November 29, 2020

Jaff 2019 – Empu

Di pameran berskala internasional bergengsi sekalipun, film buruk tetap bisa ditemukan. Itu wajar. Tapi biasanya alasannya lolos seleksi bisa dipahami. Entah didorong kecocokan tema, kesejukan gaya (biasanya berupa eksperimentasi estetika), atau sebatas karea ada sosok yang dihormati pelaku industri terlibat di dalamnya. Cukup jarang ada kasus di mana muncul pertanyaan, “Bagaimana bisa film ini diterima?”. Empu, yang punya judul internasional Sugar on the Weaver’s Chair merupakan salah satu kasus langka tersebut.

Film yang judulnya berarti “sosok terhormat”—yang menjelaskan mengapa ada kata itu di dalam “perempuan”—ini mengangkat tema empowerment soal cerita tiga wanita, Sutringah (Annisa Hertami) si istri penyadap gula asal Banyumas, Yati (Arianggi Tiara) yang meski punya disabilitas tetap semangat mengelola bisnis lurik keluarga di Klaten, dan Maria (Putry Moruk) seorang janda yang memimpin perjuangan mandiri para janda lain di Kefa. Naskahnya ditulis oleh sutradara Harvan Agustriansyah (Hi5teria, Lima) bersama Luvie Melati (Tuyul Part 1, Hantu Jeruk Purut Reborn), alias memadukan kepala pria dengan perempuan.

Berdasarkan penuturan Harvan dalam sesi tanya-jawab, kombinasi ini dipilih guna menyajikan perspektif berimbang. Keputusan bijak, namun kentara ada dua perspektif berbeda yang saling bertubrukan. Di samping kalimat-kalimat bernada somasi atas ketidakadilan gender, sempat terdengar pula empowerment semu, misal pada paruh konklusi, ketika salah satu abjad berkata bahwa ia menentukan “menerima takdir”.

Awalnya semua berjalan lancar, baik dari pergerakan narasi maupun presentasi pesan. Sudah terjebak banyak hutang, kondisi Sutringah diperparah kala suaminya terjatuh ketika menyadap gula, lumpuh, dan tak bisa mencari nafkah. Dia ingin bekerja, tapi sang suami melarang sambil berseru, “Aku udah jadi babu orang, saya nggak mau kau juga jadi babu orang lain!”. Sekilas terdengar penuh perhatian, sebelum ia lanjut berkata, “Kamu tetep aduk gula aja!”. Sang suami melarang Sutringah menjadi babu orang luar, hanya biar perempuan itu bisa menjadi babunya sendiri. Tipikal teladan pikir patriarki yang berhasil filmnya gambarkan dengan relevansi tinggi.

Yati mendapati kalau wisatawan abnormal kurang tertarik pada lurik produksinya sebab pilihan warna yang kurang cerah. Begitu ia menyatakan wangsit untuk menciptakan lurik berwarna cerah, sang ayah seketika membantah, beralasan bahwa warna itu sudah bebuyutan dan tak semestinya diubah. “Sudah cukup. Kurang apa lagi? Kamu harusnya bersyukur”, demikian sebut sang ayah ketika Yati memberikan ambisinya menambah pemasukan pabrik. Sikap “nerimo” ini yang ingin Yati gugat.

Sedangkan Maria yang memimpin komunitas janda pebisnis tenun terancam kehilangan bangunan kawasan mereka menenun akhir problem dengan korporasi. Tercetus wangsit untuk menyalurkan ilmu menenun lewat media acara mencar ilmu mengajar di sekolah, namun harapan itu terbetur kurikulum. Kali ini giliran ketidakpadulian terhadap budaya lokal yang filmnya sentil.

Ketiga cerita di atas menarik, relevan, pun variatif walau mempunyai satu benang merah ialah pemberdayaan perempuan. Sayangna kelemahan beberapa departemen cukup mengganggu. Entah buruknya hasil konversi DCP atau problem pasca-produksi lain, gerak gambarnya kerap putus-putus. Sementara naskahnya, terkesan dangkal cenderung menggurui ketika semua pesan disampaikan secara verbal. Tidak ada kesubtilan. Seolah apa saja yang ada di benak karakternya, selalu mereka luapkan lewat kata-kata.

Cara bertutur itu sedikit terselamatkan berkat penampilan Annisa Hertami, salah satu aktris paling berbakat tapi underrated negeri ini. Berlawanan dengan filmnya, akting Annisa tak terjebak kegamblangan. Baik dalam membisu atau tuturan katanya, ada beberapa layer yang menyebabkan sosok Sutringah terasa lebih kompleks ketimbang dua perempuan lain.

Menjelang babak ketiga, Empu mungkin bukan film memikat, namun sanggup dinikmati. Sampai datang waktunya konklusi dihadirkan, dan alasan mengapa film ini cuma berdurasi 60 menit eksklusif terlihat. Cerita mendadak usai. Tanpa tabrakan selesai selaku klimaks, semua problem rumit tadi ditutup secara instan dengan cara mengubah perilaku para tokoh begitu saja. Rasanya menyerupai menyaksikan iklan layanan masyarakat atau video motivasi mengaru biru yang kerap muncul di media umum atau YouTube. Sebuah ending yang menghancurkan segalanya, menciptakan rangkaian proses selama satu jam tadi menjadi tidak penting.