November 24, 2020

Long Shot (2019)

Serupa banyak komedi-romantis modern belakangan, Long Shot coba membangkitkan genre yang tengah sekarat tersebut melalui adaptasi terhadap formulanya. Walau masih seputar kisah cinta dua insan dengan latar berbeda, di sini tugas “sosok terpandang pemilik kekuatan dan kekuasaan” dipegang aksara wanita, sedangkan sang laki-laki yaitu rakyat jelata yang dianggap tidak pantas mendampingi si wanita. Long Shot tak ubahnya “reverse Pretty Woman” (terdapat referensi-referensi untuk film karya Garry Marshall itu).

Fred Flarsky (Seth Rogen) merupakan jurnalis idealis yang dikenal lewat tulisannya yang berani melontarkan kritik pedas bagi para konglomerat. Keteguhan Fred memeluk idealisme sejatinya kerap membawa masalah, menyerupai dikala media tempatnya bekerja diambil alih oleh pebisnis kotor berjulukan Parker Wembley (Andy Serkis dalam riasan tebal yang sulit dikenali). Membenci sepak terjang Parker, Fred pun tetapkan keluar. Fred yang kehilangan arah mengunjungi sahabatnya, Lance (diperankan O’Shea Jackson Jr. dalam pesona sekuat sang ayah), yang membawanya ke sebuah pesta. Di sanalah Fred bertemu Charlotte Field (Charlize Theron), Menteri Luar Negeri Amerika Serikat yang dahulu pernah menjadi pengasuhnya.

Long Shot berlatar di versi fiktif Amerika Serikat yang tak terlampau jauh dari realita. Presidennya, Chambers (Bob Odenkirk), yaitu laki-laki terbelakang yang memperoleh ketenaran sebagai pemain film serial televisi. Presiden Chambers menentukan tak berpartisipasi pada pemilu 2020 demi mengejar impiannya di dunia film, membuka jalan bagi Charlotte mencalonkan diri, untuk menjadi Presiden perempuan pertama Amerika Serikat.

Sebagai modal pencalonannnya, Charlotte menginisiasi kegiatan lingkungan yang ia harapkan menerima pinjaman dari para pemimpin negara-negara dunia. Tapi ia lebih dulu mesti mencari penulis biar pidatonya lebih hidup, lucu, dan terdengar akrab di indera pendengaran masyarakat awam. Secara mengejutkan Charlotte menentukan Fred, didasari kekaguman atas tulisannya yang berani sekaligus menggelitik, juga fakta bahwa ia telah usang mengenal Charlotte. Dari situlah romansa penuh kemustahilan di antara mereka bersemi.

Long Shot adalah dongeng soal banyak hal, dari feminisme, permainan politik, sampai hal rumit namun akrab dengan keseharian, yakni mengatur idealisme. Fred dan Charlotte menghadapi situasi pengambilan keputusan yang menguji prinsip masing-masing. Tapi film ini bukan (cuma) berpesan biar kita memegang teguh prinsip, melainkan usul biar tak dibutakan prinsip, sehingga enggan meninjau perspektif lain, yang bisa menghalangi kita melihat sisi konkret banyak sekali hal. Kondisi itu menimpa Fred dan banyak individu yang percaya kalau mereka memperjuangkan kebaikan. Fred menuduh Charlotte “melacurkan” idealisme demi kekuasaan. Tapi Fred menolak menyelidiki dari perspektif Charlotte, yang sejatinya mengincar hasil jangka panjang dengan efek lebih signifikan.

Biarpun mengusung isu-isu berat, Long Shot tidak melupakan statusnya sebagai komedi-romantis. Penyutradaraan Jonathan Levine (50/50, Warm Bodies) cukup subtil, di mana ia bisa memunculkan aura romantis melalui situasi sederhana tanpa meledakkan dramatisasi secara berlebihan. Dibuat oleh penulis The Interview (Dan Sterling) dan The Post (Liz Hannah), naskahnya pun kolam adonan gaya kedua judul tersebut: konflik politik dalam balutan komedi khas Seth Rogen yang berisik, seringkali chaotic, dan dipenuhi humor dewasa.

Tidak semua humornya tepat sasaran, mengingat ide-idenya sendiri tak sepenuhnya gres maupun tajam. Alhasil Long Shot bergantung pada penghantaran para pemain. Rogen tampil menyerupai biasa memerankan laki-laki canggung bermulut besar, yang mana tak banyak menolong. Beruntung filmnya mempunyai Charlize Theron, yang menyerupai Charlotte Field, sanggup melaksanakan apa saja. Theron membabat habis seluruh momen komedik berkat totalitas serta kesempurnaan timing, sambil sesekali menghembuskan cukup emosi untuk mengakibatkan Long Shot tontonan dengan hati.

Selaku kisah seputar gender, keputusan menukar keklisean tugas gender milik formula klasik komedi-romantis terbukti tepat, sekaligus menciptakan film ini penting disimak khususnya oleh para pria. Long Shot adalah komedi-romantis berisi aksara laki-laki yang tidak ciut nyali menghadapi perempuan yang lebih besar lengan berkuasa di segala lini. Alih-alih minder, sang laki-laki justru membantu sepenuh hati dan berusaha biar tidak menjadi beban. If every man acts and thinks that way, maybe this movie’s last moment won’t be such a long shot.