November 28, 2020

Midway (2019)

Didedikasikan untuk prajurit Amerika Serikat dan Jepang yang terlibat Pertempuran Midway, film ini punya niat baik, ingin mengangkat perspektif yang adil tanpa menyudutkan pihak mana pun (baca: Jepang). Tidak ada nasionalisme buta, tidak ada kibaran The Stars and Stripes tiap beberapa menit sekali (I’m looking at you Michael Bay), minim antagonisasi, sementara beberapa prajurit berperang alasannya yaitu “tuntutan pekerjaan”, beberapa lainnya didorong hasrat balas dendam. Seharusnya Midway bisa jadi alternatif blockbuster bertema Perang Dunia II.

Tapi ini yaitu karya Roland Emmerich, yang beberapa tahun belakangan, lewat Anonymous (2011) dan Stonewall (2015), ingin keluar dari zona nyaman namun berujung kegagalan. Ditulis naskahnya oleh Wes Tooke, mirip judulnya, Midway ibarat perjuangan Emmerich mengambil jalan tengah dengan tetap menampilkan kehancuran masif bombastis andalannya sembari menguatkan cerita. Poin kedua sayangnya kurang berhasil.

Tokoh sentralnya yaitu Letnan Dick Best (Ed Skrein), pilot angkatan maritim Amerika Serikat yang dikenal lewat kenekatannya. Dick pun jadi salah satu ujung tombak serangan balik Amerika pasca Jepang membombardir Pearl Harbor, yang turut menewaskan sobat Dick. Tapi ini bukan kisah Dick seorang. Sepanjang 138 menit durasi, Midway hendak memaparkan peperangan dari bermacam-macam sisi. Ada Edwin T. Layton (Patrick Wilson) selaku inteligen pengumpul gosip diam-diam Jepang yang bertugas di bawah komando Admiral Chester Nimitz (Woody Harrelson), juga Letnan Kolonel Jimmy Doolittle (Aaron Eckhart) yang memimpin serbuan ke Tokyo (disebut “Serbuan Doolittle”).

Belum lagi membahas nama-nama yang sempat diberi spotlight singkat mirip para prajurit dalam kapal selam atau Bruno Gaido (Nick Jonas) lewat agresi heroiknya menembak jatuh pesawat musuh seorang diri. Jonas merupakan bintang film bertalenta. Bukan saja alasannya yaitu menerima salah satu momen paling badass, keberhasilannya menghidupkan sisi carefree Bruno yang tak takut menantang janjkematian menciptakan saya berharap karakternya diberi porsi lebih.

Sementara di kubu Jepang, Admiral Isoroku Yamamoto (Etsushi Toyokawa), Rear Admiral Tamon Yamaguchi (Tadanobu Asano), dan Vice Admiral Chuichi Nagumo (Jun Kunimura) diberi porsi lebih. Tapi apakah itu cukup sebagai jalan menyimbangkan sudut pandang? Sayangnya tidak. Mampu menggambarkan prajurit Jepang bukan sebagai pembunuh berdarah dingin, itu betul. Pun filmnya menimbulkan tingginya harga diri tentara Jepang untuk melandasi sebuah momen sentimentil yang (diharapkan) menyentuh hati. Tapi itu saja tidak cukup. Berbeda dengan lawannya dari Amerika, kita urung diajak mengunjungi ruang intim prajurit-prajurit Jepang. Mereka masih figur-figur tak bernyawa yang selalu sibuk mengatur strategi. Artinya, Midway gagal menyeimbangkan perspektif.

Mungkin beberapa pembaca ingat bahwa saya bukan penggemar Dunkirk-nya Nolan. Tapi bagaimana naskahnya menata dongeng dari bermacam-macam sudut pandang supaya seimbang patut dipuji. Emmerich dan Tooke mestinya bisa mengambil pola soal cara membagi fokus. Metode yang Midway pakai kolam sekadar asal menyelipkan, membiarkan tercipta distraksi akhir banyaknya huruf tiba dan pergi, termasuk yang substansinya pantas dipertanyakan. Misalnya kehadiran sutradara John Ford (Geoffrey Blake) yang terjebak di baku tembak kala mengambil gambar untuk dokumenter pendek The Battle of Midway (1942). Ford tidak memberi pengaruh pada sentral dongeng sekaligus bakal membingungkan bagi penonton yang absurd terhadapnya.

Ketika ceritanya setengah matang, bagaimana Emmerich menyusun peperangan (mayoritas berupa pertempuran udara) justru mengundang decak kagum. Bermodalkan $100 juta, yang menjadikannya salah satu film indie termahal (Emmerich sempat kesulitan mencari dana), tercipta tiga set pieces besar: Serangan ke Pearl Harbor, Serbuan Doolittle, dan tentunya Pertempuran Midway. Di Pearl Harbor, Emmerich menyajikan horor di tengah lautan api, yang tambah mencekam ketika adegan sesaat berpindah mengatakan seorang bocah yang menyaksikan pertempuran (baca: pembantaian) tersebut dari kejauhan. Sejenak saya mencicipi teror yang dialami “orang luar”.

Sedangkan pada Pertempuran Midway selaku puncak, Emmerich mengajak kita memasuki kokpit para dive bomber, khususnya Dick Best, yang berani menukik jauh lebih rendah ke arah sasaran dibanding rekan-rekannya. Serupa pengalaman menaiki roller coaster—hanya saja kali ini dibarengi ledakan dan kepulan asap—Emmerich bisa menciptakan penontonnya menahan napas, mencicipi bagaimana mencekamnya agresi para pilot bertaruh nyawa menghindari hujan peluru, terjun mendekati sasaran sedekat mungkin, dan mesti cerdik mengatur timing kapan harus meluncurkan bom untuk kemudian kembali lepas landas di detik-detik terakhir, berharap tidak turut jadi korban ledakan yang ia ciptakan.

Ada paralel antara perjalanan karakternya dengan Emmerich sendiri. Dari seorang pilot sombong, Dick Best tertekan kala ditunjuk memimpin skuadron, dan berhasrat menebus “dosa” alasannya yaitu beberapa anak buahnya tewas. Demikian pula Layton, yang bekerja tanpa henti hingga jarang meluangkan waktu bersama istri akhir dihantui rasa bersalah “membiarkan” Jepang meledakkan Pearl Harbor. Melalui Midway, mungkin Roland Emmerich ingin menebus kegemarannya bertahan di zona nyaman menciptakan tontonan-tontonan brainless bombastis. Untuk itu, ia belum berhasil. Dan rasanya Emmerich perlu berhenti menebusnya. Pertama, alasannya yaitu hal tersebut bukan kekeliruan, dan kedua, sebagaimana ia buktikan (lagi) di sekuen peperangan film ini, Emmerich yaitu hebat di bidang tersebut.