October 24, 2020

Mars Met Venus – Part Cowo (2017)

Keputusan membagi Mars Met Venus menjadi dua bab terang berisiko. Masing-masing film harus mewakili tiap sisi guna menghadirkan perspektif berlainan namun saling melengkapi. Ibarat puzzle, Part Cewe dan Part Cowo mesti bisa menyatu menghasilkan citra besar utuh mengenai hubungan dua tokoh utama. Hasil akibatnya campur aduk. Serupa pendahulunya, Part Cowo amat menghibur, tapi menegaskan bahwa proses saling mengisi yang terjadi justru berbentuk tambal sulam. Walau kelemahan Part Cewe seputar dinamika bisa diperbaiki, Part Cowo bagai filler yang menyelip masuk di sela-sela kecil kisah, meninggalkan mayoritas gejolak substansial di film pertama.

Serupa Part Cewe, Part Cowo pun disusun menurut stereotip mengenai gender, dan sebagaimana kita tahu, pemuda dikenal atas kebodohan mereka (kami). Itulah mengapa kali ini komedi jauh lebih kental. Berbeda dengan sahabat-sahabat Mila (Pamela Bowie) yang menanggapi curahannya lewat saran, teman Kelvin (Ge Pamungkas) yaitu apa yang bakal orang-orang definisikan sebagai “idiot”. Tidak ada situasi berlalu tanpa tingkah konyol maupun komentar bernada mesum. Fokus pun condong ke komedi, yang akibatnya jadi pembeda urusan dinamika. Kala Part Cewe berisi pertengkaran beruntun nan melelahkan, Part Cowo lebih santai, di mana kebanyakan konflik yaitu situasi menggelikan daripada perang urat syaraf. 
Masuk nalar mengingat Kelvin memandang kemarahan Mila dengan penuh kebingungan layaknya pemuda yang selalu clueless terhadap kekesalan sang kekasih. Dan menyelami sisi pemuda seolah memberi kesempatan pada sutradara Hadrah Daeng Ratu bersama penulis naskah Nataya Bagya untuk meluapkan hasrat menggila. “Boys are stupid” jadi kunci. Semisal, alih-alih berkata “ciee selamat ya” tatkala seorang teman berhasil jadian, mereka menentukan berbuat konyol menyerupai tampak dalam salah satu adegan terlucu di film Indonesia tahun ini (let’s call it “jangan berantem” scene) yang kemampuan memancing tawanya setingkat momen “sate padang” kepunyaan Part Cewe. 

Tapi inspirasi Nataya atau kemasan abstrak Hadrah mungkin urung seefektif itu andai tanpa jajaran cast mumpuni. Keempat personil Cameo Project membuat tokoh pendukung tim Mars jauh lebih menarik dibandingkan tim Venus. Karena telah usang bersama, jalinan chemistry berupa lempar-tangkap banyolan berjalan mulus. Masing-masing mempunyai ciri khas. Tingkah “kotor” Bobby (Ibob Tarigan), Martin (Martin Anugrah) yang kerap asal bicara, Steve (Steve Pattinama) dengan wajah sangar tapi hati “lembut”, hingga Reza (Reza Nangin) yang paling bijak meski tak kalah bodoh. Sedangkan Ge Pamungkas masih hebat berekspresi. Sebagaimana “sate padang”, banyolan “mie” takkan maksimal tanpa pembawaan ekspresifnya. Bahkan di sini Ge pertanda punya jangkauan cukup baik menangani situasi dramatik. 
Apakah Part Cowo sanggup mewakili perspektif para Mars? Ada detail menarik terkait itu. Mila di Part Cewe mungkin terasa berlebihan, tetapi alasannya yaitu kita terus mengikutinya, sedikit menyelami isi hatinya, sikapnya bisa dimaklumi. Berbeda dengan Mila di sini yang begitu menyebalkan. Bukan kesalahan karakterisasi, melainkan kesengajaan selaku perjuangan membawa penonton sepenuhnya ada di posisi Kelvin. Kita hanya tahu apa yang Kelvin tahu, sementara Mila jadi sosok ajaib di luar sana, berperan sebagai faktor eksternal pemicu masalah. Poin ini termasuk satu lagi keunggulan Part Cowo. Berbeda dengan film pertama yang meski menyoroti Mila dan kawan-kawan masih menyebabkan Kelvin tokoh lebih banyak didominasi hingga kurang pas disebut Part Cewe.

Seperti sudah disinggung di atas, Part Cowo bak filler bagi keseluruhan cerita. Memang ada beberapa insiden pemanis yang belum muncul di Part Cewe karena merupakan perspektif Kelvin seorang, namun tidak lebih dari insiden selingan, sebutlah soal apa yang terjadi sebelum Kelvin tiba meminta nomor Mila. Sisanya, selaku garis besar cerita, sudah kita lihat di Part Cewe. Bahkan formasi konflik penting pribadi masuk ke inti persoalan  tanpa pembangunan terlebih dulu. Bertujuan menghindari repetisi bagi penonton yang telah menonton Part Cewe, keputusan itu berpotensi membingungkan bagi yang belum. Padahal “film paket” semacam ini mestinya sanggup dinikmati secara terpisah. Alhasil sulit menghilangkan pemikiran bahwa Mars Met Venus akan lebih baik andai dilebur sebagai satu film. Di samping itu, Part Cowo tetap luar biasa lucu, pun sempat terasa manis. Jika pada Part Cewe ada pinjaman bunga diiringi Dulu Kini Nanti yang dibawakan Citra Scholastika, kali ini versi Adis Putra menemani momen festival foto yang tak kalah menyentuh. 

Review film ini juga tersedia di: http://tz.ucweb.com/8_wEBN