November 24, 2020

Jaff 2019 – Mountain Song

Seperti banyak film independen dan/atau arthouse lokal lain, dalam menyajikan gosip berbalut kultur suatu tempat yang jarang dieksplorasi, yakni Pegunungan Pipikoro, Sulawesi Selatan, Mountain Song—yang menyabet penghargaan “Penulis Naskah Terbaik” di Asian New Talent Award pada Festival Film Internasional Shanghai 2019—menerapkan tempo lambat, lanskap alam, still shot, juga kesunyian pemberi nuansa kontemplatif. Bicara perihal kebaruan, sebetulnya karya sutradara sekaligus penulis naskah Yusuf Radjamuda ini tidak seberapa spesial. Toh film tidak melulu soal “baru”.

Tokoh utamanya ialah bocah berjulukan Gimba (Alqusyairi), yang tinggal bersama ibu dan kakeknya. Sang ibu tengah sakit, dan Gimba yang selalu ditinggal sendirian di sebuah gubuk selama ibunya bekerja, mengkhawatirkan kondisinya. Sempat di sekuen pembukanya, Gimba ketakutan setengah mati kala dari jauh melihat warga desa menandu seseorang. Dia berteriak, menangis, mengira itu ibunya. Beruntung, ia salah kira.

Wajar Gimba secemas itu. Di desa tersebut, sakit (kemungkinan besar) berarti mati. Petugas kesehatan, termasuk dokter, hanya tiba beberapa waktu sekali. Bila ada orang sakit, ia harus ditandu menempuh jarak luar biasa jauh, menuruni gunung, untuk mencapai rumah sakit terdekat, kemudian dijemput lagi oleh tim penjemput seusai berobat. Banyak warga keburu meninggal di tengah perjalanan, termasuk ayah Gimba.

Hanya dari satu elemen itu saja, Yusuf bisa menyatakan betapa pentingnya Mountain Song untuk disimak. Walau tidak dibarengi hal gres dalam urusan penggarapan, film ini punya informasi gres bagi penonton. Tantangan berikutnya ialah seberapa jauh Mountain Song sanggup menjaga ketertarikan penonton. Di sinilah filmnya kerap tersandung dalam pendefinisian “observasi” dan “kontemplasi” di skena arthouse.

Persis sebelum ini, saya membahas bagaimana Yosep Anggi Noen lewat The Science of Fictions berhasil memaknai cara bertutur alternatif supaya tidak terkesan “asal berat”. Yusuf Radjamuda belum mempunyai kapasitas serupa. Benar bahwa penerapan still shot guna menangkap lanskap-lanskap pegunungan sembari menempatkan Gimba, dalam porsi kecil, di tengah atau sudut layar, efektif menggambarkan kondisi batin karakternya. Gimba dihantui kematian, yang melahirkan ketakutan atas kesendirian.

Tapi di luar itu, gaya “artsy” lain, justru kerap mengurangi dampak yang diinginkan. Ambil pola adegan “lempar tangkap buah” Gimba dan sang ibu. Pemandangan itu hangat, menggelitik, sembari menyiratkan bagaimana secara tidak langsung, Gimba “dilatih” semoga tahu buah mana yang cukup matang untuk ditumbuk. Tapi akhir berlangsung terlalu lama, rasanya malah melelahkan. Pun isyarat semoga jajaran pemain berbicara lirih nan pelan. Bila menangkap realisme ialah tujuan besar filmnya, keputusan tersebut justru melucutinya.

Di tengah kesendiriannya menanti kepulangan ibu, Gimba kerap mengalami kejadian di luar nalar. Seorang gadis cilik misterius menyambanginya, pun sesekali Gimba kehilangan kesadaran, kemudian berpindah ke alam lain. Ke mana pun arah Gimba melangkah di alam ini—yang gemar memperdengarkan suara-suara asing tanpa wujud—ia selalu kembali ke tempat semula. Mengambil istilah Jawa, mungkin Gimba “keselong”. Tapi mistisisme milik Mountain Song bukan bentuk bahaya jahat. Sebaliknya, bersama ajaran-ajaran dan lagu dari sang ibu, makhluk-makhluk tak kasat mata ini merupakan “nyanyian” yang menemani, membantu Gimba menghadapi kesendirian.