December 1, 2020

Miss & Mrs. Cops (2019)

Seperti kebanyakan buddy cop, saya hanya berharap dihibur oleh Miss & Mrs. Cops (memakai judul Girl Cops di Korea Selatan), sehingga terasa mengejutkan ketika kisahnya bisa tampil cukup menggigit. Pada masa di mana masalah Seungri masih menjadi topik panas ditambah isu menyedihkan mengenai percobaan bunuh diri Goo Hara, relevansi debut penyutradaraan Jung Da-won ini pun melambung tinggi.

Sudah jadi pengetahuan umum jikalau Korea Selatan bukanlah nirwana bagi perempuan untuk menjalani hidup. Tengok apa yang menimpa dua tokoh utama film ini. Mi-yeong (Ra Mi-ran) sempat dikenal sebagai detektif berprestasi, hingga ia menikahi laki-laki tak berkhasiat yang gagal menjadi pengacara, mempunyai anak, kemudian dipaksa pindah ke belakang meja di divisi pelayanan masyarakat. Sementara adik iparnya, Ji-hye (Lee Sung-kyung) mesti bertugas bersama pria-pria yang menganggap pelecehan seksual yaitu masalah remeh. Pasca duduk kasus beruntun akhir kegagalannya menahan emosi, Ji-hye dipindahkan ke divisi Mi-yeong. Bersama mereka ada pula Jang-mi (Choi Soo-young), mahir komputer kelas satu yang menggunakan kemampuannya untuk meretas situs demi mendapat tiket konser BTS baris depan.

Keseharian di kantor tampak suram bagi mereka, hingga seorang gadis tiba untuk memasukkan laporan. Dia terlihat ketakutan, dipenuhi keraguan, sebelum hasilnya mengurungkan niatnya, kemudian secara sengaja menabrakkan diri ke truk yang melaju kencang. Dia koma, tapi berkat Jang-mi, mereka berhasil mendapat informasi dari telepon genggam sang gadis, mengungkap bahwa ia merupakan salah satu korban pelecehan seksual dan cybercrime yang tengah marak terjadi.

Modus operandi para pelaku selalu sama: Berburu korban di kelab malam, membiusnya, memperkosa sambil merekam tindakan kejam itu, kemudian mengunggah videonya. Banyak korban menentukan bunuh diri alasannya yaitu tiada yang bisa dilakukan selain menyalahkan diri sendiri, tatkala kepolisian enggan menanggapi masalah tersebut secara serius. “Kamu ikut emosional alasannya yaitu kau juga seorang perempuan kan?”, begitu kata salah satu rekan Ji-hye.

Tema di atas terperinci tergolong kelam di tengah menu buddy comedy penuh dagelan “bodoh”. Sebuah perjuangan yang berani dari Jung Da-won selaku penulis naskah, walau seringkali keberanian itu jadi senjata makan tuan tatkala perpindahan antara dua tone yang bertolak belakang berlangsung kurang mulus. Potensi beberapa humor pun terbuang, alasannya yaitu kerap ditempatkan di waktu yang tak sesuai, segera sehabis situasi serius bahkan gelap.

Beruntung, soal komedi, Miss & Mrs. Cops punya amunisi lengkap, sehingga tetap bisa memancing banyak tawa, walau keputusan Jung Da-won menerapkan gaya-gaya menyerupai quick cuts dan split screen guna menghadirkann dinamika justru sering mengganggu anutan penceritaan. Jangkauan humornya cukup luas, dari slapstick, komedi situasi over-the-top, hingga cameo menghibur dari dua pemain drama besar Korea Selatan. Tapi tiga aktris utamanya tetaplah jiwa film ini.

Mi-ran, Sung-kyung, dan Soo-young punya chemistry solid selaku modal menampilkan interaksi berwarna nan menggelitik yang tidak terbatasi ruang sempit daerah aksara mereka dipaksa berdesakan di kantor. Bahkan lokasi tersebut termasuk faktor penambah kelucuan. Sebagai SONE (fans SNSD), kejenakaan Soo-young tidaklah mengejutkan saya. Sung-kyung pun merupakan aktris berbakat yang bisa menciptakan penonton tertawa dan tersentuh melalui ekspresi. Sementara Mi-ran mengambarkan jikalau usia hanya angka belaka lewat keberhasilannya memerankan polisi tangguh. Berkat ketiga aktris (plus isu yang diangkat), gampang bagi saya memedulikan nasib karakternya.

Kejahatan seksual terhadap wanita, bagaimana laki-laki memandang remeh masalah tersebut, serta abdnegara yang sekadar mengutamakan jabatan dan evaluasi kerja merupakan beberapa isu penting yang diangkat Miss & Mrs. Cops. Penyampaiannya mungkin tanpa kesubtilan, tapi melihat kondisi terkini, penuturan subtil bukanlah urgensi. Bagaimana membangunkan kesadaran masyarakat yaitu hal terpenting.