November 21, 2020

Kim Ji-Young, Born 1982 (2019)

Mengadaptasi novel berjudul sama karya Cho Nam-joo, dalam presentasinya soal kesetaraan gender, Kim Ji-young, Born 1982 mengangkat salah satu permasalahan paling fundamental yang telah cukup sering diterjemahkan ke layar lebar, pun tiada modifikasi dari teknik penceritaan maupun departemen artistik. Terkesan biasa, kecuali anda mengetahui kondisi dinamika gender di Korea Selatan termasuk ragam kontroversi yang mengiringi novel serta perilisan filmnya.

Saya tidak perlu menjabarkan detail mengenai paham patriarki dan tindak seksisme yang mengakar berpengaruh di sana. Cukup simak segelintir kasus terkait Kim Ji-young, Born 1982 berikut. Pasca mengaku membaca novelnya, Irene, anggota girl group Red Velvet, jadi bulan-bulanan warganet, mendapatkan banyak ujaran kebencian, pun foto-foto dan merchandise yang menampilkan sosoknya dibakar. Sedangkan akun media umum Jung Yu-mi dibanjiri hujatan sehabis diumumkan bakal berperan di film ini.

Berdasarkan kondisi tersebut, Korea Selatan belum membutuhkan tontonan feminisme unik. Mereka butuh kegamblangan. Prianya butuh ditampar, wanitanya butuh dibangkitkan. Seperti judulnya, film ini menuturkan kisah hidup Kim Ji-young (Jung Yu-mi), yang sehabis pernikahannya dengan Jung Dae-hyun (Gong Yoo) dikaruniai seorang puteri, terpaksa berhenti bekerja demi mengurus anak sebagai ibu rumah tangga. Sekilas segalanya normal, hingga Ji-young mulai bersikap aneh, bersikap layaknya orang lain. Kadang menjadi ibunya, di lain waktu menjadi kakaknya, pernah juga bicara kolam mendiang neneknya.

“Mungkin beliau kesurupan”, ujar seorang rekan kantor Dae-hyun, mengatakan betapa rendahnya kesadaran masyarakat terkait kesehatan mental. Rutinitas Ji-young bukan saja melelahkan, pula repetitif. Mengurus pekerjaan rumah, menjaga anak, tanpa hiburan, tanpa mitra kecuali keluarga atau mantan rekan kerja yang jumlah kunjungannya bisa dihitung jari. Ji-young kebosanan, tapi bukan hanya itu penyebab mentalnya terguncang. Tidak pula filmnya memandang sebelah mata status ibu rumah tangga.

Poin utama dari naskah goresan pena sang sutradara Kim Do-young bersama Yoo Young-A (Miracle in Cell No. 7, On Your Wedding Day, My Annoying Brother) yaitu bahwa sang protagonis urung berkesempatan memilih jalannya sendiri. Sepanjang hidup ia selalu terkekang, diatur oleh stigma-stigma terhadap wanita. Ketimbang bekerja, perempuan lebih baik mengurus anak di rumah. Wanita semestinya dipekerjakan di dapur saja menyerupai pembantu. Wanita sebaiknya begini, perempuan dihentikan begitu. Tapi tak satu pun berkata, “Wanita seharusnya berhak memilih hidupnya sendiri”.

Penonton dibawa melihat bagaimana di semua sisi kehidupannya, Ji-young pernah jadi korban seksisme. Di rumah, sang ayah lebih memperhatikan adik laki-lakinya. Di kantor, karirnya terhambat jawaban kekhawatiran atasan bahwa ia takkan bisa berkontribusi maksimal untuk jangka panjang alasannya yaitu kelak bakal dipusingkan urusan anak. Ibu mertuanya menyuruh Ji-young bekerja di dapur seharian, kemudian menghadiahinya sebuah celemek. Para laki-laki menganggap kehidupannya yummy lantaran bisa bersantai minum kopi menggunakan penghasilan suami. Pendidikan tingginya terbuang percuma, sebagaimana jadi materi bercandaan para ibu yang bernasib serupa dengannya. “Aku berkuliah teknik semoga bisa mengajari anakku matematika” atau “Aku berkuliah di jurusan akting sebagai bekal membacakan dongeng pengantar tidur”, begitu mereka berkelakar.

Semua dilemparkan secara gamblang, nihil kesubtilan, yang mana biasanya merupakan titik lemah, tapi kembali lagi, kita harus melihat kondisi. Pada kawasan di mana WC umum masih jadi kawasan menyeramkan selaku lahan laki-laki mesum merekam para perempuan dan korban pelecehan disalahkan jawaban pakaian yang dikenakan, tuturan subtil bukanlah prioritas. Kim Ji-young, Born 1982 mengemban kiprah membuka mata publik selebar mungkin dengan baik.

Apalagi kesan terlampau gamblang itu bisa dibayar lunas oleh keberhasilannya menghantarkan emosi. Akting Jung Yu-mi berjasa besar di sini. Darinya, apa yang tampak bukan lagi “sebatas” perempuan yang sedih. Hatinya bukan lagi terluka, tapi berlubang. Lubang menganga itu menyisakan kehampaan yang terasa faktual dari sorot mata Yu-mi. Sorot mata perempuan yang tidak lagi tahu mesti berbuat apa. Begitu sakit, mungkin ia tak lagi mencicipi apa pun. Kadang sosoknya kolam seonggok boneka, yang tercipta dari insan yang dilucuti haknya, hingga datang di titik mulai percaya bahwa mungkin ia memang tak bernyawa apalagi berdaya.

Memerankan Mi-sook, ibunda Ji-young, Kim Mi-kyung tidak kalah hebat. Puncaknya yaitu momen kala Mi-sook kesudahannya tahu seberapa parah kondisi mental sang puteri. Lagi-lagi penyutradaraan Do-young enggan menyisakan ruang bagi kesubtilan dan memang tidak wajib. Selepas puluhan menit menyesakkan ketika menyaksikan ketidakmampuan Ji-young menyuarakan isi hati, momen ini bagai katarsis di mana semua rasa tumpah bersama air mata.

Menarik disimak bagaimana film ini menggambarkan para pria. Beberapa memang bajingan sejati, sedangkan sisanya, terutama Dae-hyun, merupakan sosok baik hati yang turut serta menegakkan patriarki tanpa disadari. Dae-hyun sepenuh hati ingin membantu sang istri, tetapi kultur seksisme sayangnya telah sedemikian mendarah daging. Proses pembelajaran Dae-hyun jadi satu poin yang luput digarap mendalam, menciptakan konklusi penuh harap selepas dua jam kelam jadi kurang maksimal jawaban kesan buru-buru.

Kim Ji-young, Born 1982, baik versi novel maupun film, mungkin takkan seketika mengubah Korea, apalagi dunia. Tapi cukup sebagai kerikil pijakan, penyulut pergerakan-pergerakan, yang dibutuhkan bakal menghalangi adanya Kim Ji-young lain, alias wanita-wanita yang jawaban ketidakadilan, kehilangan sinarnya. We don’t wanna live in a world where the stars don’t shine.