November 26, 2020

Misteri Dilaila (2019)

Misteri Dilaila memperoleh hype sebagai film Malaysia pertama dengan dua versi yang dirilis di bioskop secara bersamaan. Tentu pertanyaan terbesar bagi penonton adalah, “Versi mana yang lebih unggul dan sebaiknya ditonton?”. Bagi saya tidak dua-duanya.

Masing-masing versi menyimpan perbedaan di thrid act, yang berjalan sekitar 15 menit (total durasi versi pertama 81 menit, versi kedua 82 menit) dan dibangun menurut prinsip tunggal: Memberi twist sebanyak serta semengejutkan mungkin, meski kebijaksanaan mesti dibuang jauh. Bahkan, semakin Syafiq Yusof (Abang Long Fadil, KL Special Force)—selaku sutradara sekaligus penulis—berusaha menciptakan konklusinya mengagetkan, semakin bertambah lubang dalam alurnya.

Premis Misteri Dilaila sesungguhnya menarik. Meminjam formula thriller-misteri yang kemungkinan bakal mengingatkan pada karya-karya Alfred Hitchcock (ambiguitas identitas, elaborate scheme, dan lain-lain), kisahnya terjadi dikala Jefri (Zul Ariffin) dan sang istri, Dilaila (Elizabeth Tan), mengunjungi villa warisan orang renta Dilaila—yang terlihat menawan berkat kerja memukau tim artistik. Berniat menghabiskan waktu bersama, pasca pertengkaran di malam hari, Jefri justru terbangun keesokan paginya untuk mendapati sang istri telah lenyap.

Dibantu Inspektur Azman yang diperankan Rosyam Nor melalui performa menghibur khususnya kala ia melemparkan beberapa celetukan bernada sarkasme menggelitik, Jefri memulai pencariannya. Tapi tak usang berselang, Imam setempat (Namron) tiba bersama Dilaila, (berikutnya dipanggil “Dilaila II”) yang kabur ke kontrakannya sehabis bertengkar dengan Jefri. Alih-alih lega, Jefri malah kebingungan, alasannya sosok di hadapannya itu punya wajah berbeda dari Dilaila yang ia kenal.

Jefri bersikeras bahwa Dilaila II (Sasqia Dahuri) merupakan penipu, dan kita sebagai penonton pun tahu wajahnya berbeda. Tapi tiada satu pihak pun mempercayai Jefri, termasuk Inspektur Azman yang lama-lama menganggapnya gila. Pemicunya yaitu ketidakmampuan Jefri pertanda kepalsuan Dilaila II. Seisi villa tak memasang foto wajahnya, sementara telepon genggam Jefri ikut menghilang bersama istrinya. Berikutnya, Misteri Dilaila mengajak kita menebak, apakah Jefri memang kehilangan kewarasan atau justru korban rencana jahat terstruktur.

Zul Ariffin menjalankan tugasnya dengan cukup baik memerankan laki-laki kebingungan lewat gaya akting menghibur. Seolah sang pemeran sadar kalau tidak sedang berada di tengah film serius dan menentukan bersenang-senang menerapkan akting penuh letupan, walau naskah buatan Yusof gemar memaksanya berteriak dan merengek memohon pemberian Inspektur Azman, yang lama-kelamaan terdengar menyebalkan. Pun Jefri kerap mengambil keputusan terbelakang yang tambah menyudutkannya. Jefri mungkin jarang menonton horor, sehingga tak tahu salah satu “aturan” dasar: Jika menemukan suatu hal penting, apa pun yang terjadi, jangan meninggalkannya, atau hal itu bakal hilang.

Penyutradaraan Yusof membawa Misteri Dilaila bergerak solid berkat tempo dinamis penyokong dongeng yang selalu meninggalkan tanda tanya. Alhasil, alurnya padat, bahkan tatkala di sela-sela misteri, unsur horor supranatural minim substansi dipaksakan masuk. Jump scare-nya, biarpun lagi-lagi dibungkus tata bunyi berlebihan, rupanya cukup efektif melahirkan imbas kejut, didukung riasan untuk formasi hantu yang disturbing.

Sekarang mari membicarakan dua varian ending-nya. Saya menonton versi pertama dahulu, kemudian mendapati betapa versi tersebut penuh lubang. Eksistensi elemen horornya dijelaskan secara bodoh, sedangkan pembagian terstruktur mengenai twist tentang identitas Dilaila II tampil menggelikan akhir mengandalkan sederet ketidaksengajaan dan variabel yang tidak mungkin dikontrol biar bisa terjadi sedemikian rupa. Kejanggalan malah bertambah sehabis fakta gotong royong diungkap.

Namun ketika saya merasa versi pertamanya buruk, versi keduanya menampilkan keburukan yang lebih memabukkan. Kejutannya makin konyol, demikian pula karakternya yang menggiring diri mereka sendiri ke dalam situasi rumit hanya untuk memperoleh hal sederhana. Saya berasumsi, Yusof menulis versi pertama dulu, kemudian memikirkan cara biar versi kedua jauh berbeda. Dia perlu meluangkan lebih banyak perjuangan memperbaiki konklusinya ketimbang sibuk menerapkan mask transition (transisi adegan menggunakan objek bergerak), walau harus diakui, gaya penyuntingan itu merupakan pilihan artistik menarik.

VERSI 1

VERSI 2