November 30, 2020

Jaff 2019 – Liway

Saya tertarik menonton film independen asal Filipina ini sesudah membaca ihwal respon luar biasa para penonton. Bahkan ketika diputar di bazar Cinemalaya tahun lalu, begitu kredit bergulir, penonton bertepuk tangan, meneriakkan jargon perjuangan, juga menyanyikan lagu bernada protes. Mengangkat kisah kasatmata kehidupan para tahanan yang meletuskan pemberontakan terhadap tirani Ferdinand Marcos, saya menerka bakal disuguhi tontonan politis. Rupanya Liway adalah drama keluarga yang lebih personal.

“Liway” merupakan julukan bagi Ceilia Flores-Oebanda alias Day (Glaiza de Castro), salah satu pentolan usaha New People’s Army dalam usaha menggulingkan pemerintahan Marcos. Setelah bergerilya di hutan, Komandan Liway ditangkap, dijebloskan ke penjara bersama suaminya, Ric alias Komandan Toto (Dominic Roco). Putera mereka, Dakip (Kenken Nuyad) lahir dan tumbuh di penjara tanpa pernah tahu kondisi di luar.

Biarpun diperlakukan secara manusawi, hidup di penjara terperinci bukan masalah mudah, khususnya bagi bocah ibarat Dakip. Day pun berusaha sekuat tenaga menjaga biar puteranya sanggup hidup senormal mungkin, membuatnya bahagia, termasuk dengan menceritakan cerita-cerita rakyat, salah satunya mengenai Liway, tuhan penjaga dari Gunung Kanlaon, yang mana merupakan versi fiktif dari kisah hidupnya.

Sesekali aroma politik berhembus, sebagaimana para tahanan terkadang menerima kabar terbaru perihal situasi, mengenai “Apakah pemerintahan Marcos bakal segera runtuh?”. Pun sempat pula kita diajak mengunjungi flashback singkat berisi perjalanan Day sebelum dipenjara, termasuk proses penangkapannya pasca baku tembak di hutan, yang sayangnya dikemas agak canggung oleh sutrdara Kip Oebanda, yang turut menulis naskahnya bersama Zig Dulay.

Tapi utamanya, Liway tetaplah dongeng personal ihwal keluarga juga tumbuh kembang seorang bocah. Dakip mungkin cukup senang di penjara, tapi biar bagaimana, penjara tetap penjara. Sebuah daerah di mana kebebasan dikekang. Tatkala kebebasan itu sudah dikekang semenjak lahir, individu berisiko terbiasa dengan kekangan tersebut, menganggapnya normal, bahkan merasa betah dijejali penderitaan. Di pertengahan, Liway sempat menitipkan Dakip kepada rekannya, dengan cita-cita sang putera sanggup hidup nyaman di luar. Nyatanya, si bocah tidak kerasan. Daripada tidur di kasur empuk, beliau menentukan berbaring beralaskan selimut tipis di lantai kamar mandi.

Progresi alurnya dibungkus tempo medium minim letupan namun tetap dinamis, yang mengalir mulus berkat penulisan rapi sehingga nyaman dinikmati. Akting Glaiza de Castro pun jadi pondasi kokoh sebagai seorang pemimpin pemberontakan yang selalu terjebak dilema, antara menuruti idealisme usaha atau menyerah demi orang-orang tersayang. Tapi di tengah semua itu, api di matanya menolak padam.

Dari potret keseharian, Liway bergerak semakin intens memasuki paruh kedua, sewaktu terjadi perubahan struktur di penjara. Sang sipir baik hati (Soliman Cruz), yang membuat dinamika hangat berupa kekerabatan saling menghormati antara penjaga dan tahanan, digantikan oleh sosok yang lebih kejam (Richard Joson). Mendadak final hidup serasa mendekat, dan ketegangan menguat. Puncaknya ialah titik puncak mencekam yang mengombang-ambingkan penonton di antara cita-cita dan ketidakberdayaan, ibarat yang selalu mengisi hari-hari para tahanan.

Karena perbedaan kedekatan representasi, respon gila-gilaan penonton Filipina tentu tak terulang di Indonesia, tapi ada hal lain. Begitu teks sebelum kredit mengungkap jati diri sang sutradara—yang bahwasanya sanggup ditebak jikalau menaruh perhatian semenjak awal atau mencari informasi terkait filmnya lebih dulu—banyak penonton tercekat, berteriak kecil, bahkan sayup-sayup terdengar tangisan, sesudah menyadari betapa Liway merupakan film yang amat personal.