November 25, 2020

Knives Out (2019)

Knives Out yang ditulis sekaligus disutradarai oleh Rian Johnson (Looper, Star Wars: The Last Jedi) menunjukkan mengapa program kumpul keluarga yakni latar tepat bagi sajian whodunit. Serupa seorang tersangka dalam kisah misteri pembunuhan yang berlagak polos supaya tak mengungkap identitasnya sebagai pembunuh, anggota keluarga senantiasa bertingkah ramah, mengeluarkan tutur kata manis, padahal rahasia memendam kebencian bahkan saling menusuk dari belakang.

Di rumah glamor yang didekorasi sedemikian menawan hingga ke detail terkecil oleh tim artistic filmnya, termasuk singgasana berhiaskan puluhan pisau dan belati ala Game of Thrones, seorang penulis novel kriminal ternama, Harlan Thrombey (Christopher Plummer) merayakan ulang tahunnya yang ke-85. Anak-anak, menantu, cucu, hingga sang ibu yang sudah pikun sebab dimakan usia, berkumpul. Mereka tampak berbahagia. Masalahnya, ibarat diungkap di adegan pembuka, Harlan ditemukan tewas akhir luka sayatan pisau di leher.

Para keluarga serta pihak kepolisian meyakini itu yakni masalah bunuh diri, kemudian hadirlah Benoit Blanc (Daniel Craig), seorang detektif swasta yang disewa oleh orang tak dikenal guna menyelidiki masalah tersebut. Blanc mencium ketidakberesan di sana. Selepas dilakukan interogasi, rupanya hampir tiap anggota keluarga memiliki duduk masalah dengan Harlan, sehingga punya cukup motif untuk menghabisi nyawa kepala Keluarga Thrombey.

Di luar internal keluarga, ada juga Marta Cabrera (Ana de Armas), perawat sekaligus sosok yang punya relasi paling akrab dengan Harlan, lebih akrab dibanding anak-cucunya sendiri. Semua orang memperlakukan Marta dengan baik, menganggapnya ibarat penggalan keluarga. Marta punya sebuah kondisi ajaib yang tidak bisa saya sebutkan, tapi kondisi itu nantinya amat berguna, baik untuk proses pemeriksaan maupun memancing tawa. Marta sendiri merupakan puteri seorang imigran ilegal. Dari mana ibunya berasal? Kita tidak pernah tahu pasti.

Sebab tiap abjad melontarkan nama negara Amerika Latin yang berbeda. Ekuador pertama kali disebut, menyusul Paraguay, Uruguay, hingga Brazil. Hal itu yakni cara menggelitik dari Rian Johnson sebagai pemaparan subtil atas subteks filmnya. Di mata karakter-karakternya, semua negara itu sama saja, sebagaimana stereotip banyak pihak terhadap Asia atau Afrika, atau lebih tepatnya bagaimana orang Amerika memandang negara asing.

Secara luas, Knives Out bicara ihwal rasisme, tapi di konteks lebih spesifik, filmnya menyentil gosip ihwal imigran. Begitu alurnya melangkah jauh, dinamika Keluarga Thrombey mulai mencerminkan ketakutan sebagian warga Amerika bahwa imigran tiba guna mencuri kekayaan juga menjajah tanah mereka, membentuk satir sosial di dalam misteri pembunuhan. Jangan khawatir filmnya jadi terlalu politis, sebab Johnson memastikan sentralnya tetap whodunit. Dan naskah buatannya benar-benar terpelajar mengecoh apa pun ekspektasi penonton mengenai sesuatu dan seseorang.

Presentasi misterinya berdaya kejut tinggi tanpa mencurangi, di mana tiap pengungkapan fakta, meski berusaha tampil mencengangkan, selalu mengutamakan kerapian konstruksi cerita. Semua benih sudah ditanam secara konsisten. Hanya saja, kita tidak menyadari jikalau suatu elemen yang muncul di layar yakni benih, atau menyadari tanpa tahu maksud sesungguhnya. Satu-satunya kelemahan naskah Johnson yakni dikala berusaha memperlebar cakupan, menghadirkan aksi-aksi lebih besar, menggiring kisahnya keluar dari kediaman Harlan. Tensi di fase itu berkurang, menciptakan Knives Out sedikit membengkak

Tapi sebab Johnson hadir dengan penyutradaraan yang begitu bertenaga, Knives Out selalu bisa berdiri dari keterpurukan apa pun. Dia memahami seni dramatisasi dalam whodunit, menjadikan pemeriksaan dan momen pengungkapan faktanya mengasyikkan. Ada sekuen di pertengahan durasi tatkala salah seorang abjad menjelaskan runtut semua tragedi di malam janjkematian Harlan. Di situ Johnson tahu cara memacu adrenalin penonton, kesudahannya sulit rasanya menahan cita-cita bertepuk tangan.

Tidak ada whodunit bagus tanpa jajaran ensemble cast memikat. Seluruh penampil memerankan figur eksentrik, bahkan komedi, dan mereka bisa menarik perhatian kolam magnet berkekuatan tinggi pada semua kemunculan. Kita bisa menduga bahwa Jamie Lee Curtis dan Michael Shannon bakal berakting kuat, masing-masing memainkan pebisnis perempuan tangguh dan penerbit buku yang frustasi (keduanya juga menerima momen komedik), dan kesenangan bertambah dikala pelakon lain tampil berlawanan dengan abjad dari film lain yang sebelumnya melambungkan nama mereka di mata publik.

Dari ibu dengan jiwa terguncang akhir gangguan iblis, Toni Collette di sini yakni influencer pencari perhatian; dari hero bangsa, Chris Evans menjadi perjaka pemberontak dengan verbal kasar; Daniel Craig bertransformasi dari jasus berkelas menjadi detektif jenius nan ajaib yang kolam punya relasi darah dengan Sherlock Holmes dan/atau Hercule Poirot. Knives Out merupakan produk dari sineas yang paham sekaligus menyayangi misteri pembunuhan dan whodunit, kemudian bersenang-senang membuatnya, sehingga melahirkan salah satu suguhan terbaik tahun ini yang turut menyimpan nilai hiburan tinggi.