serupa. Di sini Tsukamoto bagai ingin membubuhkan kisah cinta bagi Kaori sembari menyelipkan tuturan soal “Dua orang dipersatukan oleh luka yang sama”, tapi justru membuat pernak-pernik tak substansif, yang bila dihilangkan pun takkan melemahkan kisah utama.

Memasuki babak akhir, Bento Harassment bisa saja terjerumus ke ranah disease porn murahan nan eksploitatif, kalau bukan alasannya ialah logika yang tetap naskahnya perhatikan. Ada kesan mendadak, tapi jikalau dirunut lagi, hal tersebut masuk akal terjadi, bahkan semestinya sudah diantisipasi, baik oleh penonton maupun karakternya. Hasilnya ialah 15 menit terakhir yang meruntuhkan benteng perasaan. Pengadeganan Tsukamoto punya takaran dramatisasi yang sempurna, sementara Ryoko Shinohara lewat senyum serta linangan air mata sarat kasih sayang akan mencengkeram hati siapa pun.