November 30, 2020

Kuntilanak 2 (2019)

Dunia horor lokal belakangan mirip siswa yang sedang belajar. Prosesnya cukup lambat. Bukan buku demi buku, bukan pula halaman demi halaman, melainkan kalimat demi kalimat. Setelah beberapa waktu, kita balasannya hingga di fase “mengurangi kuantitas jump scare”. Tapi kita belum mencapai perjuangan memperbaiki kualitas trik menakut-nakuti, setidaknya tidak secara signifikan. Begitulah ekspektasi yang sebaiknya anda pasang untuk Kuntilanak 2.

Si hantu perempuan tituler gres menampakkan taring sesudah film menyentuh durasi sekitar 30 menit, dan meski impresi pertama terhadap terornya cukup baik, tidak demikian dengan jalan menuju ke sana. Pasca insiden film pertama, para pahlawan anak kita sekarang tinggal di bawah asuhan Donna (Nena Rosier) dan puterinya, Julia (Susan Sameh). Mereka hidup senang hingga tiba perempuan misterius berjulukan Karmila (Karina Suwandi), mengaku sebagai ibu kandung Dinda (Sandrinna Skornicki).

Ketiadaan bukti menciptakan Donna mencurigai kebenaran legalisasi tersebut, tapi Dinda, yang merindukan kasih sayang seorang ibu, memaksa untuk mengunjungi Karmila. Ditemani bocah-bocah lain juga Julia dan kekasihnya, Edwin (Maxime Bouttier dengan penampilan canggung mirip biasa), Dinda mengunjungi rumah Karmila yang terletak di tengah hutan terlarang. Anda tidak perlu menjadi paranormal kelas satu guna menebak identitas Karmila sesungguhnya.

Naskah buatan Alim Sudio (Surga yang tak Dirindukan, Rumput Tetangga) mengajak kita mengarungi perjalanan panjang sebelum menggedor melalui teror. Walau niatan untuk memberikan dongeng ketimbang kompilasi jump scare pantas diapresiasi, tanpa atmosfer memadai maupun modal dongeng solid, yang hadir hanyalah kekosongan. Sejatinya banyak elemen berpotensi digali, mirip mitologi kuntilanak hingga drama hangat seputar pencarian keluarga, tapi tak satu pun cukup besar lengan berkuasa guna mengatrol kualitas film secara signifikan.

Presentasi misteri mengenai identitas Karmila cenderung berupa rekap daripada pemeriksaan sungguhan, drama keluarganya urung memproduksi ikatan batin meyakinkan di antara huruf (khusus aspek ini, film pertamanya lebih baik), sementara elemen mitologinya sebatas aksesoris kecil yang tak kuasa menghembuskan kesejukan bagi dongeng maupun teror.
Tapi urusan menakut-nakuti, Kuntilanak 2 mengalami sedikit peningkatan, bahkan layak disebut sebagai horor terbaik yang pernah dirilis sempurna di hari lebaran. Membaiknya penyutradaraan Rizal Mantovani (Jelangkung, Kuntilanak, Antologi Rasa) jadi faktor penting penghasil teror solid tak murahan. Sayangnya, sesudah penantian panjang, beberapa “teror solid” belum cukup. Film ini butuh situasi “all hell break loose”, juga lebih banyak kreativitas dan dinamika semoga penantian tersebut layak dilalui.

Setidaknya Karina Suwandi kembali memamerkan penampilan mengerikan. Figurnya, dengan rambut lurus hitam panjang serta tatapan dingin, memancarkan aura mencekam sebagaimana saya bayangkan dimiliki oleh sesosok Kuntilanak. Ditambah gestur tak manusiawi yang sebelumnya pernah menciptakan penonton mencengang di Sebelum Iblis Menjemput, pula riasan ala horor kelas b yang mengingatkan kepada The Evil Dead (1981) kepunyaan Sam Raimi, Kuntilanak versi Karina ialah antagonis yang pantas mendapat film lebih baik.

Minimal titik puncak yang lebih baik, alasannya Kuntilanak 2 punya potensi memberi ride menyenangkan melalui presentasi babak ketiganya. Tapi pesona Karina Suwandi, pula musik garapan Stevesmith Music Production (Mata Batin, Sabrina, Antologi Rasa) yang cakap menyelipkan bunyi gamelan dalam scoring miliknya, dikecewakan oleh pacing lemah sekaligus ketidakmampuan Rizal Mantovani menjaga intensitas. Klimaksnya pun menjadi perjalanan melelahkan.