November 24, 2020

Jaff 2019 – The Science Of Fictions

Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya (2012), A Lady Caddy Who Never Saw a Hole in One (2013, film pendek), Istirahatlah Kata-Kata (2016). Urusan merangkai judul menarik nan estetik, serahkan pada Yosep Anggi Noen. Tidak terkecuali The Science of Fictions alias Hiruk-Pikuk Si Al-Kisah, yang berkesempatan ditayangkan di dua bazar film internasional prestisius, yaitu Locarno Film Festival dan AFI Fest.

Bukan cuma judul, gagasannya pun unik. Teori konspirasi soal pemalsuan pendaratan di bulan sudah biasa. Tapi bagaimana kalau proses pembuatan video rekayasa itu dilakukan di Gumuk Pasir Parangkusumo, Yogyakarta? Begitulah yang terjadi dalam film ini. Alkisah, Siman (Gunawan Maryanto) melihat pengambilan gambar pendaratan di bulan, ditangkap, kemudian dipotong lidahnya. Sejak itu hidup Siman bergerak lambat layaknya astronot di luar angkasa.

Sebenarnya pendaratan di bulan sebatas penghantar saja. Ketimbang itu, poin utama The Science of Fictions adalah soal acara merekam. Seperti judulnya, ini kisah wacana “ilmu” dalam penciptaan fiksi. Bahwa sekarang, realita dan fiksi sudah jadi dua entitas yang sukar dibedakan. Bagaimana di masa kini semua orang sanggup dengan praktis merekam, kemudian membuat dongeng sendiri semaunya dari situ. Bagaimana semua jadi materi tontonan, bahkan berkaca dari adegan penutupnya, mungkin tanpa sadar kita pun termasuk materi tontonan itu.

Mungkin tidak seunik apa yang disiratkan sinopsisnya, tapi itu tak melemahkan filmnya. Anggi, yang kembali menulis naskahnya sendiri, tetap terpelajar bermain metafora yang memperkaya perjalanan kita mengarungi dunia Siman yang tidak punya definisi niscaya soal latar waktu. Memulai kisah di tahun 1960an, yang turut meliputi bencana 30 September 1965, kita mendapati karakternya mempunyai telepon genggam. Ini bukan kealpaan. Mungkin Anggi sedang mempertontonkan “the science of fictions” itu sendiri, alias seni dalam mendukung tuturan fiksi, di mana mendobrak logika sah-sah saja.

Kebebasan berimajinasi itu digunakan Anggi guna menyelipkan momen-momen beraroma surealis, contohnya keberadaan sosok Sang Aktor (Ecky Lamoh) yang dengan seragam ditambah perawakannya (kecuali rambut panjang Ecky) mengingatkan kepada politikus Uni Soviet, Leonid Brezhnev, di mana ia selalu merekam sekitar, serta (tanpa ia sadari) direkam kehidupannya. Elemen ini masih terkait dengan urusan rekam-merekam tadi.

Gunawan Maryanto kembali menawarkan apa itu pendalaman juga olah rasa dalam akting. Tidak perlu hingga membahas kekacauan batin Siman yang disiratkannya melalui kekuatan ekspresi. Tengok bagaimana ia bergerak lambat. Ketika saya masih aktif berakting di teater dulu, salah satu sajian latihannya yaitu bergerak lambat. Sekilas gampang, namun percayalah, itu susah. Salah-salah justru kesan dibuat-buat yang muncul. Gunawan, selaku salah satu dedengkot dunia teater Yogyakarta, begitu luwes, natural dalam melakoni “tarian astronot” itu.

Siman, yang didera trauma, bergerak lambat kecuali di saat-saat tertentu sewaktu gagal mengontrol emosi (marah dan/atau tersulut nafsu), sementara manusia-manusia lain yang tak terjebak masa lalu, enteng saja melangkah maju. Mereka mengejek Siman, menyebutnya gila, tapi dasar insan bermuka dua, banyak yang memanfaatkan Siman dengan berhutang padanya, atau berebut menjadikannya maskot proyek masing-masing, dari tim jatilan hingga pengisi program pernikahan.

Serupa banyak arthouse, The Science of Fictions melaju dalam tempo lambat pun kerap menerapkan still shot. Bedanya, dibanding setumpuk sineas termasuk dari Indonesia, Anggi paham kalau di istilah “arthouse” terselip kata “art”. Arthouse bukan bermakna memperberat film, melainkan mempercantik, baik penghantaran rasa atau estetika. Departemen bunyi contohnya, yang dibantu budi Yasuhiro Morinaga (Sekala Niskala), bisa menyulap bunyi mesin jahit hingga sendok yang beradu dengan gelas beling jadi alunan musik ritmis.

Urusan visual, berkolaborasi dengan sinematografer siapa pun, selain tampak cantik, Anggi juga memastikan gambarnya diselubungi misteri yang memancing penonton mengobservasi. Di sini, bersama penataan kamera Teoh Gay Hian (Opera Jawa, Perempuan Punya Cerita, Kucumbu Tubuh Indahku), Anggi mengawali durasi dengan warna hitam-putih dalam rasio aspek 4:3 yang sesekali terasa klaustrofobik, kemudian begitu kisah memasuki “masa kini”, giliran wide ration dan warna mengisi layar. Permainan warna, cahaya, serta gerak kamera dalam tempo yang mencerminkan gerakan Siman, membuat dunia yang memanjakan mata pula menantang penonton bernalar dan merasakan, walau urusan rasa, Anggi belum bisa “mereplikasi” masterpiece-nya, yaitu Istirahatlah Kata-Kata.

Saya amat mengagumi The Science of Fictions, hingga sekitar sepertiga final hadir dosa besar, kala filmnya mengakibatkan syok dan luka hati sebagai dalih agresi pelecehan seksual. Secara tak eksklusif kita diajak memaklumi, bahkan bersimpati atas pelakunya, walau ia akibatnya gagal mendapat yang dimau. Secara pencapaian estetika, kekaguman saya terhadap The Science of Fictions tak menurun, namun ketidakpekaan akan salah satu gosip sosial penting terperinci mengurangi nilainya.