November 30, 2020

Last Christmas (2019)

Last Christmas, yang naskahnya ditulis oleh Emma Thompson (Sense and Sensibility, Nanny McPhee, Bridget Jones’s Baby) dan Bryony Kimmings menurut lagu berjudul sama buatan George Michael, merupakan komedi-romantis berlatar Natal, yang menyerupai banyak film Natal, “nilai apa yang diangkat” lebih dipentingkan dari penceritaan. Hasilnya klise dan kerap terlalu sentimentil, tapi merupakan kebohongan jikalau saya mengaku film ini gagal meninggalkan kesan.

Termasuk Last Christmas, ada total 14 lagu duo pop Wham! dan solo George Michael plus satu unreleased track (This Is How (We Want You to Get High)), mengiringi perjalanan Katarina, atau yang lebih suka dipanggil Kate (Emilia Clarke), seorang gadis dari keluarga Yugoslavia yang menetap di London pasca meletusnya perang. Hidup Kate berantakan. Hubungannya dengan keluarga, terutama sang ibu (Emma Thompson) merenggang, pun akhir kecerobohan serta keegoisannya, Kate selalu diusir di mana saja ia tinggal, menjadikannya tunawisma , mondar-mandir di jalanan London membawa koper dengan stiker “George Michael Forever”, mengenakan sepatu Elf selaku seragam kerjanya.

Kate bekerja di toko barang Natal milik Santa (Michelle Yeoh), di mana ia selalu terkena teguran si bos akhir kinerja buruknya. Mimpinya menjadi penyanyi senantiasa kandas akhir formasi kegagalan audisi. Begitu hingga di titik terendah dalam hidupnya, Kate bertemu Tom (Henry Golding). Berkebalikan dengan sinisme Kate, Tom penuh semangat bahkan cenderung eksentrik. Tom gemar menari di tengah jalan, dan ketimbang menatap layar smartphone, dia lebih suka menengadah memperhatikan detail-detail di sekitarnya.

Kate mulai tertarik pada Tom yang mengembalikan kepoitifannya, membuka matanya akan warna-warna dalam hidup yang selama ini tidak Kate acuhkan, dan dari situ, gampang menebak Last Christmas bakal bergerak ke mana. Film ini ialah soal proses Kate memperbaiki diri, menemukan kebahagiaan dengan cara mengurangi egoisme untuk membahagiakan sesama, alias sejalan dengan nilai-nilai Natal wacana kebaikan hati dan kebersamaan.

Sederhana, hanya saja di tengah perjalanan, naskahnya menambahkan beberapa kisah sampingan yang sejalan dengan nilai-nilai di atas, meski signifikansi terhadap konflik utamanya dipertanyakan. Isu rasisme sedikit disentil, sedangkan Santa, yang digambarkan keras dan dingin, rupanya bisa luluh juga lantaran cinta. Dia terpikat pada seorang laki-laki pemalu pengunjung toko (Peter Mygind), pasca pertemuan pertama yang mengatakan totalitas Michelle Yeoh mengolah rasa, bahkan untuk adegan komedik ringan sekalipun.

Setumpuk persoalan kompleks menimpa Kate, namun menyerupai tertulis di paragraf pembuka, naskahnya cuma berfokus pada nilai daripada kualitas penceritaan. Berbasis pada konsep keajaiban Natal, filmnya melaksanakan simplifikasi tatkala seluruh konflik usai begitu saja begitu Kate berhasil memperbaiki diri, yang mana prosesnya juga tidak kalah instan. Beruntung kita takkan keberatan menyaksikan perubahan Kate, alasannya ialah dengan semua sifat buruknya, sosoknya tetap simpatik berkat penampilan Emilia Clarke.

Walau tampil apik di Me Before You (2016) dan Solo: A Star Wars Story (2018), di sinilah bakat sang aktris dimanfaatkan seutuhnya. Sesuatu yang sangat Clarke butuhkan guna lepas dari bayang-bayang Game of Thrones. Clarke bisa mengubah sinisme dan perilaku apatis jadi kejenakaan loveable, lalu ketika risikonya Kate sukse mengentaskan diri dari jurang kesengsaraan, senyum lebarnya bakal membuatmu ikut mencicipi kebahagiaan. Henry Golding jadi tandem tepat dengan pesona kolam Prince Charming dari negeri dongeng sebagaimana telah ditunjukkannya di Crazy Rich Asians.

Membungkus pertemuan dua hati itu ialah penyutradaraan Paul Feig (Bridesmaids, Spy, A Simple Favor) yang tahu caranya menangkap romantisme berlatar kelap-kelip indah hiasan lampu Natal, sembari masih meninggalkan jejak kelihaiannya memvisualisasikan komedi. Euforia serta kehangatan adegan musikal selaku epilog pun bisa dihantarkan Feig, yang efeknya akan lebih berpengaruh andai sebelumnya tidak ada gangguan berupa twist melodramatis ala Nicholas Sparks, yang kemunculannya bisa ditebak hanya dengan membaca dua kalimat dari lirik salah satu lagu George Michael.