November 24, 2020

Lorong (2019)

Kata “klise” didefinisikan dengan tepat oleh Lorong, sebuah film yang bergerak sesuai pakem. “Mudah ditebak” tidak serta merta melahirkan dosa, namun saat dilengkapi pula oleh penggarapan ala kadarnya serta tensi yang datar-datar saja, saya bertanya-tanya, “apa yang coba ditawarkan para pembuatnya?”.

Selepas proses persalinan, Kanya (Prisia Nasution) disambut kabar sedih dari sang suami, Reza (Winky Wiryawan), bahwa buah hati mereka—yang hendak dinamai Reno—telah meninggal dunia. Tapi entah mengapa, Kanya yakin Reno masih hidup. Meyakini Kanya menderita depresi, Reza dibantu karyawan rumah sakit termasuk dr. Vera (Nova Eliza), berusaha menyadarkan sang ibu yang malang.

Tapi Kanya tetap ngotot, selalu nekat kabur dari kamar guna mencari Reno, menggiring kisahnya menuju bencana berulang di mana Kanya akan terbangun dari mimpi buruk, mencabut infus, bersusah-payah menyusuri lorong rumah sakit, kemudian bertemu Darmo (Teuku Rifnu Wikana) si petugas kebersihan.

Pengulangan tersebut seakan mengambarkan kebingungan Andy Oesman (The Sacred Riana: Beginning) dalam membuatkan cerita yang kolam diniati jadi versi jauh lebih sederhana dari Rosemary’s Baby-nya Roman Polanski. Begitu sederhana, naskahnya merasa tidak perlu mengangkat ambiguitas soal “apakah Kanya memang mengalami gangguan jiwa?”. Fakta sesungguhnya eksklusif diungkap di pertengahan durasi.

Sejatinya itu langkah berani, berpotensi membawa proses eksplorasi kisahnya ke arah berbeda. Sayangnya itu urung dilakukan, sehingga Lorong gagal menyediakan alasan mengapa penonton harus terus menaruh perhatian hingga akhir. Sementara sebagai perjuangan memfasilitasi selera penonton kebanyakan, turut dimasukkan elemen mistis berupa penampakan hantu perempuan di beberapa kesempatan.

Naskahnya berniat menimbulkan si hantu lebih dari sebatas penebar teror, meski pada akhirnya, kehadirannya tidak signifikan menghipnotis berhasil atau tidaknya Kanya menyibak segala kebenaran. Pun kemunculannya tak pernah mengerikan akhir lemahnya penyutradaraan Hestu Saputra (Cinta tapi Beda, Hujan Bulan Juni, Merry Riana: Mimpi Sejuta Dollar).

Terbiasa mengarahkan drama, Hestu terang belum menguasai teknik mengarahkan horor. Pacing maupun pemilihan sudut kamera pilihannya terkesan seadanya, kurang menunjang pembangunan atmosfer dan intensitas. Babak ketiga jadi korban terbesar pengarahan lemah sang sutradara. Padahal konsep klimaksnya menarik, menyimpan kengerian dari suatu bencana brutal nan ironis, yang dampaknya bakal menguat andai bersedia menambahkan kadar kekerasan.

Malang bagi Prisia Nasution. Penampilannya solid, cukup meyakinkan mengekspresikan keputusasaan seorang ibu yang hatinya remuk redam, walau cakupan emosi huruf Kanya bahwasanya tidak terlalu luas (ketakutan dan menangis). Prisia mesti lebih cermat menentukan peran. Sempat digadang-gadang sebagai calon aktris Indonesia nomor satu, entah sudah berapa tahun ia tidak mendapat film berkualitas.