November 23, 2020

Kelam (2019)

Setidaknya Kelam adalah film yang jujul secara penjudulan. Kalau kualitasnya terus begini, masa depan horor kita memang KELAM. Dan kalau rutin mengikuti perkembangan horor lokal, anda bisa menebak apa yang ditawarkan karya teranyar Erwin Arnada (Rumah di Seribu Ombak, Guru Ngaji, Tusuk Jelangkung di Lubang Buaya) ini. Ambil teladan departemen musik dan tata suara. Dentingan piano bernada minor ala kadarnya mengiri momen dramatik berisi dialog memosankan, dentuman berisik di tiap jump scare, lalu ketika film berakhir sayup-sayup terdengar teriakan penyesalan dari batin anda sesudah membuang waktu juga uang.

Kelam ibarat mayit hidup. Film yang dibentuk tanpa semangat, tanpa perjuangan menjadi lebih baik. Semua bermain sesuai pola. Sebuah pola buruk yang didasari pemikiran “Sejelek ini aja bisa laris kan?”. Bahkan jajaran pemainnya, termasuk Aura Kasih, tampak luar biasa bosan, seolah ingin sesegera mungkin menuntaskan proses produksi.

Aura Kasih memerankan Nina, yang kembali pulang sesudah delapan tahun, ketika sang ibu, Dewi (Rina Hassim), terjangkit stroke ringan. Ada perselisihan masa kemudian yang jadi penyebab retaknya relasi ibu dan anak itu, namun Nina menyembunyikannya, termasuk dari Fenny (Amanda Manopo), adiknya. Datang bersama puteri kecilnya, Sasha (Giselle Tambunan), Nina berharap bisa menyambung tali silaturahmi. Tapi rencana tersebut buyar ketika Sasha mulai bertingkah absurd sesudah mendadak pingsan di suatu malam.

Salah satu kecacatan Sasha yaitu ketika Nina hendak menceritakan dongeng Puteri Salju, bocah itu menjawab, “Sudah ada yang menceritakannya!”. Ingin saya bertanya pada Fajar Umbara (Mata Batin, Sabrina, Ikut Aku ke Neraka) selaku penulis naskah. “Kenapa Sasha bicara begitu formal? Apa ia kerasukan hantu Jaka Sembung? Atau arwah guru les Bahasa Indonesia?”. Kasihan hantu-hantu di film horor medioker negeri ini yang terjebak stereotip, bahwa mereka selalu bicara formal.

Semua elemen Kelam tampil malas. Salah satunya tata rias dan kostum yang kualitas jongkoknya amat kentara sewaktu Nina mandi dalam kondisi masih menggunakan bulu mata lentik serta alis mata tebal. Pun insan mana di muka bumi ini yang mandi sambil menggunakan semua cincinnya? Alurnya tidak kalah malas. Fokus Fajar Umbara hanyalah menyembunyikan balasan misteri—yang sudah bisa ditebak semenjak menit-menit awal—lewat beberapa elemen pencipta misleading nihil efek yang dipaksakan hadir ketimbang membangun jalinan misteri mumpuni.

Kemalasan-kemalasan di atas berujung memproduksi kebodohan. Apa perlunya kemunculan Rico (Evan Sanders) si mantan pacar Nina? Kalau untuk menegaskan bahwa membalas mereka yang berbuat buruk padanya merupakan tujuan sang hantu, tidak bisakah menggunakan metode lain daripada sebuah kebetulan ala sinetron? Nantinya twist film ini terungkap ketika protagonis menemukan surat yang disembunyikan abjad lain. Sesulit apa melenyapkan surat? Dibakar, dibuang, disobek, dimakan. Ada sejuta cara.

Ah, sudahlah. Membahas alur hanya akan melahirkan pertanyaan-pertanyaan tak berujung. Mari membicarakan cara Erwin Arnada membangun teror. Dari total 75 menit, cuma satu adegan berdurasi 2 detik yang bisa menyulut sedikit kengerian, yaitu ketika si hantu bocah belakang layar melayang turun di samping Sasha. Dua detik dari total sekitar 4.500 detik penuh siksaan, sebelum ditutup oleh titik puncak buru-buru yang berakhir secepat kita buang angin dan konklusi menggelikan, ketika Aura Kasih menatap kosong ke arah kamera. Matanya bagai berteriak, “SEMOGA INI CEPAT BERAKHIR”. I feel you, sis.