October 27, 2020

My Generation (2017)

Pada 1965, lewat lagu My Generation, The Who mewakili perlawanan kaum muda. Meneriakkan “People try to put us down. Just because we get around” sebagai protes ketika pemegang otoritas pun generasi terdahulu menganggap semangat Baby Boomers yang menyulut perubahan kultural yaitu kebejatan mengganggu. 52 tahun berselang, Upi merilis film terbarunya, juga berjudul My Generation. Mengusung tagline “No one can stop us“, giliran milenial bersuara. Seni cenderung mencerminkan zaman. Membandingkan dua tumpuan di atas, sanggup diasumsikan benturan antar-generasi merupakan bundar yang selalu berulang. Generasi bau tanah merasa yang muda keblinger, sebaliknya perjaka jengah akan kekakuan sikap tetua. Pun bukan tidak mungkin bila muda-mudi macam empat protagonis film ini   Zeke (Bryan Warow), Konji (Arya Vasco), Suki (Lutesha), dan Orly (Alexandra Kosasie)   kelak bakal dipandang terbelakang oleh anak-anaknya. Menarik disimak cara Upi menangani kompleksitas tersebut.

Zeke, Konji, Suki, dan Orly terpaksa mengubur harapan berlibur ke Bali jawaban dieksekusi para orang bau tanah pasca video yang menampilkan keempatnya mengkritik sistem pendidikan sekolah serta orang bau tanah berujung viral. Merasa terlalu keren untuk patuh dan membisu di rumah, mereka menentukan beraktivitas sesuka hati, entah mendatangi roller disco atau menerobos atap gedung sampai dikejar satpam. Serahkan pada Upi untuk merangkai parade letupan semangat masa muda yang praktis menciptakan penonton tersenyum, karam dalam keasyikan. Tidak ketinggalan memeriahkan suasana adalah keramaian warna sinematografi Muhammad Firdaus serta barisan musik hip-hop dengan lirik yang mewakili kebebasan pikir pula tutur tokohnya.
Walau sama-sama debutan, empat aktor utama nyatanya sanggup memberi cukup energi guna menggerakkan filmnya. Dinamika dua pria, Bryan Warrow si biang onar dan Arya Vasco yang lebih berhati-hati, Alexandra Kosasie yang senantiasa mencengkeram atensi ketika melontarkan komentar sinis, sampai Lutesha yang bisa mewakili sisi kelam remaja dengan depresi. Sementara di jajaran pendukung, Tyo Pakusadewo dan Karina Suwandi sebagai orang bau tanah Zeke memberi penampilan terbaik, menghadirkan dua sisi sedih kontradiktif: kediaman meresahkan dan luapan pilu menusuk. Ceramah bertubi-tubi Joko Anwar (ayah Konji), juga eksentriknya Indah Kalalo (ibu Orly) pun tak kalah mencuri perhatian.

Tentu My Generation bukan mengenai senang-senang semata. Sejak menit awal, tanpa basa-basi kuartet protagonisnya eksklusif menyuarakan isi hati yang pasti segera diamini golongan penonton masa kini. Curahan tersebut memanaskan konflik mereka dengan orang bau tanah masing-masing. Zeke merasa keberadaannya tak diharapkan, Konji selalu diceramahi perihal norma, Suki lelah dianggap memalukan nama keluarga, sementara Orly risi mendapati sang ibu yang terlampau eksis di media umum dan memacari laki-laki berusia jauh lebih muda. Pertanyaannya, seberapa cerdik Upi mengolah bentrokan generasi ini?
Di satu titik karakternya mengutarakan perspektif kalau sikap protektif orang bau tanah dikarenakan sewaktu muda dahulu berbuat hal serupa anak-anaknya. Ada kesadaran seputar siklus berulang sikap tiap generasi. Sayangnya Upi urung menggali soal itu. Padahal bisa muncul titik temu, solusi berupa pemahaman kedua belah pihak bahwa orang bau tanah pernah muda dan sama liarnya, sedangkan milenial suatu hari (mungkin) akan mengalami perubahan pola pikir seiring pendewasaan. Akhirnya My Generation berhenti di tataran “kado bagi milenial”. Tidak salah, tapi berpotensi membahas perihal generasi secara lebih luas.

Kelemahan My Generation memang bertumpuk di resolusi. Seiring konflik memanas, berkurangnya keceriaan yaitu proses natural. Memasuki paruh kedua, nuansa kelam menyeruak, namun alih-alih menguatkan bobot emosi, justru melucuti daya tarik jawaban kurang cakapnya Upi menjalin dinamika dramatik. Bertambah kelam tanpa bertambah dalam. Satu-satunya momen solid yaitu ketika orang bau tanah Suki menemukan “petunjuk” terkait kondisi mentalnya. Suatu tamparan keras, alasannya selama ini mereka kerap memasuki kamar Suki tapi tak sekalipun menyadari meski semua terpampang jelas. Film mencapai titik nadir begitu menyentuh akhir, sewaktu “konklusi ajaib” jadi pilihan. Selesainya satu perselisihan tiba-tiba turut menuntaskan duduk kasus lain walau tak saling bersinggungan. Langkah penggampangan yang mestinya tidak digunakan untuk menutup formasi problematika rumit.