November 28, 2020

Ma (2019)

Sebuah saran: Kalau ingin penonton mendukung huruf pembunuh atau psikopat dalam filmmu, pastikan ia membunuh dan/atau menyiksa korban yang tepat, yang penonton anggap pantas mendapatkannya. Di situlah letak kekeliruan Ma, thriller psikologis yang menciptakan saya kebingungan mesti mencicipi apa, berekasi bagaimana, dan bersimpati kepada siapa.

Andai Scotty Landes selaku penulis naskah memasang sasaran sederhana, Ma bisa menjadi cheap thrills yang tepat sebagai tontonan seru tengah malam. Bahan bakunya mendukung. Sekelompok dewasa termasuk protagonis kita, Maggie (Diana Silvers) yang gres saja pindah, terjebak dalam permainan asing seorang perempuan misterius berjulukan Sue Ann (Octavia Spencer) alias “Ma”. Diawali undangan membelikan minuman keras, Ma justru mengajak mereka berpesta di ruang bawah tanah miliknya.

Di sana mereka bebas menenggak berbotol-botol minuman, menghisap ganja sepuasnya, tanpa takut ditangkap polisi sebagaimana terjadi sebelumnya. Satu-satunya hukum yaitu “Dilarang menginjakkan kaki di lantai atas”. Suatu larangan yang selalu dilontarkan huruf psikopat. Bocah-bocah ini terang jarang menonton film.

Ma bisa bertahan di rute mudah, menempatkan fokus hanya pada proses para dewasa menyadari adanya ketidakberesan dalam diri Ma, kemudian berjuang kabur demi menyelamatkan nyawa mereka. Tapi film ini ingin lebih. Naskah awal Landes tak mempunyai latar belakang bagi Ma, menjadikannya sesosok monster keji. Setelah sutradara Tate Taylor (The Help, The Girl on the Train) dan Spencer bergabung, barulah elemen itu dibentuk demi terciptanya otentitas karakter, sekaligus menambahkan pesan anti-bullying.

Akhirnya, sesekali kita diajak mengintip masa kemudian Ma, yang menjabarkan alasan mengapa ia mengundang remaja-remaja itu (makin usang jumlah “tamunya” makin besar). Alasan yang dibutuhkan memancing simpati penonton terhadap Ma, namun urung terjadi akhir ia (baca: filmnya) salah menentukan korban. Saya memahami kesedihan Ma muda, tapi tak mendukung perbuatannya di masa kini. Apalagi berkat Diana Silvers, Maggie jadi protagonis yang simpel disukai.

Bukan duduk kasus andai Ma sebatas cheap thrills, tapi presentasinya terang berupa studi huruf yang mengedepankan eksplorasi psikis Ma, sembari membatasi jumlah situasi menegangkan. Sayang, menyerupai sudah dibahas di atas, filmnya salah menentukan korban. Dari situlah Ma mulai terjebak di ketidakpastian dan sanggup sepenuhnya tersedot dalam lubang hitam berjulukan “kemediokeran” bila bukan sebab Spencer. Menghabiskan karir memerankan figur hangat, Spencer bertransformasi memamerkan mood swing sekaligus memanusiakan sosok Ma. Tangisannya mengiris perasaan, sebaliknya, ia mengerikan dikala tersenyum sambil merekam video, mengajak para dewasa berpesta. Mungkin tetap sulit bersimpati padanya, namun Ma terang bukan mesin pembunuh berhati hampa.

Klimaksnya memperlihatkan apa yang secara umum dikuasai penonton tunggu dalam wujud situasi singkat tapi menyakitkan tatkala Ma melepaskan segala beban mentalnya. Sayang, penyutradaraan Tate Taylor menciptakan momen puncaknya ditutup secara menggelikan. Bermaksud membangun kekacauan yang mewakili kondisi “run for your life!“, kemasan canggung nihil intensitas dari sang sutradara menghapuskan peluang bagi paruh final filmnya menebus dosa-dosa sebelumnya.