November 30, 2020

Makmum (2019)

Bagaimana cara mengakibatkan horor pendek perihal gangguan hantu di tengah salat sebuah film panjang? Cukup meragukan, apalagi ditambah keterlibatan Baginda Dheeraj Kalwani. Tapi proyek pembiasaan film pendek berjudul sama karya Riza Pahlevi ini rupanya lebih baik dari asumsi jauh di atas produksi Baginda Dheeraj lain, meski pencapaian itu terbilang gampang selama film anda bukan sampah.

Kisahnya membawa kita ke suatu asrama yang dikepalai oleh Rosa (Reny Yuliana), menggantikan Ibu Kinanti (Jajang C Noer) yang terbaring sakit. Berbeda dengan sang pendahulu, Rosa bersikap keras cenderung kecam pada para penghuni, khususnya Nurul (Tissa Bianni), Nisa (Bianca Hello), dan Putri (Adila Fitri) yang dihentikan pulang selama liburan jawaban gagal menerima rata-rata nilai 8.

Seolah belum cukup sial, bukan cuma teror pengurus asrama galak saja yang mesti diadapi, pula sesosok makhluk halus yang dijuluki “Hantu Makmum” alasannya yakni kerap meneror kala mereka menjalankan salat. Adegan pembukanya eksklusif memperlihatkan bencana mistik tersebut, tatkala sutradara Hadrah Daeng Ratu (Mars Met Venus, Jaga Pocong, Malam Jumat the Movie) mampu mereka ulang nuansa atmosferik film pendeknya.

Sampai suatu ketika tiba Rini (Titi Kamal), mantan penghuni asrama yang mengatakan diri menjadi mentor pasca pekerjaannya sebagai perias jenazah gagal menghasilkan uang, membuatnya diusir dari kontrakan. Penokohan Rini menarik. Dia bisa melihat hantu dan tidak takut pada mereka. Bahkan Rini berani “menghardik” makhluk tak kasat mata yang berbuat iseng ketika ia sedang bekerja.

Jarang horor lokal memiliki protagonis semacam itu. Saya pun menantikan bagaimana duet penulis naskah Alim Sudio (Ayat-Ayat Cinta 2, Dimsum Martabak, Kuntilanak) dan Vidya Talisa Ariestya membuatkan tokoh Rini begitu ia tetapkan membantu belum dewasa asrama menyidik teror hantu Makmum. Tapi keinginan tinggal harapan. Di sisa durasi, Rini tak ubahnya protagonis horor kebanyakan yang hanya bisa kaget, takut, kemudian kabur, dan simpel menyia-nyiakan bakat Titi Kamal.

Potensi Rini pelan-pelan terkubur, berakhir sebagai satu lagi huruf yang gampang dilupakan. Satu poin yang terus saya ingat mengenainya yakni luka bakar di tangannya. Mengapa ia tidak mengenakan sarung tangan? Mungkin itu takkan banyak membantunya memperoleh pekerjaan di dunia tata rias (manusia hidup), namun setidaknya mengurangi kecanggungan ketika berjabat tangan dengan orang asing.

Bagaimana perjuangan naskahnya melebarkan kisah delapan menit menjadi 95 menit? Awalnya semua berjalan baik, malah menarik kala mitologi soal Kanzan, alias hantu-hantu yang gemar mengusik ibadah salat, diperkenalkan oleh Ustaz Ganda (Ali Syakieb). Sampai Alim dan Vidya seolah melupakan pembangunan tersebut, kemudian memperkenalkan twist yang justru membuat pertentangan mengenai asal-usul si hantu pengganggu.

Masih terkait penulisan, Makmum juga terjebak kebiasaan jelek film kita, khususnya horor, yakni pemakaian baris kalimat yang asal mencampurkan diksi santai dan baku, yang berakhir terdengar kaku. Paling menerima kerugian dari gaya bahasanya yakni Arief Didu sebagai Slamet si penjaga asrama. Arief yang biasanya luwes, di sini kolam terbebani. Masalah berbeda menimpa Tissa Biani. Seperti biasa, urusan olah emosi, aktris muda ini piawai, tapi pelafalan Bahasa Jawanya mengganggu jawaban terkurung stereotip buatan sinetron dan FTV.

Makmum sejatinya bukan sajian murahan. Poin pembeda dari produksi Baginda Dheeraj lain yakni keberadaan beberapa teror yang efektif. Memasuki horor ketiganya, Hadrah semakin berakal memainkan atmosfer sembari meminimalisir pemakaian musik. Urusan timing pun ia membaik, terlihat terang dalam “jump scare lemari” yang didahului pembangunan mencekam sebelum ditutup gebrakan mengejutkan.

Sayang, begitu dihadapkan pada sekuen berintensitas tinggi yang menuntut kejelian mengolah dinamika, sebagaimana di Jaga Pocong dan Malam Jumat the Movie, Hadrah masih canggung. Baik dari pilihan shot maupun gerak kamera (yang artinya juga tanggung jawab Rendra Yusworo selaku sinematografer) ibarat kekurangan daya. Alhasil, kualitas titik puncak di mana kekacauan memuncak terjun bebas, bergerak layaknya orang kelaparan.