November 24, 2020

Koki-Koki Cilik 2 (2019)

Dua ahad terakhir merupakan waktu yang mengasyikkan bagi film anak. Setelah Doremi & You menebar kebahagiaan lewat musikal, kini giliran Koki-Koki Cilik 2 menyuguhkan sekuel sedap. Walau kali ini acara memasak bagai hanya hidangan pendamping, drama keluarga yang melibatkan jajaran penampil serta abjad baru, bertindak selaku sajian utama yang berhasil meluluhkan hati.

Bima (Farras Fatik) dan teman-temannya kembali berkumpul, berencana mengadakan reuni di Cooking Camp dua tahun selepas bencana film pertama, hanya untuk menemukan bahwa daerah itu sudah ditutup sehabis komentar miring dari Evan (Christian Sugiono), seorang mantan chef sekaligus pemilik restoran ternama, mengakibatkan hilangnya kepercayaan publik terhadap Cooking Camp yang kini dikelola Chef Grant (Ringgo Agus Rahman).

Cukup gila ketika belum dewasa tidak tahu perihal penutupan lokasi seterkenal Cooking Camp, yang juga memiliki daerah di hati mereka. Setidaknya para orang bau tanah niscaya mendengar kabar itu. Alhasil, berangkat dengan penuh suka cita, mereka disambut kamp kosong dan Chef Grant—dengan jenggot palsu jelek—yang kehilangan semangatnya.

Di tengah situasi tersebut, datanglah Adit (M Adhiyat) bersama tantenya, Adel (Kimberly Ryder). Adit boleh berusia paling muda, tapi kemampuan memasaknya luar biasa. Sayang, kesan pertamanya di mata belum dewasa Cooking Camp kurang baik. Bima dan teman-teman menganggap Adit arogan…..sampai kuliner si bocah menyentuh lidah.

Terpukau oleh masakannya, Adit pun diajak turut bergabung dalam perjuangan food truck yang dirintis guna membangkitkan Cooking Camp. Dari situlah pelan-pelan Adit merasa dicintai, suatu hal yang jarang ia temukan, mengingat ia senantiasa jadi korban perundungan di sekolah, pun kurang erat dengan sang ayah.

Paruh awal Koki-Koki Cilik 2 sebenarnya tidak berjalan mulus. Perubahan hati dan perilaku Adit terjadi begitu cepat, plus naskah buatan Vera Varidia (Me vs Mami, Surat Cinta untuk Kartini, Koki-Koki Cilik) terlalu banyak menebar konflik. Tentu di ketika belum dewasa membuat bisnis kuliner bersama, dilema bakal kerap terjadi, namun bukan berarti film ini mesti menyediakan tabrakan dan/atau pertengkaran gres tiap beberapa menit.

Tapi sehabis drama utamanya mengambil alih, Koki-Koki Cilik 2 mulai menemukan pijakan, bahkan membuat saya terenyuh oleh tuturannya. Ada satu titik balik khusus yang amat berkesan, yakni tatkala Adit kehilangan kontrol emosi akhir perilaku salah satu pengunjung food truck, dan Adel berusaha menenangkan sang keponakan dengan berkata, “Adit anak baik”.

Terasa emosional  berkat aura keibuan hangat dari Kimberly ditambah bagaimana adegan tersebut memotret kasih sayang melalui kata-kata sederhana. Makin bermakna sehabis latar belakang Adit digali lebih jauh, yang juga diikuti dua kejutan. Kejutan pertama gampang diprediksi, sementara yang kedua, biarpun mengejutkan, agak bermasalah alasannya yaitu melibatkan bencana masa lalu, yang secara logika, tidak mungkin dilupakan karakternya. Di luar dilema itu, keberadaannya efekif menambah bobot rasa. Salah satunya berkat penampilan paling solid sepanjang karir Christian Sugiono, juga M. Adhiyat yang sekali lagi menunjukan diri berpotensi menjadi pemain drama dengan sensibilitas tinggi di masa depan.

Mengedepankan Adit, porsi Bima pun berkurang jauh, yang mana patut disayangkan sehabis kita melalui banyak hal bersamanya di film pertama. Tapi paling tidak, Koki-Koki Cilik 2 bisa membayarnya lunas dengan membuat ikatan berpengaruh di antara para bocah. Teramat kuat, air mata bisa saja menetes sewaktu melihat mereka bicara hati ke hati, berpelukan, kemudian melaksanakan “ritual transfer energi”.

Terselip pula pesan anti-bullying selaku bumbu penyedap, yang walau takarannya minim, tetap meninggalkan dampak besar. Orang bau tanah akan memperoleh materi penting untuk diajarkan, yaitu perihal imbas perundungan yang masih bisa, atau bahkan gres dirasakan jauh di masa depan.

Mengambil alih kiprah penyutradaraan, Viva Westi (Rayya, Cahaya di Atas Cahaya, Jenderal Soedirman) mungkin belum sejago Ifa Isfansyah dalam mempresentasikan kuliner guna membuatnya nampak sedap dengan mengeksplorasi detail tekstur. Tapi kekurangan itu juga dipengaruhi variasi kuliner yang dipilih, juga fakta bahwa naskahnya tidak menyelipkan adegan memasak sebanyak film pertama. Lain dongeng jikalau membahas penghantaran rasa, di mana sang sutradara menerapkan dramatisasi secukupnya sehingga sukses menjadikan Koki-Koki Cilik 2 sebuah film keluarga yang demikian hangat.