November 25, 2020

Mendadak Kaya (2019)

Kita semua punya kerabat atau teman yang berisik, sok asyik, banyak gaya, dan suka melucu walau tidak lucu. Alih-alih bahagia menghabiskan waktu bersamanya, kita justru terganggu, berharap waktu segera berlalu atau orang itu lenyap dari muka Bumi. Begitulah kesan yang diberikan Mendadak Kaya, sekuel dari DOA: Cari Jodoh yang mengadaptasi komik strip terbitan Poskota. Artinya, Anggy Umbara sukses menghasilkan dua installment berkualitas tiarap.

Tiga huruf utama kita masih sama. Doyok (Fedi Nuril) masih membujang, Otoy (Pandji Pragiwaksono) terus terlibat pertengkaran dengan sang istri, Eli (Nirina Zubir), sementara Ali Oncom (Dwi Sasono) tetap menghadapi jalan berbatu dalam memperjuangkan hubungannya dengan Yuli (Jihane Almira). Tentu saja ketiganya masih sama-sama miskin dan bergelimang hutang.

Ditulis naskahnya oleh Anggy Umbara bersama Iyam Renzia, Mendadak Kaya menghabiskan separuh awal durasi menuturkan perjuangan tiga tokoh utama mencari kerja. “Menuturkan” di sini bukan berarti bercerita secara layak, melainkan adonan sketsa-sketsa konyol soal keseharian Doyok-Otoy-Ali Oncom di daerah kerja. Tidak ada dongeng sungguhan, hanya bazar gaya Anggy (transisi animasi khasnya pun masih dipertahankan) yang daripada lucu, justru tampak makin murahan.

Saya paham bahwa kemasan murahannya, baik dari humor atau pengaruh visual, yaitu bentuk kesengajaan demi menyesuaikan sasaran pasarnya, yakni pembaca Poskota yang biasanya berasal dari kalangan menengah ke bawah. Masalahnya, bukan cuma tidak lucu, gaya sok asyik Anggy tidak terasa sebagai perjuangan melucu. Bagian mana yang lucu dari kemunculan acak pengaruh visual gelembung sabun sekelas video flash?

Apabila kita bedah satu per satu, sejatinya humor yang film ini tawarkan tidak buruk. Terkesan “murahan”, namun kekeliruan bukan terletak di situ, melainkan pada nihilnya kesadaran akan timing. Sekitar tiga atau empat titik memilikinya, tapi menyidik kualitas penghantaran komedin secara menyeluruh, saya yakin itu sekadar kebetulan. Jam rusak saja masih sanggup dua kali menawarkan waktu yang benar.

Praktis, Mendadak Kaya amat bergantung kepada trio aktor utama yang kembali berusaha semaksimal mungkin, khususnya Dwi Sasono, yang tepat memerankan huruf komikal berkelakuan antik berfisik unik macam Ali Oncom.

Setelah menanti beberapa lama, balasannya kita datang pada titik di mana trio protagonisnya mendadak kaya, sesuatu yang dinanti-nanti alasannya yaitu itulah premis dasarnya, tapi justru dari sini Mendadak Kaya berubah dari komedi medioker menjadi komedi malas. Doyok, Otoy, dan Ali Oncom menghambur-hamburkan uang, membeli barang-barang glamor sambil bertingkah norak. Klise, tapi tak hingga menandingi kemalasan fase kala karakternya berlibur.

Berniat ke Disneyland, sebuah insiden ndeso justru membawa mereka berada di JungleLand. Berikutnya, Mendadak Kaya hanya menampilkan tiap-tiap tokoh menaiki wahana, diselingi humor ala kadarnya yang telah kita temui jutaan kali (Doyok, Otoy, dan Ali Oncom ketakutan menunggangi wahana kemudian mual selepas melakukannya). Pun waktu dihabiskan terlalu lama, fase ini sanggup menjadi sebuah episode vlog jalan-jalan di YouTube.

Bahkan vlog tampaknya masih lebih menghibur. Penataan kamera Edi Santoso (9 Naga, Susah Sinyal, DOA: Cari Jodoh) gagal mewakili keseruan kegiatan senang-senang di taman bermain. Dan tidak peduli dengan kalimat “Cintailah produk-produk Indonesia”, JungleLand bukanlah Disneyland. Tidak ada cukup kemeriahan, apalagi dikala dibungkus sinematografi sekenanya.