October 19, 2020

Mereka Yang Tak Terlihat (2017)

Sayang sekali Mereka Yang Tak Terlihat akan lebih ramai dibicarakan lantaran rekor MURI untuk “Film drama horor dengan aktor aksara makhluk astral terbanyak” alih-alih sebagai horor terbaik karya Billy Christian (Rumah Malaikat, Tuyul Part 1, Petak Umpet Minako) sejauh ini. Mengesampingkan trik jump scare klise andalannya, Billy merangkai drama coming-of-age berbumbu dunia supernatural di mana penampakan jadi bentuk komunikasi dan hantu bukan semata ancaman, melainkan makhluk yang hidup berdampingan dengan manusia. Tentu itu dilakukan tanpa melupakan sentuhan horor lewat tampilan mereka.

Saras (Estelle Linden) bisa melihat hantu sedari kecil, tepatnya semenjak sang nenek meninggal. Walau awalnya ketakutan, Saras coba terbiasa, apalagi kala beberapa arwah mulai berusaha menjalin komunikasi, entah sekedar curhat hingga meminta pertolongan terkait perkara yang belum tuntas. Di sisi lain kehidupan langsung Saras jauh dari kemudahan. Bersama sang adik, Laras (Bianca Hello), Saras kerap terlibat perselisihan dengan ibunya (Sophia Latjuba) yang dituntut menghidupi kedua puterinya seorang diri hasil berjualan kue. 
Billy bersama Estelle Linden menyusun naskah Mereka Yang Tak Terlihat sebagai kisah coming-of-age. Bedanya, tumbuh kembang aksara dipengaruhi oleh hal-hal berbau mistis. Di balik itu ialah proses yang kita semua alami, ibarat mendapati sisi kelam dunia yang ditunjukkan dikala Saras memergoki tuyul sebagai pelaris warung bakso, memanfaatkan kelebihan demi menolong orang lain (atau hantu untuk film ini), hingga yang paling relatable yakni berdamai dengan keluarga. Pun informasi seputar pergaulan cukup umur termasuk pesan anti-bullying turut disuarakan meski presentasinya tergolong standar.

Secara garis besar, film ini terbagi dalam tiga fragmen yang mengetengahkan relasi Saras dan para arwah: persahabatannya dengan bocah pria di masa kecil, curahan hati Dinda (Frislly Herlind) si korban penindasan, dan perjuangan evakuasi yang dilakukan Saras. Ketiganya dijembatani konflik Saras dan ibunya. Masalahnya, dua tuturan awal kekurangan “magnet”. Kisah pertama berlalu bagai tengah mendengarkan pembacaan dongeng minim rasa akhir kurangnya penonton mengenal mereka yang terlibat, pun minim tensi ketika kejutan diungkap terlebih dahulu. Kisah kedua tertolong dikala Dayu Wijanto kembali tampil meyakinkan lewat gestur, ucapan, dan tatapan mata yang penuh pancaran kasih sayang seorang ibu. 
Fragmen terakhir ialah bagaimana semestinya keseluruhan Mereka Yang Tak Terlihat digarap. Ketegangan, kengerian, kejutan, dan terpenting emosi berhasil disatukan. Penyutradaraan Billy mencapai puncaknya di sini, memainkan tensi melalui nuansa kekacauan bertempo dinamis pula mempertahankan kesan realistis berkat pertolongan akting Estelle Linden yang meremukkan perasaan. Momen ini berpotensi jadi pengantar tepat menuju penutup andai konklusinya dikemas rapi. Dengan sisa durasi terbatas, terlalu banyak hal dipaksa menyatu, menghasilkan pedoman narasi berantakan. Dan pilihan ending-nya sungguh suatu cara malas guna memancing haru.

Upaya membuat sajian atmosferik belum sepenuhnya sukses, tapi keputusan menekan jump scare seminimal mungkin patut diapresiasi, alasannya ialah itulah senjata sekaligus kelemahan utama Billy Christian di karya-karya sebelumnya. Juga tidak seutuhnya gagal, lantaran tata bunyi yang memperdengarkan tangisan, erangan, hingga tawa hantu nyatanya tidak mengecewakan mengerikan. Kalau eksploitasi penyiksaan dalam horor disebut “torture porn“, maka parade 67 makhluk astral (entah jumlah ini tepat atau tidak) film ini, setidaknya pada setengah durasi awal ialah “ghost porn“. Tak seberapa mengerikan, tapi cukup mengasyikkan.