November 21, 2020

Koboy Kampus (2019)

Seringkali, kata “representasi” menentukan kenikmatan kita menyaksikan sebuah film. Walau kualitasnya jeblok sekalipun, jikalau film itu sanggup mewakili aspek-aspek dalam hidup kita, kelemahannya sanggup dimaafkan. Itulah yang terjadi antara saya dengan Koboy Kampus selaku karya terbaru Pidi Baiq, yang kali ini menyutradarai filmnya bersama Tubagus Deddy, yang sebelumnya menulis naskah Baracas: Barisan Anti Cinta Asmara (debut penyutradaraan Pidi).

Meski sadar betul betapa awut-awutan penceritaan Koboy Kampus, kisahnya mengingatkan saya pada masa-masa indah kala berkuliah kala studi terbengkalai akhir terlalu sering menghabiskan waktu di ruang seni bersama teman-teman, menyanyi, tertawa, memikirkan asmara, bicara ngalor ngidul soal segala hal, sembari mengutarakan sudut pandang abstrak kami masing-masing.

Berlatar tahun 1995-1998 tatkala gejolak jelang reformasi makin memanas, filmnya memaparkan kehidupan Pidi Baiq (Jason Ranti), mahasiswa seni rupa ITB yang menginisiasi berdirinya “Negara Kesatuan Republik The Panasdalam” alih-alih ikut turun ke jalan. Meminjam ucapan Ninu (Ricky Harun), The Panasdalam yaitu “kingdom of have fun” (plesetan “kingdom of heaven”), yakni kawasan di mana rakyatnya sanggup bersenang-senang biarpun kondisi Indonesia sedang kalut.

Tapi mereka tetap para mahasiswa kritis, sebagaimana filmnya tunjukkan melalui beberapa dialog seputar politik hingga esensi bernegara. Koboy Kampus pun berpeluang memantik diskusi berisi ragam perspektif, andai abjad Pidi, yang bergelar “Imam Besar The Panasdalam”, tidak didesain sebagai sumber budi yang senantiasa merampungkan problem lewat petuah-petuah.

Mengenakan jaket jeans dan hebat merangkai kata, Pidi memang tak ubahnya Dilan, yang kegombalannya digantikan kalimat-kalimat bernada filosofis mengenai gosip sosial-politik. Dan menyerupai Dilan 1990, Koboy Kampus sejatinya tidak mempunyai plot, bergerak layaknya kompilasi denah plus video klip.

Naskah yang juga ditulis oleh Pidi dan Tubagus selalu melemparkan konflik demi konflik secara acak, pula tanpa benang merah kecuali bahwa seluruh konflik itu melibatkan individu-individu dari The Panasdalam. Dari perjuangan menggaet hati mahasiswi, bahaya drop out, ukiran dengan KMSR (Keluarga Mahasiswa Seni Rupa) dan jajaran aktivis, pelarangan ospek, dan lain-lain. Mayoritas permasalahan di atas berujung memberi wangsit bagi Pidi menggubah lagu. Masalah diutarakan, Pidi bernyanyi, kemudian usai. Fokusnya nol besar, namun menyerupai telah disebutkan, secara personal, aktivitas-aktivitas The Panasdalam terasa begitu dekat.

Apalagi kisahnya bertempat di luar hingar bingar ibukota (Bandung), mengakibatkan keguyuban tokoh-tokohnya semakin terasa. Di balik canda tawa mereka ada keintiman hangat. Seolah saya sedang berkendara melewati kenangan tanpa destinasi pasti, tapi alasannya yaitu menghadirkan nuansa sentimentil, saya menentukan pasrah, diam, menikmati pemandangan. Jajaran pemainnya pun solid, terlebih Jason Ranti, sehingga walau abjad Pidi kerap kurang manusiawi (lagi-lagi menyerupai Dilan), saya sanggup menikmatinya berseloroh.  Turut mencuri perhatian yaitu kejenakaan komedi deadpan Anfa Safitri sebagai Rianto si laki-laki bernasib malang tentang percintaan. Tambahkan lagu-lagu bernada catchy dan berlirik jenaka milik The Panasdalam Bank, perjalanan ini semakin menyenangkan.

Tapi tedapat satu unsur problematik, yakni terkait persepsi Koboy Kampus terhadap Orde Baru. (SPOILER ALERT) Kadang filmnya menyerupai mendukung Soeharto (nyanyian Pidi yang menyindir revolusi, reformasi, dan demokrasi, hingga ucapan terima kasihnya kepada sang diktator), kadang menyerupai menentang Soeharto (keputusan “bersatu kembali” dengan Indonesia selepas keruntuhan Orde Baru). Saya teringat akan suatu artikel yang menyebut bahwa pembentukan Negara Kesatuan Republik The Panasdalam merupakan bentuk protes akan Soeharto. Tapi apa pun sudut pandang Pidi, ambiguitas ini menunjukkan kurang mulusnya penyampaian pesan Koboy Kampus.