October 20, 2020

Kedi (2016)

Kucing ialah binatang misterius. Sebagian menyebutnya bodoh, sebagian menganggapnya pintar. Bahkan beberapa pihak meyakini bahwa kucing sadar akan eksistensi mereka serupa manusia. Kebenarannya sulit dipastikan, yang jelas, banyak masyarakat Istanbul mengamini hal tersebut. Kedi (dari Bahasa Turki, berarti kucing) karya sutradara Ceyda Torun menyoroti bagaimana interaksi insan dengan kucing jalanan Istanbul yang jumlahnya mencapai ribuan. Mulai “membanjiri” kota semenjak kurun Ottoman melalui kapal-kapal pelaut Norwegia, mamalia ini awalnya hadir membantu warga mengatasi serangan tikus. Ratusan tahun berselang, simbiosis mutualisme bertahan kemudian berkembang jadi kisah kasih.

Dalam Kedi, kita melihat kucing-kucing liar berkeliling kota, berinteraksi dengan warga yang daripada terganggu, malah bersikap senang hati. Entah sekedar menggoda, membelai, hingga menyediakan masakan walau bukan binatang peliharaan sendiri. Kucing kolam sahabat, bahkan cinta bagi orang-orang ini. Jika umat Hindu di India memandang sapi binatang suci, kucing Istanbul amat dicintai alasannya ialah dianggap membentuk kehidupan di sana. Torun bisa memunculkan suasana tenang lewat harmoni antar makhluk hidup, saat insan menerima kebahagiaan berkat kemauan menyayangi hal-hal sederhana, termasuk merawat kucing. Begitu hangat dan syahdu Torun menggambarkan Istanbul. Di satu adegan, seorang warga menemukan kucing kecil terluka kemudian cepat tanggap membawanya ke rumah sakit. Sebuah momen unscripted yang berdampak besar menyuntikkan emosi. 
Selain suasana, nyatanya kucing turut membentuk insan di dalam kota ini. Beberapa interviewee sekilas mengungkapkan pernah mengalami gangguan psikis di masa kemudian dan kegiatan mengurus kucing menjadi obat mujarab. Misalnya seorang laki-laki yang menyatakan dahulu sempat terjangkit nervous breakdown, tak bisa bersosialisasi apalagi tersenyum. Sampai acara memberi makan ratusan kucing liar di seluruh penjuru kota mengobatinya, menghadirkan tawa bahagia. Sedangkan kisah warga lain turut menautkan kucing dengan perkembangan bermacam-macam sisi sosial Istanbul. Mulai info feminisme berisi kegundahan sesosok wanita, hingga modernisasi yang mengancam keharmonisan alam dan populasinya.
Penonton diajak mengenal tujuh ekor kucing, yakni Sari, Duman, Bengü, Aslan Parçasi, Gamsiz, Psikopat, dan Deniz, dengan kisah berlainan dari masing-masing warga. Ciri khas, sifat, hingga tingkah polah detail setiap kucing dideskripsikan lengkap. Bahkan memori pertemuan pertama masih tersimpan jelas. Seperti yang kita semua pernah lakukan, mereka gemar melaksanakan ad-lib, merangkai dongeng menurut observasi terhadap situasi dan tingkah laris kucing. Ada betina galak yang “menguasai” sang suami, ada pula perebutan teritori dua ekor kucing. Torun berakal bermain visual, jeli menangkap momen tepat sehingga penonton berujung meyakini peristiwa-peristiwa di atas nyata, benar adanya. Penataan kamera duo sinematografer Alp Korfali dan Charlie Wuppermann juga bergerak lincah sekaligus mampu menempatkan penonton di bermacam perspektif termasuk sejajar dengan para kucing, bagai tengah membuntuti mereka. 

Kedi jelas tepat bagi pecinta kucing. Bisa berupa hiburan ringan hasil dari melihat kelucuan mereka, atau proses observasi dan pemahaman lebih dalam mengenai si binatang kesayangan di belahan dunia lain. Bagi penonton umum sejatinya serupa, meski jadinya berpotensi sedikit melelahkan alasannya ialah di samping sederet informasi yang mungkin didapat, secara umum dikuasai film hanya diisi kucing berkeliaran di tiap sudut kota. Termasuk penutup lima menit tatkala cerita sejatinya telah usai namun Torun memaksa menambahkan scenery shot repetitif yang berkepanjangan. Tapi pada masa di mana cinta kasih antara makhluk hidup seolah makin langka, Kedi yang mendamaikan perasaan ini perlu disimak.