November 27, 2020

Jeritan Malam (2019)

Megah dan dramatis. Sepertinya Soraya Intercine Films ingin kesan tersebut lekat dengan mereka, sekalipun di film horror, yang biasanya identik dengan kesederhanaan (baca: murah). Contohnya ialah Suzzanna: Bernapas dalam Kubur tahun lalu. Mengadaptasi dongeng karya meta.morfosis yang sempat ramai dibicarakan warganet dan konon berasal dari kisah nyata, Jeritan Malam mengambil jalur serupa. Berambisi tampil dramatis, menit-menit awalnya bahkan kolam tersusun atas cuplikan opera sabun yang berlangsung terlalu panjang.

Ketimbang eksklusif menghadapi teror, kita lebih dulu disuguhi usaha abjad utamanya, Reza (Herjunot Ali), yang setia menarasikan kisahnya bahkan di titik-titik yang tak perlu lagi dijelaskan (naskahnya terlalu literal dalam menerapkan cara bertutur bahan aslinya), dalam perjuangannya mencari kerja. Setelah ditolak belasan kali, alhasil dia diterima bekerja di Jawa Timur. Masalahnya, itu berarti Reza mesti meninggalkan Bogor beserta kedua orang tua, juga kekasihnya, Wulan (Cinta Laura Kiehl). Jelang keberangkatan Reza, filmnya didominasi perpisahan mengharu biru, yang entah berapa kali memperdengarkan kalimat cringey, “Aku bakal kangen luar biasa”.

Kalau anda ingin tau mengapa durasi Jeritan Malam bisa mendekati dua jam (119 menit), di situlah jawabannya. Naskah buatan Ferry Lesmana (Danur, Suzzanna: Bernapas dalam Kubur) dan Donny Dhirgantoro (Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Antologi Rasa) gemar menyelipkan drama berlarut-larut yang hanya membengkakkan film ketimbang mencuri hati, akhir paparan dangkal yang hanya bersenjatakan kalimat (sok) romantic, yang di realita, mungkin cuma bakal jadi status Facebook cukup umur pengidap cinta monyet.

Sebelum berangkat, oleh sang ayah (Roy Marten), Reza dibawakan sebuah kujang sebagai alat pelindung. Berkebalikan dengan ayahnya, Reza bersikap skeptis terhadap hal gaib. Ditambah insiden tragis masa kecilnya, ketidakpercayaan Reza berkembang jadi kebencian. Bahkan dikala dua sobat kantornya, Indra (Winky Wiryawan) dan Minto (Indra Brasco) menceritakan fakta horor terkait mess yang ketiganya tempati, Reza menolak percaya. Bukan saja enggan percaya, Reza cenderung meremehkan, menendang sesajen, kemudian menantang para “penghuni mess”.

Jeritan Malam memang didesain supaya penonton berharap si protagonis tertimpa eksekusi atas kesombongannya. Alhasil, bila mengandalkan Reza semata, alurnya takkan menyenangkan diikuti. Karena itulah filmnya mengambil bentuk crowd pleasure, di mana serupa Suzzanna: Bernapas dalam Kubur, humor turut diterapkan lewat kekonyolan dua sobat Reza, khususnya Minto, dalam menghadapi kengerian di mess. Jelas bukan komedi cerdas, namun memadai sebagai penambah daya hibur.

Begitu teror dimulai, gerak alur Jeritan Malam sebenarnya sempat repetitif, kala berkali-kali kita disajikan adegan Reza terbangun di tengah malam, minum, sebelum alhasil diganggu sosok tak kasat mata. Beruntung pengulangan itu tak berlangsung seterusnya, sebab semakin kisahnya bergulir, varian peristiwanya cukup kaya, dari “perjalanan sukma” Reza sampai ritual misterius yang jadi penyebab rentetan peristiwa pada babak ketiga.

Jump scare tidak dikesploitasi, biarpun efektivitas kemunculan hantunya tergolong inkonsisten. Misalnya, sehabis penampakan sesosok nenek di atas pohon yang punya tata rias tidak mengecewakan baik, intensitas eksklusif dirusak oleh serbuan pasukan tuyul dengan kualitas CGI menyedihkan. Tapi satu hal yang cukup menarik ialah bagaimana Rocky, dibantu sinematografi garapan Muhammad Firdaus (My Stupid Boss, Ikut Aku ke Neraka), di beberapa kesempatan, sukses membangun atmosfer bersenjatakan sudut pandang orang pertama. Saya pernah terlibat menggarap program penelusuran mistis, dan menonton Jeritan Malam rasanya menyerupai dibawa kembali ke suasana itu, kala menyusuri lokasi-lokasi gelap nan menyesakkan, yang memancing kecemasan lantaran dari balik kegelapan itu, seolah ada figur menakutkan tengah mengintai.

Seperti telah disebut sebelumnya, horor satu ini ingin betul terlihat (lebih) mahal, dan itu nampak dari penataan set dan properti, color grading khas Soraya yang menggunakan kontras rendah, juga musik garapan Andhika Triyadi (Suzzanna: Bernapas dalam Kubur, Dua Garis Biru) yang mengandalkan bunyi biola menyayat ala horor/thriller klasik. Di antara semua itu, justru akting Herjunot Ali yang nampak paling murah, alasannya ialah lagi-lagi dia masih bermasalah dalam mengekspresikan emosi melalui mimik wajah “besar” yang selalu berlawanan dengan definisi “natural”.

Kecintaan Rocky terhadap gore, yang secara mengejutkan kuantitasnya tidak seberapa, menguatkan kesan tragis dari salah satu maut karakternya. Andai filmnya ditutup tak usang sehabis itu. Sayangnya tidak. Jeritan Malam justru menambahkan penutup dramatik cenderung menggurui yang merusak bangunan intensitasnya. Sesungguhnya penutup ini dapat menambah kengerian (menegaskan bahwa iblis yang karakternya hadapi teramat licik dan kejam) sekaligus memantapkan status filmnya sebagai peristiwa (sejalan dengan image dramatis Soraya yang saya singgung), jikalau narasi terkait sebuah ritualnya dikemas lebih rapi dan jelas.