November 21, 2020

Junglee (2019)

Junglee, secara mengejutkan berhasil sebagai dua bentuk. Pertama, selaku tontonan edukatif guna mengajak belum dewasa menyayangi hewan, sekaligus mengatakan betapa keji para pemburu gading gajah. Kedua, selaku hiburan, berkat kemampuan fisik impresif Vidyut Jammwal dalam memamerkan jurus-jurus Kalaripayattu yang jadi ciri khasnya, tersajilah suguhan langgar hard-hitting.

Dibuka oleh kutipan pernyataan Thomas Schmidt yang berbunyi, “No one in the world needs an elephant tusk but an elephant”, Junglee menuturkan dongeng mengenai Raj (Vidyut Jammwal), dokter binatang yang membuka praktek di Mumbai sehabis 10 tahun kemudian meninggalkan rumah sehabis final hidup sang ibu akhir kanker. Raj menyalahkan ayahnya (Thalaivasal Vijay), yang ia anggap hanya mempedulikan penangkaran gajah miliknya dan tak berusaha maksimal menyembuhkan sang istri.

Memperingati 10 tahun final hidup sang ibu, Raj kesudahannya bersedia pulang, bereuni dengan sang ayah, berusaha memperbaiki korelasi keduanya, yang terbukti bukan perkara mudah. Di dikala bersamaan, para pemburu, yang telah menjadi duduk perkara semenjak lama, mulai mengincar gading Bhola, yang diyakini merupakan gading terbesar yang pernah ada. Bhola sendiri yakni sahabat Raj semenjak kecil, dan sekarang sudah tumbuh menjadi pemimpin kawanan.

Tidaklah sulit menebak bakal dibawa ke mana kita oleh naskah buatan Adam Prince (Red Sky, Final Girl). Begitu Raj melancarkan serangan, para pemburu akan berubah jadi yang diburu. Tapi butuh waktu sebelum Junglee memasuki babak baku hantam. Kita terlebih dahulu diajak berkeliling hutan, melihat betapa senang gajah-gajah di sana, yang memancing kepedulian kita kepada hewa besar berhati lembut itu.

Pemakaian empat ekor gajah terlatih alih-alih CGI terbukti ampuh memberi hati, sebab apa yang kita saksikan yakni makhluk hidup, bukan gambar komputer tanpa nyawa. Keempat gajah tersebut juga piawai beraksi, yang mana melahirkan hiburan tersendiri. Pun mereka tampak menggemaskan, sehingga tak sulit menarik atensi penonton anak. Alhasil, begitu para pemburu melancarkan agresi kejamnya, otomatis kita mengutuk perbuatan tersebut.

Junglee takkan menampilkan kekerasan vulgar, mengingat itu akan menghadirkan kesan eksploitatif, juga bergeser dari intensi menyayangi yang diusung. Tapi beberapa momen menyakitkan tetap diselipkan, sebutlah dikala sekilas terlihat seorang pemburu memotong gading dari jenazah gajah menggunakan gergaji mesin. Bukan pemburu saja yang film ini jadikan sasaran kritik, pula kolektor maupun konsumen produk yang terbuat dari gading, serta tak ketinggalan formasi polisi korup. Sebab tentu saja bisnis kotor berdarah ini takkan berjalan lancar andai tanpa keterlibatan pihak berwajib.

Mencapai separuh durasi, datang waktunya Vidyut Jammwal unjuk gigi. Sebagai praktisi bela diri sungguhan, sang bintang film sanggup memamerkan bermacam-macam gerakan luar biasa yang bisa menciptakan saya terpana. Pada satu sekuen laga, Raj, dengan tangan diborgol, menghajar beberapa polisi menggunakan gerakan-gerakan akrobatik sambil memanfaatkan benda-benda di sekitarnya. Dibumbui sedikit humor, agresi Vidyut Jammwal itu pasti bakal menciptakan Jackie Chan bangga. Penyutradaraan Chuck Russell (A Nightmare on Elm Street 3: Dream Warriors, The Mask, The Scorpion King), meski masih membutuhkan pinjaman penyuntingan plus gerak lambat, setidaknya tetap berusaha menangkap detail gerakan Vidyut Jammwal sebanyak mungkin, sehingga formasi aksinya tak pernah kehilangan dampak.

Apabila ada aspek yang pantas disayangkan, itu yakni kurang dimanfaatkannya Pooja Sawant sebagai Shankara. Banyak cara bisa digunakan untuk memaksimalkan kemampuan Shankara sebagai pawang gajah biar karakternya sanggup tampil setangguh Raj. Tapi keluhan itu berhasil ditutupi oleh fakta bahwa Junglee sukses menjalankan kiprah berat berupa menghadirkan pesan edukatif bagi anak tanpa harus menciptakan penonton remaja kebosanan.