November 24, 2020

Lukisan Ratu Kidul (2019)

Oh ya, Lukisan Ratu Kidul yaitu film terbaik produksi Paduka Dheeraj Kalwani alias Baginda KKD. Walau status “terbaik “ di sini tingkatannya sama dengan menyebut “susu kedaluwarsa rasa cokelat punya rasa terbaik di antara semua susu basi”. Akhirnya tetap sakit perut kan? Kali ini Paduka menunjuk Ginanti Rona (Midnight Show, Anak Hoki) sebagai nahkoda. Berikutnya giliran Hadrah Daeng Ratu menyutradarai Malam Jumat The Movie. Berapa banyak lagi bakat berbakat akan Paduka coreng reputasinya?

Kisahnya mengetengahkan abang beradik, Dimas (Teuku Zaky) dan Satria (Wafda Saifan), yang mendapatkan warisan rumah dari mendiang sang ayah. Saat kecil dahulu, mereka sempat tinggal di sana, namun tak ada memori yang tersisa. Mereka berdua, beserta istri Dimas, Astrid (Ussy Sulistyawaty) dan sang puteri, Sandra (Annisa Aurelia), pun menetap sementara di rumah tersebut sembari memikirkan langkah selanjutnya.

Di tengah kebingungan itu, entah mengetahui kedatangan mereka dari mana, datanglah Kevin—diperankan Fadika Royandi lewat akting over-the-top memuakkan—menawarkan diri untuk mencarikan pembeli. Dimas yang kebetulan tengah dilanda kesulitan finansial pun sepakat menemui klien Kevin, seorang kolektor lukisan Nyi Roro Kidul (Wawan Wanisar) buatan kakek Dimas, Rusdi Soedibyo (Egi Fedly), yang konon menyimpan kekuatan mistis sehingga sanggup memberi keberuntungan bagi pemiliknya.

Sang kolektor mengaku, bahwa dulu ia meminta dibuatkan 13 lukisan, namun gres 12 buah yang ia terima. Dia pun yakin bahwa lukisan ketigabelas masih tersimpan di rumah Dimas, dan berani menawar 8 milyar rupiah guna menebusnya. Rasanya ingin saya menanyakan hal berikut kepada Husein M Atmodjo (Midnight Show, 22 Menit, Perjanjian Dengan Iblis) selaku penulis naskah: Kalau si kolektor memesan 13 lukisan pada Rusdi sebab unsur magis di dalamnya, mengapa gres di lukisan terakhir Rusdi menemukan cara meniupkan kekuatan mistis pada karyanya?

Mungkin saya yang salah mengharapkan Lukisan Ratu Kidul memedulikan kesolidan narasi. Terlebih sesudah sepanjang durasi, filmnya bertutur secara kasar, yang merupakan kombinasi penulisan janggal, penceritaan garang sang sutradara, serta penyuntingan asal pasang. Acap kali tidak ada jembatan antar-adegan, sehingga mengesankan ada shot yang hilang ditelan Bumi sebagaimana hilangnya ibunda Dimas dan Satria.

Jangan harapkan pula penampilan jajaran pemain tiba menyelamatkan situasi. Selain Fadika Royandi, memang tak ada akting “menyakitkan” lain, namun tidak pula pantas disebut memikat. Terkecuali pemain drama senior Wawan Wanisar (pemeran Pierre Tendean di Pengkhianatan G 30 S/PKI) lewat penghantaran kalimat paling natural, serta Annisa Aurelia, yang setidaknya, sebagai aktris cilik, cukup meyakinkan melakoni situasi di mana karakternya dihimpit teror.

Walau keseluruhan filmnya nyaris remuk redam, potensi Ginanti Rona sebagai sineas horor masih sanggup disaksikan di beberapa kesempatan. Mengandalkan trik kemunculan hantu medioker, jump scare garapan Ginanti punya ketepatan timing yang sesekali efektif mengejutkan penonton meski kerap diganggu musik buatan Ricky Lionardi (Rectoverso, Danur 2: Maddah, Tembang Lingsir) yang lebih berisik daripada sound system konser dangdut RT sebelah.

Sejak alih persona menjadi Dheeraj Kalwani, saya memang mendapati kemajuan di produk-produknya, termasuk soal tata artistik yang bukan lagi sekelas Bandung Lautan Asmara. Hal serupa masih sanggup ditemui di sini, kala lokasi indoor-nya digarap cukup solid, khususnya dominasi warna hijau selaku warna Kanjeng Ratu Kidul. Ya, hingga sebuah close-up shot menunjukkan properti pisau yang kentara dibentuk memakai aluminium foil. Di situ saya merasa cukup.