October 27, 2020

Mata Tuhan (2018)

Tidak butuh mata yang kuasa atau mata batin biar bisa melihat keburukan film ini. Digarap oleh Andibachtiar Yusuf yang gres beberapa hari kemudian memukau saya lewat Love for Sale (yang dibentuk tanpa tekanan kanan-kiri), Mata Dewa mengikuti formula film olahraga: usaha underdog, mentor misterius yang sempat punya nama besar, korelasi renggang anak-orang tua, rivalitas, romansa, dan epilog berupa pertandingan akbar. Tapi tak ada satu pun tampil maksimal. Bahkan, semua digarap di bawah standar.

Dibuka lewat pertandingan yang mengecewakan bagi tim Jayhawk dan Sekolah Menengan Atas Wijaya, kita berkenalan dengan Bumi (Brandon Salim), pemain berkemampuan seadanya yang dijadikan kambing hitam atas kekalahan tim oleh Dewa (Kenny Austin), si pemain andalan. Bila tidak ada kata “Dewa” di judulnya, mungkin banyak yang akan mengira Bumi lah protagonisnya. Rupanya, beberapa waktu berselang porsi Bumi terkikis. Tanpa signifikansi terhadap alur, ia mendadak berperan sebagai pelopor suporter alih-alih bermain. Apakah ia dikeluarkan? Atau merasa kemampuannya dangkal kemudian menentukan mundur? What a message.
Naskah hasil goresan pena Andibachtiar bersama Oka Aurora ialah setumpuk konsep yang dimasukkan dalam satu rangkaian alur tanpa saling bertautan. Beberapa subplot pribadi menginjak resolusi tanpa proses, sisanya berkebalikan, dilontarkan tanpa penyelesaian. Mengapa Dewa enggan berkomunikasi dengan sang ibu? Untuk apa si instruktur (Nino Fernandez) diberi pergulatan batin terkait pengunduran diri di awal cerita? Sedangkan Ariyo Wahab sebagai mentor Dewa menyerupai hendak diberi arc perihal kebangkitannya—yang menghadirkan paralel dengan usaha Dewa—hanya untuk kemudian dilupakan.

Saya paham bahwa Mata Dewa ialah media promosi DBL (Developmental Basketball League). Maka saat alur dinomorduakan demi fokus lebih pada momen pertandingan, saya sedikit maklum. Masalahnya, agresi di atas lapangan dikemas demikian malas. Zoom in, zoom out, shaky cam. Tiga teknik itu terus direpetisi, walau dilihat sekilas pun terang betapa intensitas gagal diciptakan. Belum lagi bumper videoBasketball Live Streaming”, yang entah apa gunanya, selalu diulang. Saya tidak pernah menonton DBL di televisi (kalau ada). Mungkin memang gayanya begitu, entahlah. Satu hal pasti, film ini mestinya bukan highlights, bukan pula reka ulang siaran televisi, melainkan atmosfer orisinil di lapangan pertandingan.
Tapi saya masih bersabar, mengira babak final selaku titik puncak bakal lebih seru. Sampai filmnya memperkenalkan satu per satu pemain dari kedua tim. Total 10 tokoh yang takkan kita pedulikan eksistensinya muncul. Sulit menghilangkan kecurigaan jika intorduksi tersebut semata bertujuan mengulur waktu. Ketika film berdurasi 80 menit coba mengulur waktu, bisa dipastikan tersimpan ketidakberesan. Sama tidak beresnya dengan bibir komat-kamit Kenny Austin kala Indonesia Raya berkumandang. Apakah protagonis kita tidak hafal lagu kebangsaan?

Wijaya the Giant Killer”. Julukan yang diberikan oleh dua komentator (Augie Fantinus dan Udjo Project Pop) sulit diamini, alasannya ialah kita tak diajak mencicipi usaha mencapai puncak. Setiap pertandingan numpang lewat, dan tiba-tiba hingga titik akhir. Mestinya final jadi ajang pembuktian Dewa yang penglihatannya terganggu akhir kecelakaan. Tapi sepanjang laga, cuma dua kali ia berperan: Saat dijatuhkan lawan, dan memberi assist pada rekannya dalam angka penentu kemenangan. Ya, bahkan angka itu bukan dicetak oleh Dewa. Sulit mencari hal positif. Dodit Mulyanto yang diperlukan menyegarkan suasana pun tak dimaksimalkan akhir timing pengadeganan acap kali meleset. Selaku alat promosi DBL, Mata Dewa gagal tersaji inspiratif (seperti beberapa kisah aktual keberhasilan mantan atlet yang tertuang di akhir), atau sekedar keren.