November 30, 2020

Kabir Singh (2019)

Kabir Singh, selaku remake film Telugu Arjun Reddy, bisa terbang tinggi sebagai kisah romansa epik (durasinya 172 menit). Penggambarannya akan penderitaan akhir patah hati amat menyakitkan dalam paparan dramatis yang tetap berpijak pada budi seputar psikis manusia. Sayang, kandungan misogini, khususnya pada satu jam pertama, luar biasa mengganggu.

Sandeep Vanga, penulis sekaligus sutradara sumber adaptasinya yang kali ini kembali mengemban tugas serupa, bagai memfilmkan mimpi berair para pria. Tengok saja penokohan Kabir (Shahid Kapoor). Dia yaitu laki-laki tampan, eksplosif, dan memegang kontrol di kampus, di mana ia bebas berbuat apa pun sesuka hati. Tidak ada konsekuensi menanti Kabir. Banyak laki-laki mengidamkan karakteristik di atas, menganggapnya sebagai lambang maskulinitas.

Ketika perhatiannya tertuju kepada mahasiswi gres berjulukan Preeti (Kiara Advani), Kabir eksklusif mengumumkan (baca: mengancam) mahasiswa lain biar menjauhi Preeti, lantaran si gadis yaitu miliknya, layaknya sebuah barang. Karakterisasi Preeti pun demikian, kolam barang ketimbang orang. Dia pasif, submisif, mengikuti segala kemauan Kabir. Bahkan di paruh awal, suaranya nyaris tak terdengar.

Pada dasarnya, babak pertama sebatas hidangan percintaan satu sisi, ketika Kabir berbuat semaunya dibarengi kepatuhan Preeti. Membosankan, problematik, pula jauh dari romantis. Tapi kita tahu “sesuatu” bakal menimpa keduanya, lantaran dongeng berlatar dunia perkuliahan tadi merupakan flashback. Pertama kali penonton bertemu sang protagonis, ia yaitu hebat bedah alkoholik yang menjalani kehidupan self-destructive.

Butuh waktu hingga film ini menjelaskan “sesuatu” itu, namun beruntung, selepas kelulusan Kabir, filmnya pelan-pelan membaik. Saat itu, Kabir melanjutkan sekolah di kota berbeda, memaksanya dan Preeti menjalani hubungan jarak jauh. Mereka cuma bisa bertemu beberapa ahad sekali selama tiga tahun.

Kabir masih bermasalah mengatur amarah, namun setidaknya sekarang Preeti telah diberi kekuatan lebih. Dia tampar Kabir ketika sang kekasih lepas kontrol. Walau secara keseluruhan masih memaparkan romansa head over heels, Sandeep bisa melahirkan beberapa momen romantis, termasuk montase cantik untuk menggambarkan hubungan jarak jauh dua tokoh utama, sewaktu mereka silih berganti saling mengunjungi.

Visualnya turut berkontribusi positif berkat sinematografi solid garapan Ravi K. Chandran (Ghajini, My Name is Khan, Student of the Year 2) yang menjadi departemen teknis terbaik di film ini, ketika penyuntingannya acap kali terkesan jumpy, demikian pula tata bunyi yang sering memperdengarkan kemunculan musik dan/atau penambahan volume secara berangasan dan tiba-tiba.

Kualitas Kabir Singh makin meningkat tatkala perpisahan Kabir dan Preeti terjadi, menggerakkan kisahnya ke arah tuturan soal post power syndrome. Di dunia nyata, Kabir bukanlah penguasa layaknya semasa mahasiswa. Ketidakmampuan mengontrol emosi berujung merenggut segalanya. Sekarang Kabir mesti menghadapi konsekuseni (konsep yang absurd baginya), namun ia tetap bertingkah ibarat dulu, yang berakhir memperburuk keadaan, menjatuhkannya ke jurang yang semakin dalam dan gelap.

Memang jejak “mimpi berair pria” miliknya masih tersisa, semisal ketika Kabir berhasil merayu Jia (Nikita Dutta), seorang selebritis, untuk menjadi teman tidurnya, sehabis memperlakukan wanita-wanita teman kencannya yang lain sebagai alat pelampiasan nafsu. Tapi di sisi lain, Kabir Singh juga merupakan potret tajam mengenai betapa destruktif efek dari patah hati.

Sekilas terkesan trivial, tapi realitanya, kehilangan seseorang yang sungguh kita cintai memang bisa sebegitu menghancurkan. Dan dengan matanya, Shahid Kapoor berhasil menangkap kekacauan hati seorang laki-laki yang terjebak derita dalam hidup penuh amarah, kesedihan, dan ketiadaan harapan. Kabir Singh ditutup oleh konklusi menyentuh yang bukan cuma membahas tentang cinta, pula keluarga. Di luar kepribadiannya yang bermasalah, Kabir tetap layak mendapat kebahagiaan pasca segala penderitaannya, dan film ini bisa meyakinkan bahwa cinta Kabir terhadap Preeti memang nyata.